fenomena cuci otak kembali hangat dibicarakan dalam ruang publik... saya gak mo kalah :p mari ikut nimbrung!
tau kan lelucon "otak orang indonesia mahal harganya di pasar-organ tubuh-global"? konon manusia secara umum hanya menggunakan 12 persen kekuatan otaknya. di indonesia, konon pula orangnya rata-rata menggunakan kurang dari 12 persen kemampuan otaknya... "konon" yang sulit dibantah kalo kita melihat tayangan-tayangan "bermutu" di stasiun televisi lokal :P anyhow, saya tetap bangga kok jadi orang indonesia ;>
otak yang relatif jarang bekerja berat inilah yg harganya mahal, menawarkan kemudahan untuk diformat ulang dan memiliki kapasitas memori kosong relatif lebih besar. mungkin ini juga yang jadi alasan maraknya praktik pencucian otak di negara kita saat ini. (praktik yang sebenarnya sudah lama, tapi kembali hangat dibicarakan saat ini)
menurut saya dan adik saya (pakar psikoanalisis paruh-waktu, hidup senang-senang penuh-waktu)... selain otak yang jarang dipake, ada satu lagi jenis otak yang jadi sasaran empuk para pencuci otak. yaitu, otak piktor (pikiran kotor). semua tentu masih ingat dengan anggota dewan terhormat yang tertangkap kamera sedang nonton (dengan tidak sengaja, konon) film biru saat sidang. bayangkan... bila dia mewakili berapa ribu konstituen, berapa besar potensi pangsa pasar industri cuci otak di indonesia. belum lagi potensi pasar di kalangan mahasiswa kosan yang rajin mengkoleksi materi-materi biru.
jadi singkat saja... tulisan ini tidak bermaksud menghina orang indonesia, karena saya termasuk dalam kedua kategori pemakaian otak tersebut di atas :p tidak ada yang lebih lucu dari pada mentertawakan diri sendiri...
waspadalah! waspadalah! waspadalah!
ini akan menjadi kumpulan tanpa aturan, diambil dari banyak kertas, yang telah kukutip di sini, dengan harapan aku akan mengaturnya kemudian menurut pokok-pokok yang kubahas; dan aku yakin aku pasti mengulang pokok yang sama beberapa kali; untuk ini, oh pembaca, jangan salahkan aku... (Leonardo)
09 Mei 2011
08 Mei 2011
blades of glory
bukan film bermutu :p tapi lumayanlah buat ketawa-ketiwi ringan... kolaborasi will ferrel dan jon heder dalam film ini bisa dipastikan lebih lucu daripada salah satu seri dari national lampoon's "van wilder: the rise of taj." meskipun bukan aktor favoritku, tapi aku kayaknya udah cukup sering liat filmnya will ferrel, tapi kalo jon heder, aku cuma inget aktingnya dalam sitkom "the rock"...
ok, tentang filmnya... sekilas film ini sangat berbau homo :p silahkan membayangkan dua orang pria dalam balutan spandex melakukan figure-skating berpasangan (yang biasanya dilakukan oleh sepasang pria-wanita). tetapi kayaknya bumbu homo ini cuma jadi semacam sindiran aja :p
dari segi cerita gak ada yang berkesan... biasa aja. intinya adalah dua orang yang tadinya berseteru dalam perlombaan figure-skating (solo) akhirnya harus bekerja sama sebagai pasangan. dan ending-nya bisa dengan mudah kita tebak :) sebagai film bergenre komedi ringan, apalagi yang bisa diharapkan :p
tidak disarankan untuk membeli bahkan dvd bajakan dari film ini... pinjem aja ama temen :p
ok, tentang filmnya... sekilas film ini sangat berbau homo :p silahkan membayangkan dua orang pria dalam balutan spandex melakukan figure-skating berpasangan (yang biasanya dilakukan oleh sepasang pria-wanita). tetapi kayaknya bumbu homo ini cuma jadi semacam sindiran aja :p
dari segi cerita gak ada yang berkesan... biasa aja. intinya adalah dua orang yang tadinya berseteru dalam perlombaan figure-skating (solo) akhirnya harus bekerja sama sebagai pasangan. dan ending-nya bisa dengan mudah kita tebak :) sebagai film bergenre komedi ringan, apalagi yang bisa diharapkan :p
tidak disarankan untuk membeli bahkan dvd bajakan dari film ini... pinjem aja ama temen :p
neurosis dan praktik-praktik relijius
uhm... sedang membaca sebuah buku, kayaknya ada kutipan yang bagus :p sapa tau bisa memberikan anda yang berniat untuk menyeberang menjadi ateis sebuah motivasi tambahan ;>
dikatakan dalam buku ini bahwa freud "bersama dengan karl marx dan friedrich nietzsche merupakan sumber utama bagi ateisme teoretis dewasa ini." pun dalam buku ini, penulis mengakui bahwa "dalam bidang ilmu-ilmu manusia Freud membuka banyak perspektif baru, sehingga pendapatnya selalu pantas didengarkan, juga kalau ia berbicara tentang agama." terlepas dari pendapat pribadi sang penulis (mengenai freud dan psikoanalisis), paling tidak dalam buku ini ada 3 bab (dari 10 bab) yang membahas tentang freud.
freud mengamati persamaan antara praktik relijius dan perbuatan neurotis (khususnya penderita neurosis obsesional atau neurosis obsesif-kompulsif). neurosis obsesional adalah gangguan jiwa yang memaksa pasien dalam batinnya untuk membayangkan, memikirkan atau melakukan hal-hal yang ia sendiri menganggap aneh atau salah.
beberapa persamaan itu menurut freud adalah: keduanya mementingkan seluruh ritual dengan segala detailnya; kekhawatiran agar jangan sampai satu unsur pun diabaikan; kecenderungan meruwetkan pelaksanaannya; kecemasan bila salah satu bagian dari ritual dilampaui; keyakinan bahwa pelaksanaan ritual melindungi terhadap hukuman dari luar. semuanya berlangsung pada taraf tak sadar.
freud sampai pada kesimpulan bahwa neurosis obsesional merupakan semacam agama pribadi, sedangkan agama dapat dianggap sebagai neurosis umum: "orang boleh memberanikan diri menganggap neurosis obsesional sebagai imbangan patologis bagi proses terbentuknya suatu agama dan melukiskan neurosis sebagai suatu relijiusitas individual dan agama sebagai neurosis obsesional yang universal."
nah kalo mo lebih lengkap, silahkan membaca buku Panorama Filsafat Modern, penulis K. Bertens :) apapun pilihan relijius (atau non-relijius) anda...
dikatakan dalam buku ini bahwa freud "bersama dengan karl marx dan friedrich nietzsche merupakan sumber utama bagi ateisme teoretis dewasa ini." pun dalam buku ini, penulis mengakui bahwa "dalam bidang ilmu-ilmu manusia Freud membuka banyak perspektif baru, sehingga pendapatnya selalu pantas didengarkan, juga kalau ia berbicara tentang agama." terlepas dari pendapat pribadi sang penulis (mengenai freud dan psikoanalisis), paling tidak dalam buku ini ada 3 bab (dari 10 bab) yang membahas tentang freud.
freud mengamati persamaan antara praktik relijius dan perbuatan neurotis (khususnya penderita neurosis obsesional atau neurosis obsesif-kompulsif). neurosis obsesional adalah gangguan jiwa yang memaksa pasien dalam batinnya untuk membayangkan, memikirkan atau melakukan hal-hal yang ia sendiri menganggap aneh atau salah.
beberapa persamaan itu menurut freud adalah: keduanya mementingkan seluruh ritual dengan segala detailnya; kekhawatiran agar jangan sampai satu unsur pun diabaikan; kecenderungan meruwetkan pelaksanaannya; kecemasan bila salah satu bagian dari ritual dilampaui; keyakinan bahwa pelaksanaan ritual melindungi terhadap hukuman dari luar. semuanya berlangsung pada taraf tak sadar.
freud sampai pada kesimpulan bahwa neurosis obsesional merupakan semacam agama pribadi, sedangkan agama dapat dianggap sebagai neurosis umum: "orang boleh memberanikan diri menganggap neurosis obsesional sebagai imbangan patologis bagi proses terbentuknya suatu agama dan melukiskan neurosis sebagai suatu relijiusitas individual dan agama sebagai neurosis obsesional yang universal."
nah kalo mo lebih lengkap, silahkan membaca buku Panorama Filsafat Modern, penulis K. Bertens :) apapun pilihan relijius (atau non-relijius) anda...
14 Maret 2011
those who can't, teach :-D
lepas posting terakhir.. kemudian terlintas satu pikiran. sebagai laki-laki yang masih bujangan & belum punya anak, sepertinya saya akan jadi orang terakhir di dunia yang dimintai nasehat seputar mendidik anak :-D. jadi inget salah satu sindiran "those who cant't, teach" ..
tapi, saya sungguh tertarik pada seputar masalah anak & perkembangannya. jadi, anggap aja ini sebagai perspektif unik dari seorang bujangan :-).
saat ini telah banyak ditulis panduan seputar perkembangan anak, tentunya jauh lebih banyak & lebih mudah diakses dibandingkan tahun 80an ketika saya kecil :-D. menurut saya, calon orang tua atau guru atau siapapun yang berkepentingan, harus berusaha keras untuk menggali informasi sebanyak mungkin.. jadi kita gak boleh malas membaca, malu bertanya, atau usaha yang lain. saya percaya tidak ada investasi (waktu, uang, tenaga) kita yang sia-sia demi (calon) anak (didik) kita.
serunya.. kadang ada anjuran atau panduan yang bertentangan :-D. well, kalo mentok, kayaknya mending percaya dengan naluri & mendengarkan kata hati :-). terlalu banyak aturan kadang juga membuat saya pusing, atau malah jadi lupa.
ketika menghadapi masalah-masalah di atas, yang saya lakukan adalah: saya mencoba menganalisa diri sendiri. saya akan bertanya pertama kali kepada 'anak kecil' di dalam diri saya. kemudian setelah mendapatkan 'jawaban' yang baik (menurut saya).. langkah berikutnya adalah langsung mempraktikkan apa-apa yang baru saya pelajari dengan bertahap (sesuai kemampuan).
dalam praktik.. mungkin tidak akan semudah yang kita baca atau pelajari :-). tapi jangan khawatir, pertama kita harus bisa menerima fakta bahwa kita bukan manusia yang sempurna. pun bila kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.. sabarlah! proses perubahan bisa memakan waktu yang lama, kita juga harus menghargai kecepatan 'prosesor' yang unik dari tiap anak.
bahkan ketika kita (merasa) gagal.. jangan bersedih! JANGAN! saya percaya, niat yang baik & usaha yang sungguh, pastilah akan berhasil! :-) sekecil apapun pencapaian kita, kita harus tetap bersyukur.
saya beruntung diberi Tuhan kesempatan untuk belajar & 'bereksperimen' seputar masalah anak sebelum (Insya Allah) dikaruniai anak :-D. saya juga merasa beruntung diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak yang istimewa. saya akui tidak semua pengalaman itu menyenangkan (paling tidak pada awalnya).
saya berdoa: dengan semua keterbatasan, semoga saya tidak akan pernah melukai satu orang anakpun!
tapi, saya sungguh tertarik pada seputar masalah anak & perkembangannya. jadi, anggap aja ini sebagai perspektif unik dari seorang bujangan :-).
saat ini telah banyak ditulis panduan seputar perkembangan anak, tentunya jauh lebih banyak & lebih mudah diakses dibandingkan tahun 80an ketika saya kecil :-D. menurut saya, calon orang tua atau guru atau siapapun yang berkepentingan, harus berusaha keras untuk menggali informasi sebanyak mungkin.. jadi kita gak boleh malas membaca, malu bertanya, atau usaha yang lain. saya percaya tidak ada investasi (waktu, uang, tenaga) kita yang sia-sia demi (calon) anak (didik) kita.
serunya.. kadang ada anjuran atau panduan yang bertentangan :-D. well, kalo mentok, kayaknya mending percaya dengan naluri & mendengarkan kata hati :-). terlalu banyak aturan kadang juga membuat saya pusing, atau malah jadi lupa.
ketika menghadapi masalah-masalah di atas, yang saya lakukan adalah: saya mencoba menganalisa diri sendiri. saya akan bertanya pertama kali kepada 'anak kecil' di dalam diri saya. kemudian setelah mendapatkan 'jawaban' yang baik (menurut saya).. langkah berikutnya adalah langsung mempraktikkan apa-apa yang baru saya pelajari dengan bertahap (sesuai kemampuan).
dalam praktik.. mungkin tidak akan semudah yang kita baca atau pelajari :-). tapi jangan khawatir, pertama kita harus bisa menerima fakta bahwa kita bukan manusia yang sempurna. pun bila kita merasa sudah berusaha semaksimal mungkin.. sabarlah! proses perubahan bisa memakan waktu yang lama, kita juga harus menghargai kecepatan 'prosesor' yang unik dari tiap anak.
bahkan ketika kita (merasa) gagal.. jangan bersedih! JANGAN! saya percaya, niat yang baik & usaha yang sungguh, pastilah akan berhasil! :-) sekecil apapun pencapaian kita, kita harus tetap bersyukur.
saya beruntung diberi Tuhan kesempatan untuk belajar & 'bereksperimen' seputar masalah anak sebelum (Insya Allah) dikaruniai anak :-D. saya juga merasa beruntung diberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan anak-anak yang istimewa. saya akui tidak semua pengalaman itu menyenangkan (paling tidak pada awalnya).
saya berdoa: dengan semua keterbatasan, semoga saya tidak akan pernah melukai satu orang anakpun!
10 Maret 2011
tentang anak
bagi Freud, hanya satu orang yang bisa melakukan analisis-diri, yakni Sigmund Freud sendiri. setiap orang lain perlu dianalisis oleh seorang analis dengan menapaki jalan Freud. salah satu tujuan psikoanalisis, menurut Freud adalah mendasari & membentuk cara membesarkan anak.
ok.. saya tidak cukup cerdas untuk mencerna psikoanalisis (atau pun teori perkembangan lainnya) dengan baik secara ilmiah :-D saya hanya mau berbagi sedikit pengalaman pribadi selama 4 tahun terakhir bekerja dengan anak-anak. tapi saya juga tidak akan menafikan intervensi buku, artikel, tv talkshow, seputar masalah anak yang pernah saya baca atau ikuti. jadinya ya.. semacam gado-gado yang isinya penafsiran sederhana saya terhadap psikologi anak (populer) & pengalaman berinteraksi dengan anak-anak, khususnya dalam konteks belajar-mengajar aikido.
karena keterbatasan jumlah karakter, maka tema ini akan saya bagi dalam beberapa posting-an. doakan saya tidak terbentur dinding malas! :-D
sebelumnya.. harus saya akui bahwa pertama kali saya terjun ke dalam dunia anak sebenarnya karena alasan terpaksa, karena motivasi finansial semata. well, bukan berarti saat ini saya tidak butuh uang :-D tetapi paling tidak saat ini saya (merasa) lebih baik dalam menyiapkan materi yang pas & menerapkan pola interaksi dengan anak. saya juga lebih menyadari bahwa sekecil apapun intervensi (latihan aikido kadang hanya berlangsung selama satu jam per minggu) yang saya lakukan dapat memberikan kontribusi positif (atau negatif) terhadap perkembangan anak.
konten beladiri dalam aikido menurut saya terlalu berbahaya untuk diajarkan secara penuh pada usia dini. anak-anak belum memiliki kontrol (baik secara fisik maupun emosi) yang sempurna dalam mengeksekusi teknik aikido sehingga dapat membahayakan teman-teman sepermainan atau dirinya sendiri. sementara konten filosofis atau pesan-pesan moral dalam aikido kadang terlalu 'tinggi' untuk anak-anak (bahkan bagi sebagian peserta didik dewasa, termasuk saya :-D) jadi kita harus menghindari sejauh mungkin penggunaan 'bahasa dewa' di dojo :-).
meskipun demikian.. saya termasuk golongan praktisi aikido yang percaya bahwa anak-anak dapat memperoleh manfaat positif dari latihan aikido, dengan syarat bahwa anak-anak harus mendapatkan perlakuan & materi yang khusus supaya tidak mengkhianati kodrat tertentu mereka sebagai anak (bukan sepenuhnya miniatur orang dewasa).
ok deh.. ampe sini dulu :-D sambung lagi di posting berikutnya..
ok.. saya tidak cukup cerdas untuk mencerna psikoanalisis (atau pun teori perkembangan lainnya) dengan baik secara ilmiah :-D saya hanya mau berbagi sedikit pengalaman pribadi selama 4 tahun terakhir bekerja dengan anak-anak. tapi saya juga tidak akan menafikan intervensi buku, artikel, tv talkshow, seputar masalah anak yang pernah saya baca atau ikuti. jadinya ya.. semacam gado-gado yang isinya penafsiran sederhana saya terhadap psikologi anak (populer) & pengalaman berinteraksi dengan anak-anak, khususnya dalam konteks belajar-mengajar aikido.
karena keterbatasan jumlah karakter, maka tema ini akan saya bagi dalam beberapa posting-an. doakan saya tidak terbentur dinding malas! :-D
sebelumnya.. harus saya akui bahwa pertama kali saya terjun ke dalam dunia anak sebenarnya karena alasan terpaksa, karena motivasi finansial semata. well, bukan berarti saat ini saya tidak butuh uang :-D tetapi paling tidak saat ini saya (merasa) lebih baik dalam menyiapkan materi yang pas & menerapkan pola interaksi dengan anak. saya juga lebih menyadari bahwa sekecil apapun intervensi (latihan aikido kadang hanya berlangsung selama satu jam per minggu) yang saya lakukan dapat memberikan kontribusi positif (atau negatif) terhadap perkembangan anak.
konten beladiri dalam aikido menurut saya terlalu berbahaya untuk diajarkan secara penuh pada usia dini. anak-anak belum memiliki kontrol (baik secara fisik maupun emosi) yang sempurna dalam mengeksekusi teknik aikido sehingga dapat membahayakan teman-teman sepermainan atau dirinya sendiri. sementara konten filosofis atau pesan-pesan moral dalam aikido kadang terlalu 'tinggi' untuk anak-anak (bahkan bagi sebagian peserta didik dewasa, termasuk saya :-D) jadi kita harus menghindari sejauh mungkin penggunaan 'bahasa dewa' di dojo :-).
meskipun demikian.. saya termasuk golongan praktisi aikido yang percaya bahwa anak-anak dapat memperoleh manfaat positif dari latihan aikido, dengan syarat bahwa anak-anak harus mendapatkan perlakuan & materi yang khusus supaya tidak mengkhianati kodrat tertentu mereka sebagai anak (bukan sepenuhnya miniatur orang dewasa).
ok deh.. ampe sini dulu :-D sambung lagi di posting berikutnya..
Langganan:
Postingan (Atom)