10 Mei 2011

a tight six pack, mau?

...are things more easy with a tight six pack?... (twenty something) {yang betul secara tata bahasa tuh more easy atau easier ya?}

dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan dari pihak manapun, aku harus mengakui bahwa aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk bermimpi memiliki "enam pak" yang komplit pada perutku :p dan lebih banyak waktu lagi untuk memproyeksikan mimpi tersebut ke cermin di kamarku :D

definisi perut yang sehat sepertinya tidak meliputi perut kotak-kotak ala sampul majalah men's health... saya juga gak yakin kalo laki-laki (apalagi perempuan) dengan six pack akan lebih mudah mencari pekerjaan atau mencari jodoh, bahkan untuk tampil di sampul majalah pun kita harus bersaing dengan banyak perut kotak yang lain.

menurut saya, album twenty something-nya jamie cullum menggambarkan dengan baik curhat-an laki-laki pada rentang usia 20-an... lagu twenty something-nya sendiri menceritakan seorang sarjana yang baru lulus dan masih bingung mo ngapain setelahnya (rada mirip dengan lagu sarjana muda om iwan fals). salah satu alternatif rencana hidupnya adalah nge-gym untuk mendapatkan perut kotak, dan bertanya apakah hal tersebut akan dapat mempermudahnya menjalani hidup.

well... percaya atau enggak, perut enam pak bukan hanya mimpi pemuda umur 20-an :p aku pernah liat ada orang yang cukup berumur (lebih dari 20-an) dengan perut yang konsisten kotak-kotak.

ok, jadi kita lagi ngomongin apa nih? :p

gini aja... teman-teman, laki-laki atau perempuan, yuk kita jaga lingkar perut kita tetap pada ukuran yang normal! kalo ada yang bisa jadi kotak-kotak, boleh juga :) ... ukuran lingkar perut yang normal emang bukan jaminan hidup yang sehat (apalagi jaminan mendapatkan pekerjaan :p kalo jaminan sosial masih dalam taraf wacana di dpr) tetapi saya percaya bahwa perut yang sehat bisa jadi salah satu jalan untuk menikmati hidup :) percayalah! percayalah! percayalah!

latihan otot perut yuk!

09 Mei 2011

rollerblade downhill

tau rollerblade (merek sebuah inline-skates) kan? aku gak pernah punya :p pun gak bisa menungganginya (atau mengendarainya?)... aku aja baru tau dari om wiki kalo itu nama merek, bukan nama "itu"-nya. mungkin aja ada merek inline-skates yang lain, tapi gak populer di dunia aikido enryukai pastinya :p

well, barusan aku liat aksi berani anak kecil menunggangi (beneran menunggangi lho!) satu (bukan sepasang!) inline-skates (seterusnya kita sebut rollerblade aja yah) melakukan semacam aksi downhill di jalan aspal pinggir kosan yang mulus menurun (atau menanjak dari perspektif lainnya).

menunggangi... karena tubuhnya yang kecil, anak tersebut benar-benar duduk pada bagian atas sepatu (yang cukup keras & kuat ternyata untuk menahan beban), berpegangan pada bagian belakang sepatu (yang meninggi), kedua kaki diangkat sedikit di atas aspal sambil berusaha menyeimbangkan badan. hebatnya kedua anak yang berani ini tidak mengenakan alas kaki atau perangkat keselamatan lainnya (hanya bergantung pada sejumlah malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk menjaga mereka, buat mereka yang percaya) (aku ngebayangin kulit yang terkelupas tergesek aspal, atau anunya bocah yang kejepit sepatu saat meluncur...brrr)

dengan bantuan gaya gravitasi mereka meluncur berdua bersisian menyusuri jalan aspal sejauh sekitar 50 meter. meskipun turunannya tidak terlalu curam, tetapi massa badan kedua bocah tersebut cukup untuk membuat rollerblade melaju kencang. aku perhatikan mereka mengerem dengan sedikit meliuk, atau zigzag, dan setelah agak lambat barulah kedua kaki menginjak aspal (kadang juga dengan bantuan badan, jatuh maksudnya :p)

aku jadi inget salah satu film yang menceritakan tentang sekelompok pemuda afrika yang berpartisipasi dalam sebuah cabang olahraga pada olimpiade musim dingin. lupa judulnya. kalo gak salah mereka berlatih dengan kereta dorong beroda di atas tanah, karena gak ada lapangan es untuk berlatih. well, mungkin bukan analogi yang tepat banget :p tapi paling tidak mewakili kreativitas manusia dalam keterbatasan.

jadi... let's roll! (maksudnya ukemi aja, kan rolling juga :p)

cuci otak, mau?

fenomena cuci otak kembali hangat dibicarakan dalam ruang publik... saya gak mo kalah :p mari ikut nimbrung!

tau kan lelucon "otak orang indonesia mahal harganya di pasar-organ tubuh-global"? konon manusia secara umum hanya menggunakan 12 persen kekuatan otaknya. di indonesia, konon pula orangnya rata-rata menggunakan kurang dari 12 persen kemampuan otaknya... "konon" yang sulit dibantah kalo kita melihat tayangan-tayangan "bermutu" di stasiun televisi lokal :P anyhow, saya tetap bangga kok jadi orang indonesia ;>

otak yang relatif jarang bekerja berat inilah yg harganya mahal, menawarkan kemudahan untuk diformat ulang dan memiliki kapasitas memori kosong relatif lebih besar. mungkin ini juga yang jadi alasan maraknya praktik pencucian otak di negara kita saat ini. (praktik yang sebenarnya sudah lama, tapi kembali hangat dibicarakan saat ini)

menurut saya dan adik saya (pakar psikoanalisis paruh-waktu, hidup senang-senang penuh-waktu)... selain otak yang jarang dipake, ada satu lagi jenis otak yang jadi sasaran empuk para pencuci otak. yaitu, otak piktor (pikiran kotor). semua tentu masih ingat dengan anggota dewan terhormat yang tertangkap kamera sedang nonton (dengan tidak sengaja, konon) film biru saat sidang. bayangkan... bila dia mewakili berapa ribu konstituen, berapa besar potensi pangsa pasar industri cuci otak di indonesia. belum lagi potensi pasar di kalangan mahasiswa kosan yang rajin mengkoleksi materi-materi biru.

jadi singkat saja... tulisan ini tidak bermaksud menghina orang indonesia, karena saya termasuk dalam kedua kategori pemakaian otak tersebut di atas :p tidak ada yang lebih lucu dari pada mentertawakan diri sendiri...

waspadalah! waspadalah! waspadalah!

08 Mei 2011

blades of glory

bukan film bermutu :p tapi lumayanlah buat ketawa-ketiwi ringan... kolaborasi will ferrel dan jon heder dalam film ini bisa dipastikan lebih lucu daripada salah satu seri dari national lampoon's "van wilder: the rise of taj." meskipun bukan aktor favoritku, tapi aku kayaknya udah cukup sering liat filmnya will ferrel, tapi kalo jon heder, aku cuma inget aktingnya dalam sitkom "the rock"...

ok, tentang filmnya... sekilas film ini sangat berbau homo :p silahkan membayangkan dua orang pria dalam balutan spandex melakukan figure-skating berpasangan (yang biasanya dilakukan oleh sepasang pria-wanita). tetapi kayaknya bumbu homo ini cuma jadi semacam sindiran aja :p

dari segi cerita gak ada yang berkesan... biasa aja. intinya adalah dua orang yang tadinya berseteru dalam perlombaan figure-skating (solo) akhirnya harus bekerja sama sebagai pasangan. dan ending-nya bisa dengan mudah kita tebak :) sebagai film bergenre komedi ringan, apalagi yang bisa diharapkan :p

tidak disarankan untuk membeli bahkan dvd bajakan dari film ini... pinjem aja ama temen :p

neurosis dan praktik-praktik relijius

uhm... sedang membaca sebuah buku, kayaknya ada kutipan yang bagus :p sapa tau bisa memberikan anda yang berniat untuk menyeberang menjadi ateis sebuah motivasi tambahan ;>

dikatakan dalam buku ini bahwa freud "bersama dengan karl marx dan friedrich nietzsche merupakan sumber utama bagi ateisme teoretis dewasa ini." pun dalam buku ini, penulis mengakui bahwa "dalam bidang ilmu-ilmu manusia Freud membuka banyak perspektif baru, sehingga pendapatnya selalu pantas didengarkan, juga kalau ia berbicara tentang agama." terlepas dari pendapat pribadi sang penulis (mengenai freud dan psikoanalisis), paling tidak dalam buku ini ada 3 bab (dari 10 bab) yang membahas tentang freud.

freud mengamati persamaan antara praktik relijius dan perbuatan neurotis (khususnya penderita neurosis obsesional atau neurosis obsesif-kompulsif). neurosis obsesional adalah gangguan jiwa yang memaksa pasien dalam batinnya untuk membayangkan, memikirkan atau melakukan hal-hal yang ia sendiri menganggap aneh atau salah.

beberapa persamaan itu menurut freud adalah: keduanya mementingkan seluruh ritual dengan segala detailnya; kekhawatiran agar jangan sampai satu unsur pun diabaikan; kecenderungan meruwetkan pelaksanaannya; kecemasan bila salah satu bagian dari ritual dilampaui; keyakinan bahwa pelaksanaan ritual melindungi terhadap hukuman dari luar. semuanya berlangsung pada taraf tak sadar.

freud sampai pada kesimpulan bahwa neurosis obsesional merupakan semacam agama pribadi, sedangkan agama dapat dianggap sebagai neurosis umum: "orang boleh memberanikan diri menganggap neurosis obsesional sebagai imbangan patologis bagi proses terbentuknya suatu agama dan melukiskan neurosis sebagai suatu relijiusitas individual dan agama sebagai neurosis obsesional yang universal."

nah kalo mo lebih lengkap, silahkan membaca buku Panorama Filsafat Modern, penulis K. Bertens :) apapun pilihan relijius (atau non-relijius) anda...