buatku... lebih mudah untuk menghindari suatu godaan bila akses terhadap godaan tersebut dipersulit, kesempatan yang sempit membuat niat jadi minggat. tapi kalo niat udah kuat, kesempatan bisa dibuat! :D
aku berniat untuk mengatur pola makan alias diet. betul... diet emang bukan cuma monopoli kaum hawa :D lagian banyak orang yang salah tafsir soal diet. diet juga bukan soal menyiksa diri atau tidak menikmati hidup. tapi ya sudahlah... aku gak mau debat-kusir soal definisi diet (paling tidak, enggak sekarang). suka-suka kaulah apa tafsirmu! :D
kembali ke soal program dietku... diet emang butuh niat yang kuat, butuh motivasi yang cukup besar dengan tujuan-tujuan yang spesifik (selain yang utama tentu saja pengetahuan dasar soal nutrisi dan kesehatan). nah di sini masalahku :D kayaknya aku masih lemah pada tiga-bidang di atas :(
program diet biasanya lebih lancar kalo aku lagi di kosan. sementara program diet bisa berantakan kalo lagi libur dan/atau mudik. paling parah hancurnya kalo mudik :D di rumah akses terhadap makanan (meskipun sebenernya tidak banyak pilihan juga) dipermudah. selain itu, pekerjaan di rumah bukanlah olahraga-rutin seperti pekerjaan yang biasa aku lakukan.
menyimpan makanan kecil di kamar dalam jumlah berlebih juga bisa jadi sumber bencana :D meskipun sebenernya tidak berniat ngemil... ngeliat bungkus makanan warna-warni di sudut mata atau mencium harumnya kue-kering dari toples yang setengah terbuka, bisa membuat tangan ini tidak sengaja memungut dan mulut mengemut.
misal... misalnya... misalnya nih... seorang pertapa tinggal di atas gunung yang tinggi atau di pelosok rimba entah di mana. semakin sulit akses terhadap kenikmatan dunia (misalnya Wagyu-Steak atau Mexican-Coffee atau Rendang-Padang) sebenernya semakin mudah buat dia untuk menghindari godaan tersebut (bukan berarti bahwa Steak-Kopi-Rendang adalah makanan terlarang lho :D). kalo butuh waktu tujuh-hari-jalan-kaki dan sementara seorang pertapa adalah penggangguran-tanpa-gaji, jadi sulit banget buat dia untuk punya kesempatan nyicipin Wagyu-Steak (apalagi kalo mo nambah Wine) jadi makin mudah juga buat dia untuk menghindarinya. lebih mudah lagi kalo sebelumnya dia juga belum pernah makan Steak (dan minum Wine) jadi gak punya gambaran sama sekali seputar nikmatnya.
jadi pertapa yang hebat tuh bukan pertapa yang tinggal di dalam rimba lebat, tapi pertapa yang tinggal di tengah kota yang hidup-24-jam! jadi pertapa dan jauh dari segala godaan duniawi emang sulit... lebih sulit lagi hidup bersahaja di tengah-tengah ramainya godaan surga-dunia :)
ini akan menjadi kumpulan tanpa aturan, diambil dari banyak kertas, yang telah kukutip di sini, dengan harapan aku akan mengaturnya kemudian menurut pokok-pokok yang kubahas; dan aku yakin aku pasti mengulang pokok yang sama beberapa kali; untuk ini, oh pembaca, jangan salahkan aku... (Leonardo)
10 Januari 2012
08 Januari 2012
warna-warni akhir 2011 - awal 2012
06 Januari 2012
mudik leg 2: Waroeng Diggers
baca dulu mudik leg 2: Kedaton-Panjang
namanya Waroeng Diggers... alamat Jalan Way Sungkai Komp. Besi Baja.kalo gak salah nama daerahnya Pahoman. kalo kita turun dari Bumi Kedaton Resort menuju pusat kota Bandar Lampung, sebelum Novotel ada papan petunjuk arah di sebelah kanan jalan, ikutin aja. atau sebaliknya, kalo dari arah pusat kota Bandar Lampung menuju Novotel,lewatin sedikit, perhatiin papan petunjuk di sebelah kiri jalan, ikutin aja, kafenya agak masuk dikit dari tepi jalan raya. tidak ada papan nama di depan kafe-nya, tapi ada tulisan Waroeng Diggers besar-besar di lantai lobinya.

warung ala kafe ini tidak direkomendasikan karena makanannya yang istimewa! :D bukan berarti gak enak, cuma rasanya biasa aja. yang rruuaarrr biasa adalah pemandangan yang ditawarkan! sebelum memesan makanan, luangkan waktu sejenak untuk survey tempat duduk yang strategis sesuai "kebutuhan" :)
kafe ini menyediakan beberapa tempat duduk dengan suasana yang sedikit berbeda-beda. ada yang di dalam ruangan, ada juga semi-teras, ada yang di luar ruangan (atap langit), ada yang di luar ruangan-tapi-beratap, dan kalo liat tata panggung, kayaknya beberapa malam bisa ada live-music.
makanan yang ditawarkan cukup banyak lho! meskipun rasanya biasa aja (menurut pengakuan seseorang pengunjung rutin dalam blognya) dan emang udah aku buktikan sendiri dengan nyobain Chesse Burger (13 ribu) dan temanku pesan Nasi Goreng Seafood (17 ribu), minumnya aku pesan Hot Cappuccino (10 ribu) dan temenku Orange Squash (13 ribu)... ehm gak gitu mahal menurutku, kalo di Bandung pasti lebih mahal lagi karena tempatnya yang strategis ini.
ok, jadi gak usah ngebahas soal makanannya ya! :D ... liat karakter pengunjung yang dateng malam ini kayaknya sebagian besar berpasangan. sialan banget!... dekat tempat kami duduk, ada tiga cewek-labil-dandan-seksi-gaul-abis! lumayan mengobati lelahnya mata :D
singkatnya... kalo kamu pergi ke Lampung bersama pasangan, Waroeng Diggers ini sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat kencan atau makan malam bersama si-Dia! :) dan menurutku ini tempat paling indah yang aku kunjungi dalam rangkaian tur-nyasar ini.
sayangnya aku gak bisa lama-lama di sini karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sementara kereta ibu peri akan berangkat satu jam lagi dan aku belum beres-beres tas-punggung-ku. dengan tergesa-gesa tanpa meninggalkan sepatu kaca, aku meninggalkan destinasi terakhir dalam rangkaian nyasar-Lampung kali ini.
BMW rada ngebut nurunin bukit... ternyata gak gitu lama udah nyampe Losmen. beres-beres dengan tegang sekitar 15 menit, memastikan tidak ada yang tertinggal, bayar sisa sewa kamar, dan cabut ke Stasiun. nyampe stasiun ternyata pintu peronnya belum dibuka! banyak yang aneh di Stasiun Tanjung Karang ini :D masak udah hampir jam 21:00 penumpang belum boleh masuk kereta yang jadwal berangkatnya jam 21:00!... dan ternyata seperti yang sudah bisa diduga, kereta berangkat terlambat lebih dari setengah jam.
peluit panjang petugas mengiringi senandung perpisahan diriku dan bumi-ruwa-jurai... seperti jaelangkung, aku datang tak dijemput dan pulang tak diantar :D beginilah nasib backpacker-labil-nan-lebay!
nb: capek juga ngetik posting beberapa biji padahal cuma nginep dua malam di Lampung :D jangan bosan ikuti petualanganku nyasar di kota-kota lain berikutnya... 2012 akan ada lebih banyak kota yang akan aku sambangi! :) Amin!
namanya Waroeng Diggers... alamat Jalan Way Sungkai Komp. Besi Baja.kalo gak salah nama daerahnya Pahoman. kalo kita turun dari Bumi Kedaton Resort menuju pusat kota Bandar Lampung, sebelum Novotel ada papan petunjuk arah di sebelah kanan jalan, ikutin aja. atau sebaliknya, kalo dari arah pusat kota Bandar Lampung menuju Novotel,lewatin sedikit, perhatiin papan petunjuk di sebelah kiri jalan, ikutin aja, kafenya agak masuk dikit dari tepi jalan raya. tidak ada papan nama di depan kafe-nya, tapi ada tulisan Waroeng Diggers besar-besar di lantai lobinya.
warung ala kafe ini tidak direkomendasikan karena makanannya yang istimewa! :D bukan berarti gak enak, cuma rasanya biasa aja. yang rruuaarrr biasa adalah pemandangan yang ditawarkan! sebelum memesan makanan, luangkan waktu sejenak untuk survey tempat duduk yang strategis sesuai "kebutuhan" :)
kafe ini menyediakan beberapa tempat duduk dengan suasana yang sedikit berbeda-beda. ada yang di dalam ruangan, ada juga semi-teras, ada yang di luar ruangan (atap langit), ada yang di luar ruangan-tapi-beratap, dan kalo liat tata panggung, kayaknya beberapa malam bisa ada live-music.
makanan yang ditawarkan cukup banyak lho! meskipun rasanya biasa aja (menurut pengakuan seseorang pengunjung rutin dalam blognya) dan emang udah aku buktikan sendiri dengan nyobain Chesse Burger (13 ribu) dan temanku pesan Nasi Goreng Seafood (17 ribu), minumnya aku pesan Hot Cappuccino (10 ribu) dan temenku Orange Squash (13 ribu)... ehm gak gitu mahal menurutku, kalo di Bandung pasti lebih mahal lagi karena tempatnya yang strategis ini.
ok, jadi gak usah ngebahas soal makanannya ya! :D ... liat karakter pengunjung yang dateng malam ini kayaknya sebagian besar berpasangan. sialan banget!... dekat tempat kami duduk, ada tiga cewek-labil-dandan-seksi-gaul-abis! lumayan mengobati lelahnya mata :D
singkatnya... kalo kamu pergi ke Lampung bersama pasangan, Waroeng Diggers ini sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat kencan atau makan malam bersama si-Dia! :) dan menurutku ini tempat paling indah yang aku kunjungi dalam rangkaian tur-nyasar ini.
sayangnya aku gak bisa lama-lama di sini karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sementara kereta ibu peri akan berangkat satu jam lagi dan aku belum beres-beres tas-punggung-ku. dengan tergesa-gesa tanpa meninggalkan sepatu kaca, aku meninggalkan destinasi terakhir dalam rangkaian nyasar-Lampung kali ini.
BMW rada ngebut nurunin bukit... ternyata gak gitu lama udah nyampe Losmen. beres-beres dengan tegang sekitar 15 menit, memastikan tidak ada yang tertinggal, bayar sisa sewa kamar, dan cabut ke Stasiun. nyampe stasiun ternyata pintu peronnya belum dibuka! banyak yang aneh di Stasiun Tanjung Karang ini :D masak udah hampir jam 21:00 penumpang belum boleh masuk kereta yang jadwal berangkatnya jam 21:00!... dan ternyata seperti yang sudah bisa diduga, kereta berangkat terlambat lebih dari setengah jam.
peluit panjang petugas mengiringi senandung perpisahan diriku dan bumi-ruwa-jurai... seperti jaelangkung, aku datang tak dijemput dan pulang tak diantar :D beginilah nasib backpacker-labil-nan-lebay!
nb: capek juga ngetik posting beberapa biji padahal cuma nginep dua malam di Lampung :D jangan bosan ikuti petualanganku nyasar di kota-kota lain berikutnya... 2012 akan ada lebih banyak kota yang akan aku sambangi! :) Amin!
mudik leg 2: Karso-123
baca dulu mudik leg 2: pindang-wagyu
karena malamnya begadang ampe pagi... abis dari jalan-jalan tengah malam, aku masih nonton TV dulu sambil nge-charge beberapa perangkat, dan gak tau kenapa aku juga sulit tidur ampe subuh menjelang.
bangunnya udah pasti siang :D ... belum ada kepastian mo makan di mana hari ini (1 Januari 2012). ketergantungan tinggi terhadap nyamannya jok belakang BMW emang repot juga, mo naik angkot tapi males juga, maklum backpacker-semi-gedongan :D akhirnya sambil nunggu temen menjemput, aku putusin untuk jalan kaki sejenak membakar lemak Wagyu semalam :)
menyusuri jalan Raden Intan, ternyata meskipun jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 10 siang, masih banyak toko yang belum buka. mungkin karena ini hari minggu, mungkin karena ini tanggal 1 januari, mungkin karena semalam pada begadang ampe pagi, mungkin cuti bersama... pelan-pelan sambil liat kiri-kanan aku susuri jalan ampe perempatan, tugu gajah.
dari tugu gajah (tugu adipura dikelilingi gajah) menuju jalan Kartini kita bisa melewati jalan Ahmad Yani. gak beberapa lama menyusuri jalan Ahmad Yani, dikit lagi ampe ujung (masuk jalan Kartini) gerimis mengundang. lari-lari kecil aku menuju sebuah SPBU Pertamina (SPBU Kartini). wah sial banget aku pikir, padahal udah ampir nyampe sebuah pusat perbelanjaan, paling enggak kan bisa nongkrong di situ dengan aman. ternyata ini jalan langit untuk mempertemukan aku dengan tempat makan pertama hari ini... Mie Jogja Pak Karso!
hari ini emang niat mo makan mie Lampung, tapi bukan mie Jogja :D ... ya terpaksa deh kaki melangkah menyeberang jalan menyambut harumnya kuah mie godhog. ehm uniknya Mie Jogja Pak Karso ini kolaborasi dengan Ayam Penyet Suroboyo, baguslah sesama orang Indonesia emang harus saling membantu :) kalo liat dari daftar menunya, Mie Jogja Pak Karso ini ternyata warung/resto waralaba nasional lho... cabangnya ada di banyak kota, Muntilan, Samarinda, Dumai, Palembang, Bogor, Palangkaraya, Bali, Lampung, Medan, Banjarmasin, Jakarta, Malang, Solo, Pekanbaru, Kediri, Semarang, Bintaro... banyak kan? tapi sayangnya belum buka cabang di Jogjakarta :) (kasian orang Jogja gak bisa nyobain Mie Pak Karso di kampung halaman...).
harga makanan dan minuman di sini beragam, tapi gak mahal kok. minum paling mahal es buah 10 ribu, makan paling mahal Ayam Penyet 18 ribu (udah sama nasi+tahu+tempe). meskipun aku penggemar mie goreng, kali ini kayaknya mie godhog (godog atau godhog?) lebih merangsang... jadilah pesan mie godhog ayam (14 ribu) dan teh manis panas (3 ribu). lumayan buat camilan sambil menunggu reda hujan.
rasanya lumayan enak :) gak enak banget emang :D kuahnya mantap, mie-nya gemuk-gemuk dan kenyal, toppingnya juga pelit. sensai mie jawa tuh setauku dimasak di atas tungku arang, tapi yang ini "hanya" memakai kompor gas biasa... jadi ada sedikit perbedaan rasa, tapi satu piring mie godhog ini lenyaB juga dalam sekejaP :D dan ternyata ini camilan yang kerasa berat juga di perut (ya iya lah! :D )
tidak lama teman yang akan mengantar, datang menjemput... lagi-lagi naik BMW :D
setelah mencapai mufakat, kami memutuskan untuk makan pempek aja... sekali lagi ini bukan makanan khas Lampung, tapi konon harus dicobain juga :D kami pun berikhtiar mencari pempek lokal yang terkenal, pilihan jatuh pada Pempek 123 (ada juga pempek numerik lain, 56, kok sama kayak bakpia numerik di Jogja ya?). BMW pun melaju menembus gerimis ringan... tapi aku lupa tuh di daerah mana.
Pempek 123 ini jadi tempat paling menyebalkan dalam wisata kuliner di Lampung kali ini. aku gak masalah sih kalo ampe nyasar jauh di Panjang karena nyari Pindang Patin (meskipun aku dah biasa makan pindang). tapi yang paling nyebelin tuh adalah pelayanannya yang buruk sekali! aku dan temenku emang dandan gembel pake motor butut, tapi kan kami pelanggan. entah emang itu udah jadi standar pelayanan di sini. untuk rasa pempek yang biasa-biasa aja buatku, harganya mahal dan pelayannya cemberut sepanjang masa. waktu makan di RM Rasa Palembang (baca posting sebelumnya), meskipun harganya mahal dan tampang kami gembel, pelayannya lebih ramah dan cepat.
karena berkesan buruk... ini satu-satunya tempat yang tidak aku rekomendasikan untuk dikunjungi! kalo mo makan pempek di Lampung cobain pempek numerik lainnya deh...
separuh terakhir siang/sore di Lampung ini aku sambung di posting berikutnya ya :)
karena malamnya begadang ampe pagi... abis dari jalan-jalan tengah malam, aku masih nonton TV dulu sambil nge-charge beberapa perangkat, dan gak tau kenapa aku juga sulit tidur ampe subuh menjelang.
bangunnya udah pasti siang :D ... belum ada kepastian mo makan di mana hari ini (1 Januari 2012). ketergantungan tinggi terhadap nyamannya jok belakang BMW emang repot juga, mo naik angkot tapi males juga, maklum backpacker-semi-gedongan :D akhirnya sambil nunggu temen menjemput, aku putusin untuk jalan kaki sejenak membakar lemak Wagyu semalam :)
menyusuri jalan Raden Intan, ternyata meskipun jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 10 siang, masih banyak toko yang belum buka. mungkin karena ini hari minggu, mungkin karena ini tanggal 1 januari, mungkin karena semalam pada begadang ampe pagi, mungkin cuti bersama... pelan-pelan sambil liat kiri-kanan aku susuri jalan ampe perempatan, tugu gajah.
dari tugu gajah (tugu adipura dikelilingi gajah) menuju jalan Kartini kita bisa melewati jalan Ahmad Yani. gak beberapa lama menyusuri jalan Ahmad Yani, dikit lagi ampe ujung (masuk jalan Kartini) gerimis mengundang. lari-lari kecil aku menuju sebuah SPBU Pertamina (SPBU Kartini). wah sial banget aku pikir, padahal udah ampir nyampe sebuah pusat perbelanjaan, paling enggak kan bisa nongkrong di situ dengan aman. ternyata ini jalan langit untuk mempertemukan aku dengan tempat makan pertama hari ini... Mie Jogja Pak Karso!
hari ini emang niat mo makan mie Lampung, tapi bukan mie Jogja :D ... ya terpaksa deh kaki melangkah menyeberang jalan menyambut harumnya kuah mie godhog. ehm uniknya Mie Jogja Pak Karso ini kolaborasi dengan Ayam Penyet Suroboyo, baguslah sesama orang Indonesia emang harus saling membantu :) kalo liat dari daftar menunya, Mie Jogja Pak Karso ini ternyata warung/resto waralaba nasional lho... cabangnya ada di banyak kota, Muntilan, Samarinda, Dumai, Palembang, Bogor, Palangkaraya, Bali, Lampung, Medan, Banjarmasin, Jakarta, Malang, Solo, Pekanbaru, Kediri, Semarang, Bintaro... banyak kan? tapi sayangnya belum buka cabang di Jogjakarta :) (kasian orang Jogja gak bisa nyobain Mie Pak Karso di kampung halaman...).
harga makanan dan minuman di sini beragam, tapi gak mahal kok. minum paling mahal es buah 10 ribu, makan paling mahal Ayam Penyet 18 ribu (udah sama nasi+tahu+tempe). meskipun aku penggemar mie goreng, kali ini kayaknya mie godhog (godog atau godhog?) lebih merangsang... jadilah pesan mie godhog ayam (14 ribu) dan teh manis panas (3 ribu). lumayan buat camilan sambil menunggu reda hujan.
rasanya lumayan enak :) gak enak banget emang :D kuahnya mantap, mie-nya gemuk-gemuk dan kenyal, toppingnya juga pelit. sensai mie jawa tuh setauku dimasak di atas tungku arang, tapi yang ini "hanya" memakai kompor gas biasa... jadi ada sedikit perbedaan rasa, tapi satu piring mie godhog ini lenyaB juga dalam sekejaP :D dan ternyata ini camilan yang kerasa berat juga di perut (ya iya lah! :D )
tidak lama teman yang akan mengantar, datang menjemput... lagi-lagi naik BMW :D
setelah mencapai mufakat, kami memutuskan untuk makan pempek aja... sekali lagi ini bukan makanan khas Lampung, tapi konon harus dicobain juga :D kami pun berikhtiar mencari pempek lokal yang terkenal, pilihan jatuh pada Pempek 123 (ada juga pempek numerik lain, 56, kok sama kayak bakpia numerik di Jogja ya?). BMW pun melaju menembus gerimis ringan... tapi aku lupa tuh di daerah mana.
Pempek 123 ini jadi tempat paling menyebalkan dalam wisata kuliner di Lampung kali ini. aku gak masalah sih kalo ampe nyasar jauh di Panjang karena nyari Pindang Patin (meskipun aku dah biasa makan pindang). tapi yang paling nyebelin tuh adalah pelayanannya yang buruk sekali! aku dan temenku emang dandan gembel pake motor butut, tapi kan kami pelanggan. entah emang itu udah jadi standar pelayanan di sini. untuk rasa pempek yang biasa-biasa aja buatku, harganya mahal dan pelayannya cemberut sepanjang masa. waktu makan di RM Rasa Palembang (baca posting sebelumnya), meskipun harganya mahal dan tampang kami gembel, pelayannya lebih ramah dan cepat.
karena berkesan buruk... ini satu-satunya tempat yang tidak aku rekomendasikan untuk dikunjungi! kalo mo makan pempek di Lampung cobain pempek numerik lainnya deh...
separuh terakhir siang/sore di Lampung ini aku sambung di posting berikutnya ya :)
mudik leg 2: pindang-wagyu
baca dulu mudik leg 2: Bumi Ruwa Jurai
lepas dari bakso Sonny... sebenernya porsi menu di bakso Sonny lumayan juga untuk menepis lapar, tapi karena rencana latihan jam 4 sore masih lama, jadi pertanyaan berikutnya adalah mo makan apa lagi nih? mo makan di mana? :D
sebelum berangkat ke bakso Sonny tadi aku udah nyiapin daftar target... setelah berdiskusi sejenak dengan teman yang akan mengantar, akhirnya kami memilih makan Pindang Patin di daerah Panjang (dekat Pelabuhan Peti Kemas Panjang). karena aku lahir dan besar di daerah Wong Kito, jadi aku cukup akrab dengan masakan Palembang, tapi gak ada salahnya juga kan kalo nyobain masakan Palembang di Lampung :)
dari jalan Wolter Monginsidi perjalanan dimulai... dan ternyata temanku yang asli Lampung sini pun bisa nyasar juga :D daerah Panjang ini cukup jauh dari pusat kota, lebih jauh lagi rasanya kalo kita nyasar :D sebenernya gak nyasar bange, cuma kelewat aja... dikit :D ternyata kami luput satu belokan yang berakibat kami hampir mencapai Tarahan. tapi sudahlah, niatku untuk nyasar di Lampung akhirnya kesampaian :D
setelah lirik kiri-kanan dengan was-was, karena temenku ini juga ternyata rada diragukan darah Lampungnya :D akhirnya kami nemu sebuah tempat makan namanya RM Rasa Palembang. ironi juga sebenernya, jauh-jauh aku nyasar di Lampung cuma untuk nyicipin masakan Palembang :D dan ternyata entah karena sudah terlalu siang atau emang restoran ini laku banget... menu yang tersisa tinggal Pindang Patin aja. ya lumayan daripada lu manyun :D
aku suka makan pindang, meskipun bukan penggemar berat. Pindang Patin ini emang salah satu jenis pindang yang khas. soal rasa lidah emang gak bisa bohong :D (kayak iklan)... rasanya emang kayak Pindang Patin :D maksudku enak-enak aja. aku gak gitu tau gimana rasa pindang yang enak banget, jadi berdasarkan pengalaman makan pindang selama ini, menurutku Pindang Patin RM Rasa Palembang ini lumayan enak. tapi konon harganya mahal di sini, berhubung aku pengelana-kere yang mengharap belas kasih pada tiap perjalanannya... terpaksa aku ditraktir makan di sini :D
abis makan nasi, perut jadi berat-kepala ikutan jadi berat :D tapi masih ada janji untuk latihan di malam terakhir di ujung tahun 2011 ini di ujung selatan pulau Sumatera. tapi sebelumnya aku mampir sejenak untuk memesan tiket kereta pada sebuah biro perjalanan. nah ini ajaibnya sistem pertiketan KA di sini, kita gak bisa pesan tiket di Stasiun Tanjung Karang, tapi tiketnya disebar di biro-biro perjalanan dan konsekuensinya ada "bonus" biaya pesan 10ribu. repotnya tuh kalo kita bukan orang lokal dan bingung mo pesen tiketnya di mana. ada juga "sisa" tiket yang dijual di loket pada hari-H, tapi berdasarkan legenda yang beredar, tiket yang disediakan cuma sedikit dan resikonya kita gak kebagian besar sekali. antrian juga harus dilakukan beberapa jam sebelumnya, sesuatu banget deh! kalo bisa repot kenapa harus digampangkan? :D
ok... agenda selanjutnya adalah latihan :) kalo yang ini gak usah diceritain deh :D bosan!... singkatnya aja kami mulai latihan dari sekitar jam setengah 5 sore dan berakhir pada lebih dari jam 7 atau 8 malam gitu deh... lupa :D dan sesuai rencana, jadwal berikutnya adalah makan! (sebenernya tujuan utama nyasar edisi akhir tahun ini emang makan-makan :D). btw, dojo ini namanya Koizora dan terletak di jalan Emir M Noer, dojonya sendiri terletak di lantai 3, dua lantai pertama adalah warnet.
(pemandangan dari SPBU yang terletak di jalan yang sama dengan Koizora Dojo, sepotong bulan dan kembang api)
kembali petualangan bersama Bebek Merah Warnanya (BMW) dimulai :D... setelah ngalor-ngidul sejenak di jalan-jalan utama kota yang sudah rame banget, tadinya mo lesehan di jalan Kartini lagi... tapi pas lewat jalan Raden Intan, karena macetnya jalan dan perut cenat-cenut, tiba-tiba dapet ide mo nyobain Wagyu Steak di Seven Steak. dan meskipun resto ini berada di luar agenda, tapi temen yang nganterin nih bener-bener merekomendasikan, ternyata keputusan mampir di resto ini harus aku bilang adalah makanan paling enak dalam edisi nyasar kali ini! bener-bener enak lho! aku gak lebay atau basa-basi.
Seven Steak ini sekilas kayak restoran atau tempat makan yang biasa banget. dengan kursi-meja yang sederhana dan interior minimalis abis. menunya juga gak padat... minumannya bener-bener paket standard kalo di bandung mah. variasi steak-nya juga sederhana banget. pokoknya secara umum tempat makannya gak meyakinkan :D pas kami makan juga sepi banget. Wagyu Steak jadi menu andalan di sini... harganya murah kok (untuk ukuran Daging Sapi Wagyu) hanya 59 ribu perak saja. rasanya?...
wah... beneran deh, aku ulangi lagi nih... meskipun ini bukan makanan khas Lampung :D aku harus bilang (lagi dan lagi) kalo ini makanan paling enak dan berkesan dalam edisi nyasar di Lampung di akhir tahun ini! rasa dagingnya itu lho... endang bambang cyin! dagingnya rada "ngelawan" kalo digigit tapi gak keras, gampang dipotong dengan pisau dan empuk dikunyah. aku pesen yang well-done, tapi mungkin lain kali lebih baik pesan yang medium. beneran gak rugi bayar 59 ribu rupiah per porsinya, rasanya pengen nambah 1 porsi lagi deh :D tapi pasti gak enak kalo perut kekenyangan.
abis makan kami ngobrol-ngobrol lagi ampe jam 10an malam, gak kerasa :D tau-tau pelayannya bilang restonya udah mo tutup. sekilas liat ke jalan raya, udah makin rame aja. bingung nih mo kemana lagi, ya udah sambil nungguin tengah malam... kembali BMW digeber menyusur jalan aspal Bandar Lampung dan sekitarnya. sebenernya kami berdua sama-sama TIDAK merayakan tahun baru :D jadi rada bingung juga mo ngapain-dimana... tapi sayang juga kalo ngelewatin momen keramaian dan gak ambil foto-foto untuk dokumentasi.
akhirnya temenku membawa BMW ini keliling kota sambil nungguin tengah malam. beberapa titik keramaian udah mulai padat, tapi jalan masih cukup lancar. beberapa jalan ditutup supaya arus lalin lebih lancar. lapangan Saburai penuh banget, ada pasar malam, ada konser musik. setelah keliling-keliling kota gak jelas ternyata kami ditakdirkan untuk kembali ke jalan Raden Intan :D dan BMW merapat di simpang Bank BRI dan sebuah Masjid yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya... Masjid Al-Yaqin.
sekitar jam 12 malam... kembang api mulai meluncur di langit. karena tempat kami nongkrong ini bukan pusat keramaian, jadi gak gitu banyak juga kembang apinya :D tapi lumayan juga buat eksperimen ambil-ambil gambar. sekitar setengah jam kami habiskan buat foto sana-sini (tapi masih di sudut jalan yang sama). gak gitu lama pestanya bubar :D dan setelah rada sepi kami baru duduk-duduk di tanah ngobrol-ngobrol sambil makan keripik dan minum aqua :D
petualangan malam ini berakhir pada sekitar jam 1 pagi. capek juga nongkrong di BMW seharian dan latihan dan makan-makan :D ... masih bersambung nih ceritanya :)
lepas dari bakso Sonny... sebenernya porsi menu di bakso Sonny lumayan juga untuk menepis lapar, tapi karena rencana latihan jam 4 sore masih lama, jadi pertanyaan berikutnya adalah mo makan apa lagi nih? mo makan di mana? :D
sebelum berangkat ke bakso Sonny tadi aku udah nyiapin daftar target... setelah berdiskusi sejenak dengan teman yang akan mengantar, akhirnya kami memilih makan Pindang Patin di daerah Panjang (dekat Pelabuhan Peti Kemas Panjang). karena aku lahir dan besar di daerah Wong Kito, jadi aku cukup akrab dengan masakan Palembang, tapi gak ada salahnya juga kan kalo nyobain masakan Palembang di Lampung :)
dari jalan Wolter Monginsidi perjalanan dimulai... dan ternyata temanku yang asli Lampung sini pun bisa nyasar juga :D daerah Panjang ini cukup jauh dari pusat kota, lebih jauh lagi rasanya kalo kita nyasar :D sebenernya gak nyasar bange, cuma kelewat aja... dikit :D ternyata kami luput satu belokan yang berakibat kami hampir mencapai Tarahan. tapi sudahlah, niatku untuk nyasar di Lampung akhirnya kesampaian :D
setelah lirik kiri-kanan dengan was-was, karena temenku ini juga ternyata rada diragukan darah Lampungnya :D akhirnya kami nemu sebuah tempat makan namanya RM Rasa Palembang. ironi juga sebenernya, jauh-jauh aku nyasar di Lampung cuma untuk nyicipin masakan Palembang :D dan ternyata entah karena sudah terlalu siang atau emang restoran ini laku banget... menu yang tersisa tinggal Pindang Patin aja. ya lumayan daripada lu manyun :D
aku suka makan pindang, meskipun bukan penggemar berat. Pindang Patin ini emang salah satu jenis pindang yang khas. soal rasa lidah emang gak bisa bohong :D (kayak iklan)... rasanya emang kayak Pindang Patin :D maksudku enak-enak aja. aku gak gitu tau gimana rasa pindang yang enak banget, jadi berdasarkan pengalaman makan pindang selama ini, menurutku Pindang Patin RM Rasa Palembang ini lumayan enak. tapi konon harganya mahal di sini, berhubung aku pengelana-kere yang mengharap belas kasih pada tiap perjalanannya... terpaksa aku ditraktir makan di sini :D
abis makan nasi, perut jadi berat-kepala ikutan jadi berat :D tapi masih ada janji untuk latihan di malam terakhir di ujung tahun 2011 ini di ujung selatan pulau Sumatera. tapi sebelumnya aku mampir sejenak untuk memesan tiket kereta pada sebuah biro perjalanan. nah ini ajaibnya sistem pertiketan KA di sini, kita gak bisa pesan tiket di Stasiun Tanjung Karang, tapi tiketnya disebar di biro-biro perjalanan dan konsekuensinya ada "bonus" biaya pesan 10ribu. repotnya tuh kalo kita bukan orang lokal dan bingung mo pesen tiketnya di mana. ada juga "sisa" tiket yang dijual di loket pada hari-H, tapi berdasarkan legenda yang beredar, tiket yang disediakan cuma sedikit dan resikonya kita gak kebagian besar sekali. antrian juga harus dilakukan beberapa jam sebelumnya, sesuatu banget deh! kalo bisa repot kenapa harus digampangkan? :D
ok... agenda selanjutnya adalah latihan :) kalo yang ini gak usah diceritain deh :D bosan!... singkatnya aja kami mulai latihan dari sekitar jam setengah 5 sore dan berakhir pada lebih dari jam 7 atau 8 malam gitu deh... lupa :D dan sesuai rencana, jadwal berikutnya adalah makan! (sebenernya tujuan utama nyasar edisi akhir tahun ini emang makan-makan :D). btw, dojo ini namanya Koizora dan terletak di jalan Emir M Noer, dojonya sendiri terletak di lantai 3, dua lantai pertama adalah warnet.
kembali petualangan bersama Bebek Merah Warnanya (BMW) dimulai :D... setelah ngalor-ngidul sejenak di jalan-jalan utama kota yang sudah rame banget, tadinya mo lesehan di jalan Kartini lagi... tapi pas lewat jalan Raden Intan, karena macetnya jalan dan perut cenat-cenut, tiba-tiba dapet ide mo nyobain Wagyu Steak di Seven Steak. dan meskipun resto ini berada di luar agenda, tapi temen yang nganterin nih bener-bener merekomendasikan, ternyata keputusan mampir di resto ini harus aku bilang adalah makanan paling enak dalam edisi nyasar kali ini! bener-bener enak lho! aku gak lebay atau basa-basi.
Seven Steak ini sekilas kayak restoran atau tempat makan yang biasa banget. dengan kursi-meja yang sederhana dan interior minimalis abis. menunya juga gak padat... minumannya bener-bener paket standard kalo di bandung mah. variasi steak-nya juga sederhana banget. pokoknya secara umum tempat makannya gak meyakinkan :D pas kami makan juga sepi banget. Wagyu Steak jadi menu andalan di sini... harganya murah kok (untuk ukuran Daging Sapi Wagyu) hanya 59 ribu perak saja. rasanya?...
wah... beneran deh, aku ulangi lagi nih... meskipun ini bukan makanan khas Lampung :D aku harus bilang (lagi dan lagi) kalo ini makanan paling enak dan berkesan dalam edisi nyasar di Lampung di akhir tahun ini! rasa dagingnya itu lho... endang bambang cyin! dagingnya rada "ngelawan" kalo digigit tapi gak keras, gampang dipotong dengan pisau dan empuk dikunyah. aku pesen yang well-done, tapi mungkin lain kali lebih baik pesan yang medium. beneran gak rugi bayar 59 ribu rupiah per porsinya, rasanya pengen nambah 1 porsi lagi deh :D tapi pasti gak enak kalo perut kekenyangan.
abis makan kami ngobrol-ngobrol lagi ampe jam 10an malam, gak kerasa :D tau-tau pelayannya bilang restonya udah mo tutup. sekilas liat ke jalan raya, udah makin rame aja. bingung nih mo kemana lagi, ya udah sambil nungguin tengah malam... kembali BMW digeber menyusur jalan aspal Bandar Lampung dan sekitarnya. sebenernya kami berdua sama-sama TIDAK merayakan tahun baru :D jadi rada bingung juga mo ngapain-dimana... tapi sayang juga kalo ngelewatin momen keramaian dan gak ambil foto-foto untuk dokumentasi.
(ramainya kendaraan bermotor di jalan Raden Intan)
akhirnya temenku membawa BMW ini keliling kota sambil nungguin tengah malam. beberapa titik keramaian udah mulai padat, tapi jalan masih cukup lancar. beberapa jalan ditutup supaya arus lalin lebih lancar. lapangan Saburai penuh banget, ada pasar malam, ada konser musik. setelah keliling-keliling kota gak jelas ternyata kami ditakdirkan untuk kembali ke jalan Raden Intan :D dan BMW merapat di simpang Bank BRI dan sebuah Masjid yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya... Masjid Al-Yaqin.
sekitar jam 12 malam... kembang api mulai meluncur di langit. karena tempat kami nongkrong ini bukan pusat keramaian, jadi gak gitu banyak juga kembang apinya :D tapi lumayan juga buat eksperimen ambil-ambil gambar. sekitar setengah jam kami habiskan buat foto sana-sini (tapi masih di sudut jalan yang sama). gak gitu lama pestanya bubar :D dan setelah rada sepi kami baru duduk-duduk di tanah ngobrol-ngobrol sambil makan keripik dan minum aqua :D
petualangan malam ini berakhir pada sekitar jam 1 pagi. capek juga nongkrong di BMW seharian dan latihan dan makan-makan :D ... masih bersambung nih ceritanya :)
Langganan:
Postingan (Atom)


