tidak tepat waktu, jam karet, telat... dan lain-lain hal yang berhubungan dengan tidak menghargai ketepatan waktu sepertinya sudah membudaya di negara kita. bukan sok bijak... karena aku juga masih sering telat, sayangnya :(
telat seakan-akan sudah menjadi hak bagi setiap warga-negara-indonesia! beneran lho! tidak pandang bulu status sosial atau jenis kelamin, bahkan merambah sampai ke pelayanan publik, dunia transportasi dan lain-lain.
baru-baru ini aku naik kereta api jurusan Bandar Lampung - Palembang... ternyata lagu lama Iwan Fals yang liriknya kira-kira begini "... sampai stasiun kereta/pukul setengah dua/duduk aku menunggu/tanya loket dan penjaga/kereta tiba pukul berapa?//biasanya kereta terlambat/dua jam itu biasa..." masih sangat relevan! aku baru merhatiin kalo jam keberangkatan dan kedatangan kereta yang tercetak di tiket sepertinya tidak banyak berubah dari belasan tahun yang lalu (karena aku baru naik kereta ini mulai 1997)... tapi telatnya itu juga udah ada sejak belasan tahun yang lalu itu. jadi tidak ada inisiatif dari PT KAI untuk mencetak ulang jadwal kereta yang lebih pasti di atas tiket, atau memperbaiki layanan supaya kereta bisa lebih tepat waktu.
padahal telat itu biaya ekonominya tinggi lho!... sebuah kontrak kerja bisa jadi batal dan uang melayang. ketidakpastian masalah durasi bisa menimbulkan potensi biaya tak-terduga yang besar. bahan makanan segar bisa layu dalam perjalanan yang telat.
telat juga bisa berakibat kematian... telat menghindar bisa tertusuk :D
meskipun telat juga bisa berakibat kelahiran... telat mengangkat bisa hamil, misalnya :D
balik lagi soal telat... misalnya kita telat, tidak banyak juga orang yang jadi bercepat-cepat. seakan-akan telat dan lambat lebih baik daripada tidak datang sama sekali. bener juga sih... tapi kita bisa mengurangi dampak telat dengan lebih bergegas.
kalo punya kebiasaan telat... jangan membuat janji! kalo punya kebiasaan telat, jangan mengeluh kalo diperlakukan lambat dan telat!...
jadi aku gak boleh ngeluh nih soal telat, sampai aku bisa selalu tepat waktu :)
tahun 2012 harus lebih banyak tepat waktu... TELAT ITU BUKAN HAK!!!
ini akan menjadi kumpulan tanpa aturan, diambil dari banyak kertas, yang telah kukutip di sini, dengan harapan aku akan mengaturnya kemudian menurut pokok-pokok yang kubahas; dan aku yakin aku pasti mengulang pokok yang sama beberapa kali; untuk ini, oh pembaca, jangan salahkan aku... (Leonardo)
10 Januari 2012
pertapa belantara kota
buatku... lebih mudah untuk menghindari suatu godaan bila akses terhadap godaan tersebut dipersulit, kesempatan yang sempit membuat niat jadi minggat. tapi kalo niat udah kuat, kesempatan bisa dibuat! :D
aku berniat untuk mengatur pola makan alias diet. betul... diet emang bukan cuma monopoli kaum hawa :D lagian banyak orang yang salah tafsir soal diet. diet juga bukan soal menyiksa diri atau tidak menikmati hidup. tapi ya sudahlah... aku gak mau debat-kusir soal definisi diet (paling tidak, enggak sekarang). suka-suka kaulah apa tafsirmu! :D
kembali ke soal program dietku... diet emang butuh niat yang kuat, butuh motivasi yang cukup besar dengan tujuan-tujuan yang spesifik (selain yang utama tentu saja pengetahuan dasar soal nutrisi dan kesehatan). nah di sini masalahku :D kayaknya aku masih lemah pada tiga-bidang di atas :(
program diet biasanya lebih lancar kalo aku lagi di kosan. sementara program diet bisa berantakan kalo lagi libur dan/atau mudik. paling parah hancurnya kalo mudik :D di rumah akses terhadap makanan (meskipun sebenernya tidak banyak pilihan juga) dipermudah. selain itu, pekerjaan di rumah bukanlah olahraga-rutin seperti pekerjaan yang biasa aku lakukan.
menyimpan makanan kecil di kamar dalam jumlah berlebih juga bisa jadi sumber bencana :D meskipun sebenernya tidak berniat ngemil... ngeliat bungkus makanan warna-warni di sudut mata atau mencium harumnya kue-kering dari toples yang setengah terbuka, bisa membuat tangan ini tidak sengaja memungut dan mulut mengemut.
misal... misalnya... misalnya nih... seorang pertapa tinggal di atas gunung yang tinggi atau di pelosok rimba entah di mana. semakin sulit akses terhadap kenikmatan dunia (misalnya Wagyu-Steak atau Mexican-Coffee atau Rendang-Padang) sebenernya semakin mudah buat dia untuk menghindari godaan tersebut (bukan berarti bahwa Steak-Kopi-Rendang adalah makanan terlarang lho :D). kalo butuh waktu tujuh-hari-jalan-kaki dan sementara seorang pertapa adalah penggangguran-tanpa-gaji, jadi sulit banget buat dia untuk punya kesempatan nyicipin Wagyu-Steak (apalagi kalo mo nambah Wine) jadi makin mudah juga buat dia untuk menghindarinya. lebih mudah lagi kalo sebelumnya dia juga belum pernah makan Steak (dan minum Wine) jadi gak punya gambaran sama sekali seputar nikmatnya.
jadi pertapa yang hebat tuh bukan pertapa yang tinggal di dalam rimba lebat, tapi pertapa yang tinggal di tengah kota yang hidup-24-jam! jadi pertapa dan jauh dari segala godaan duniawi emang sulit... lebih sulit lagi hidup bersahaja di tengah-tengah ramainya godaan surga-dunia :)
aku berniat untuk mengatur pola makan alias diet. betul... diet emang bukan cuma monopoli kaum hawa :D lagian banyak orang yang salah tafsir soal diet. diet juga bukan soal menyiksa diri atau tidak menikmati hidup. tapi ya sudahlah... aku gak mau debat-kusir soal definisi diet (paling tidak, enggak sekarang). suka-suka kaulah apa tafsirmu! :D
kembali ke soal program dietku... diet emang butuh niat yang kuat, butuh motivasi yang cukup besar dengan tujuan-tujuan yang spesifik (selain yang utama tentu saja pengetahuan dasar soal nutrisi dan kesehatan). nah di sini masalahku :D kayaknya aku masih lemah pada tiga-bidang di atas :(
program diet biasanya lebih lancar kalo aku lagi di kosan. sementara program diet bisa berantakan kalo lagi libur dan/atau mudik. paling parah hancurnya kalo mudik :D di rumah akses terhadap makanan (meskipun sebenernya tidak banyak pilihan juga) dipermudah. selain itu, pekerjaan di rumah bukanlah olahraga-rutin seperti pekerjaan yang biasa aku lakukan.
menyimpan makanan kecil di kamar dalam jumlah berlebih juga bisa jadi sumber bencana :D meskipun sebenernya tidak berniat ngemil... ngeliat bungkus makanan warna-warni di sudut mata atau mencium harumnya kue-kering dari toples yang setengah terbuka, bisa membuat tangan ini tidak sengaja memungut dan mulut mengemut.
misal... misalnya... misalnya nih... seorang pertapa tinggal di atas gunung yang tinggi atau di pelosok rimba entah di mana. semakin sulit akses terhadap kenikmatan dunia (misalnya Wagyu-Steak atau Mexican-Coffee atau Rendang-Padang) sebenernya semakin mudah buat dia untuk menghindari godaan tersebut (bukan berarti bahwa Steak-Kopi-Rendang adalah makanan terlarang lho :D). kalo butuh waktu tujuh-hari-jalan-kaki dan sementara seorang pertapa adalah penggangguran-tanpa-gaji, jadi sulit banget buat dia untuk punya kesempatan nyicipin Wagyu-Steak (apalagi kalo mo nambah Wine) jadi makin mudah juga buat dia untuk menghindarinya. lebih mudah lagi kalo sebelumnya dia juga belum pernah makan Steak (dan minum Wine) jadi gak punya gambaran sama sekali seputar nikmatnya.
jadi pertapa yang hebat tuh bukan pertapa yang tinggal di dalam rimba lebat, tapi pertapa yang tinggal di tengah kota yang hidup-24-jam! jadi pertapa dan jauh dari segala godaan duniawi emang sulit... lebih sulit lagi hidup bersahaja di tengah-tengah ramainya godaan surga-dunia :)
08 Januari 2012
warna-warni akhir 2011 - awal 2012
06 Januari 2012
mudik leg 2: Waroeng Diggers
baca dulu mudik leg 2: Kedaton-Panjang
namanya Waroeng Diggers... alamat Jalan Way Sungkai Komp. Besi Baja.kalo gak salah nama daerahnya Pahoman. kalo kita turun dari Bumi Kedaton Resort menuju pusat kota Bandar Lampung, sebelum Novotel ada papan petunjuk arah di sebelah kanan jalan, ikutin aja. atau sebaliknya, kalo dari arah pusat kota Bandar Lampung menuju Novotel,lewatin sedikit, perhatiin papan petunjuk di sebelah kiri jalan, ikutin aja, kafenya agak masuk dikit dari tepi jalan raya. tidak ada papan nama di depan kafe-nya, tapi ada tulisan Waroeng Diggers besar-besar di lantai lobinya.

warung ala kafe ini tidak direkomendasikan karena makanannya yang istimewa! :D bukan berarti gak enak, cuma rasanya biasa aja. yang rruuaarrr biasa adalah pemandangan yang ditawarkan! sebelum memesan makanan, luangkan waktu sejenak untuk survey tempat duduk yang strategis sesuai "kebutuhan" :)
kafe ini menyediakan beberapa tempat duduk dengan suasana yang sedikit berbeda-beda. ada yang di dalam ruangan, ada juga semi-teras, ada yang di luar ruangan (atap langit), ada yang di luar ruangan-tapi-beratap, dan kalo liat tata panggung, kayaknya beberapa malam bisa ada live-music.
makanan yang ditawarkan cukup banyak lho! meskipun rasanya biasa aja (menurut pengakuan seseorang pengunjung rutin dalam blognya) dan emang udah aku buktikan sendiri dengan nyobain Chesse Burger (13 ribu) dan temanku pesan Nasi Goreng Seafood (17 ribu), minumnya aku pesan Hot Cappuccino (10 ribu) dan temenku Orange Squash (13 ribu)... ehm gak gitu mahal menurutku, kalo di Bandung pasti lebih mahal lagi karena tempatnya yang strategis ini.
ok, jadi gak usah ngebahas soal makanannya ya! :D ... liat karakter pengunjung yang dateng malam ini kayaknya sebagian besar berpasangan. sialan banget!... dekat tempat kami duduk, ada tiga cewek-labil-dandan-seksi-gaul-abis! lumayan mengobati lelahnya mata :D
singkatnya... kalo kamu pergi ke Lampung bersama pasangan, Waroeng Diggers ini sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat kencan atau makan malam bersama si-Dia! :) dan menurutku ini tempat paling indah yang aku kunjungi dalam rangkaian tur-nyasar ini.
sayangnya aku gak bisa lama-lama di sini karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sementara kereta ibu peri akan berangkat satu jam lagi dan aku belum beres-beres tas-punggung-ku. dengan tergesa-gesa tanpa meninggalkan sepatu kaca, aku meninggalkan destinasi terakhir dalam rangkaian nyasar-Lampung kali ini.
BMW rada ngebut nurunin bukit... ternyata gak gitu lama udah nyampe Losmen. beres-beres dengan tegang sekitar 15 menit, memastikan tidak ada yang tertinggal, bayar sisa sewa kamar, dan cabut ke Stasiun. nyampe stasiun ternyata pintu peronnya belum dibuka! banyak yang aneh di Stasiun Tanjung Karang ini :D masak udah hampir jam 21:00 penumpang belum boleh masuk kereta yang jadwal berangkatnya jam 21:00!... dan ternyata seperti yang sudah bisa diduga, kereta berangkat terlambat lebih dari setengah jam.
peluit panjang petugas mengiringi senandung perpisahan diriku dan bumi-ruwa-jurai... seperti jaelangkung, aku datang tak dijemput dan pulang tak diantar :D beginilah nasib backpacker-labil-nan-lebay!
nb: capek juga ngetik posting beberapa biji padahal cuma nginep dua malam di Lampung :D jangan bosan ikuti petualanganku nyasar di kota-kota lain berikutnya... 2012 akan ada lebih banyak kota yang akan aku sambangi! :) Amin!
namanya Waroeng Diggers... alamat Jalan Way Sungkai Komp. Besi Baja.kalo gak salah nama daerahnya Pahoman. kalo kita turun dari Bumi Kedaton Resort menuju pusat kota Bandar Lampung, sebelum Novotel ada papan petunjuk arah di sebelah kanan jalan, ikutin aja. atau sebaliknya, kalo dari arah pusat kota Bandar Lampung menuju Novotel,lewatin sedikit, perhatiin papan petunjuk di sebelah kiri jalan, ikutin aja, kafenya agak masuk dikit dari tepi jalan raya. tidak ada papan nama di depan kafe-nya, tapi ada tulisan Waroeng Diggers besar-besar di lantai lobinya.
warung ala kafe ini tidak direkomendasikan karena makanannya yang istimewa! :D bukan berarti gak enak, cuma rasanya biasa aja. yang rruuaarrr biasa adalah pemandangan yang ditawarkan! sebelum memesan makanan, luangkan waktu sejenak untuk survey tempat duduk yang strategis sesuai "kebutuhan" :)
kafe ini menyediakan beberapa tempat duduk dengan suasana yang sedikit berbeda-beda. ada yang di dalam ruangan, ada juga semi-teras, ada yang di luar ruangan (atap langit), ada yang di luar ruangan-tapi-beratap, dan kalo liat tata panggung, kayaknya beberapa malam bisa ada live-music.
makanan yang ditawarkan cukup banyak lho! meskipun rasanya biasa aja (menurut pengakuan seseorang pengunjung rutin dalam blognya) dan emang udah aku buktikan sendiri dengan nyobain Chesse Burger (13 ribu) dan temanku pesan Nasi Goreng Seafood (17 ribu), minumnya aku pesan Hot Cappuccino (10 ribu) dan temenku Orange Squash (13 ribu)... ehm gak gitu mahal menurutku, kalo di Bandung pasti lebih mahal lagi karena tempatnya yang strategis ini.
ok, jadi gak usah ngebahas soal makanannya ya! :D ... liat karakter pengunjung yang dateng malam ini kayaknya sebagian besar berpasangan. sialan banget!... dekat tempat kami duduk, ada tiga cewek-labil-dandan-seksi-gaul-abis! lumayan mengobati lelahnya mata :D
singkatnya... kalo kamu pergi ke Lampung bersama pasangan, Waroeng Diggers ini sangat direkomendasikan untuk dijadikan tempat kencan atau makan malam bersama si-Dia! :) dan menurutku ini tempat paling indah yang aku kunjungi dalam rangkaian tur-nyasar ini.
sayangnya aku gak bisa lama-lama di sini karena jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sementara kereta ibu peri akan berangkat satu jam lagi dan aku belum beres-beres tas-punggung-ku. dengan tergesa-gesa tanpa meninggalkan sepatu kaca, aku meninggalkan destinasi terakhir dalam rangkaian nyasar-Lampung kali ini.
BMW rada ngebut nurunin bukit... ternyata gak gitu lama udah nyampe Losmen. beres-beres dengan tegang sekitar 15 menit, memastikan tidak ada yang tertinggal, bayar sisa sewa kamar, dan cabut ke Stasiun. nyampe stasiun ternyata pintu peronnya belum dibuka! banyak yang aneh di Stasiun Tanjung Karang ini :D masak udah hampir jam 21:00 penumpang belum boleh masuk kereta yang jadwal berangkatnya jam 21:00!... dan ternyata seperti yang sudah bisa diduga, kereta berangkat terlambat lebih dari setengah jam.
peluit panjang petugas mengiringi senandung perpisahan diriku dan bumi-ruwa-jurai... seperti jaelangkung, aku datang tak dijemput dan pulang tak diantar :D beginilah nasib backpacker-labil-nan-lebay!
nb: capek juga ngetik posting beberapa biji padahal cuma nginep dua malam di Lampung :D jangan bosan ikuti petualanganku nyasar di kota-kota lain berikutnya... 2012 akan ada lebih banyak kota yang akan aku sambangi! :) Amin!
mudik leg 2: Karso-123
baca dulu mudik leg 2: pindang-wagyu
karena malamnya begadang ampe pagi... abis dari jalan-jalan tengah malam, aku masih nonton TV dulu sambil nge-charge beberapa perangkat, dan gak tau kenapa aku juga sulit tidur ampe subuh menjelang.
bangunnya udah pasti siang :D ... belum ada kepastian mo makan di mana hari ini (1 Januari 2012). ketergantungan tinggi terhadap nyamannya jok belakang BMW emang repot juga, mo naik angkot tapi males juga, maklum backpacker-semi-gedongan :D akhirnya sambil nunggu temen menjemput, aku putusin untuk jalan kaki sejenak membakar lemak Wagyu semalam :)
menyusuri jalan Raden Intan, ternyata meskipun jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 10 siang, masih banyak toko yang belum buka. mungkin karena ini hari minggu, mungkin karena ini tanggal 1 januari, mungkin karena semalam pada begadang ampe pagi, mungkin cuti bersama... pelan-pelan sambil liat kiri-kanan aku susuri jalan ampe perempatan, tugu gajah.
dari tugu gajah (tugu adipura dikelilingi gajah) menuju jalan Kartini kita bisa melewati jalan Ahmad Yani. gak beberapa lama menyusuri jalan Ahmad Yani, dikit lagi ampe ujung (masuk jalan Kartini) gerimis mengundang. lari-lari kecil aku menuju sebuah SPBU Pertamina (SPBU Kartini). wah sial banget aku pikir, padahal udah ampir nyampe sebuah pusat perbelanjaan, paling enggak kan bisa nongkrong di situ dengan aman. ternyata ini jalan langit untuk mempertemukan aku dengan tempat makan pertama hari ini... Mie Jogja Pak Karso!
hari ini emang niat mo makan mie Lampung, tapi bukan mie Jogja :D ... ya terpaksa deh kaki melangkah menyeberang jalan menyambut harumnya kuah mie godhog. ehm uniknya Mie Jogja Pak Karso ini kolaborasi dengan Ayam Penyet Suroboyo, baguslah sesama orang Indonesia emang harus saling membantu :) kalo liat dari daftar menunya, Mie Jogja Pak Karso ini ternyata warung/resto waralaba nasional lho... cabangnya ada di banyak kota, Muntilan, Samarinda, Dumai, Palembang, Bogor, Palangkaraya, Bali, Lampung, Medan, Banjarmasin, Jakarta, Malang, Solo, Pekanbaru, Kediri, Semarang, Bintaro... banyak kan? tapi sayangnya belum buka cabang di Jogjakarta :) (kasian orang Jogja gak bisa nyobain Mie Pak Karso di kampung halaman...).
harga makanan dan minuman di sini beragam, tapi gak mahal kok. minum paling mahal es buah 10 ribu, makan paling mahal Ayam Penyet 18 ribu (udah sama nasi+tahu+tempe). meskipun aku penggemar mie goreng, kali ini kayaknya mie godhog (godog atau godhog?) lebih merangsang... jadilah pesan mie godhog ayam (14 ribu) dan teh manis panas (3 ribu). lumayan buat camilan sambil menunggu reda hujan.
rasanya lumayan enak :) gak enak banget emang :D kuahnya mantap, mie-nya gemuk-gemuk dan kenyal, toppingnya juga pelit. sensai mie jawa tuh setauku dimasak di atas tungku arang, tapi yang ini "hanya" memakai kompor gas biasa... jadi ada sedikit perbedaan rasa, tapi satu piring mie godhog ini lenyaB juga dalam sekejaP :D dan ternyata ini camilan yang kerasa berat juga di perut (ya iya lah! :D )
tidak lama teman yang akan mengantar, datang menjemput... lagi-lagi naik BMW :D
setelah mencapai mufakat, kami memutuskan untuk makan pempek aja... sekali lagi ini bukan makanan khas Lampung, tapi konon harus dicobain juga :D kami pun berikhtiar mencari pempek lokal yang terkenal, pilihan jatuh pada Pempek 123 (ada juga pempek numerik lain, 56, kok sama kayak bakpia numerik di Jogja ya?). BMW pun melaju menembus gerimis ringan... tapi aku lupa tuh di daerah mana.
Pempek 123 ini jadi tempat paling menyebalkan dalam wisata kuliner di Lampung kali ini. aku gak masalah sih kalo ampe nyasar jauh di Panjang karena nyari Pindang Patin (meskipun aku dah biasa makan pindang). tapi yang paling nyebelin tuh adalah pelayanannya yang buruk sekali! aku dan temenku emang dandan gembel pake motor butut, tapi kan kami pelanggan. entah emang itu udah jadi standar pelayanan di sini. untuk rasa pempek yang biasa-biasa aja buatku, harganya mahal dan pelayannya cemberut sepanjang masa. waktu makan di RM Rasa Palembang (baca posting sebelumnya), meskipun harganya mahal dan tampang kami gembel, pelayannya lebih ramah dan cepat.
karena berkesan buruk... ini satu-satunya tempat yang tidak aku rekomendasikan untuk dikunjungi! kalo mo makan pempek di Lampung cobain pempek numerik lainnya deh...
separuh terakhir siang/sore di Lampung ini aku sambung di posting berikutnya ya :)
karena malamnya begadang ampe pagi... abis dari jalan-jalan tengah malam, aku masih nonton TV dulu sambil nge-charge beberapa perangkat, dan gak tau kenapa aku juga sulit tidur ampe subuh menjelang.
bangunnya udah pasti siang :D ... belum ada kepastian mo makan di mana hari ini (1 Januari 2012). ketergantungan tinggi terhadap nyamannya jok belakang BMW emang repot juga, mo naik angkot tapi males juga, maklum backpacker-semi-gedongan :D akhirnya sambil nunggu temen menjemput, aku putusin untuk jalan kaki sejenak membakar lemak Wagyu semalam :)
menyusuri jalan Raden Intan, ternyata meskipun jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 10 siang, masih banyak toko yang belum buka. mungkin karena ini hari minggu, mungkin karena ini tanggal 1 januari, mungkin karena semalam pada begadang ampe pagi, mungkin cuti bersama... pelan-pelan sambil liat kiri-kanan aku susuri jalan ampe perempatan, tugu gajah.
dari tugu gajah (tugu adipura dikelilingi gajah) menuju jalan Kartini kita bisa melewati jalan Ahmad Yani. gak beberapa lama menyusuri jalan Ahmad Yani, dikit lagi ampe ujung (masuk jalan Kartini) gerimis mengundang. lari-lari kecil aku menuju sebuah SPBU Pertamina (SPBU Kartini). wah sial banget aku pikir, padahal udah ampir nyampe sebuah pusat perbelanjaan, paling enggak kan bisa nongkrong di situ dengan aman. ternyata ini jalan langit untuk mempertemukan aku dengan tempat makan pertama hari ini... Mie Jogja Pak Karso!
hari ini emang niat mo makan mie Lampung, tapi bukan mie Jogja :D ... ya terpaksa deh kaki melangkah menyeberang jalan menyambut harumnya kuah mie godhog. ehm uniknya Mie Jogja Pak Karso ini kolaborasi dengan Ayam Penyet Suroboyo, baguslah sesama orang Indonesia emang harus saling membantu :) kalo liat dari daftar menunya, Mie Jogja Pak Karso ini ternyata warung/resto waralaba nasional lho... cabangnya ada di banyak kota, Muntilan, Samarinda, Dumai, Palembang, Bogor, Palangkaraya, Bali, Lampung, Medan, Banjarmasin, Jakarta, Malang, Solo, Pekanbaru, Kediri, Semarang, Bintaro... banyak kan? tapi sayangnya belum buka cabang di Jogjakarta :) (kasian orang Jogja gak bisa nyobain Mie Pak Karso di kampung halaman...).
harga makanan dan minuman di sini beragam, tapi gak mahal kok. minum paling mahal es buah 10 ribu, makan paling mahal Ayam Penyet 18 ribu (udah sama nasi+tahu+tempe). meskipun aku penggemar mie goreng, kali ini kayaknya mie godhog (godog atau godhog?) lebih merangsang... jadilah pesan mie godhog ayam (14 ribu) dan teh manis panas (3 ribu). lumayan buat camilan sambil menunggu reda hujan.
rasanya lumayan enak :) gak enak banget emang :D kuahnya mantap, mie-nya gemuk-gemuk dan kenyal, toppingnya juga pelit. sensai mie jawa tuh setauku dimasak di atas tungku arang, tapi yang ini "hanya" memakai kompor gas biasa... jadi ada sedikit perbedaan rasa, tapi satu piring mie godhog ini lenyaB juga dalam sekejaP :D dan ternyata ini camilan yang kerasa berat juga di perut (ya iya lah! :D )
tidak lama teman yang akan mengantar, datang menjemput... lagi-lagi naik BMW :D
setelah mencapai mufakat, kami memutuskan untuk makan pempek aja... sekali lagi ini bukan makanan khas Lampung, tapi konon harus dicobain juga :D kami pun berikhtiar mencari pempek lokal yang terkenal, pilihan jatuh pada Pempek 123 (ada juga pempek numerik lain, 56, kok sama kayak bakpia numerik di Jogja ya?). BMW pun melaju menembus gerimis ringan... tapi aku lupa tuh di daerah mana.
Pempek 123 ini jadi tempat paling menyebalkan dalam wisata kuliner di Lampung kali ini. aku gak masalah sih kalo ampe nyasar jauh di Panjang karena nyari Pindang Patin (meskipun aku dah biasa makan pindang). tapi yang paling nyebelin tuh adalah pelayanannya yang buruk sekali! aku dan temenku emang dandan gembel pake motor butut, tapi kan kami pelanggan. entah emang itu udah jadi standar pelayanan di sini. untuk rasa pempek yang biasa-biasa aja buatku, harganya mahal dan pelayannya cemberut sepanjang masa. waktu makan di RM Rasa Palembang (baca posting sebelumnya), meskipun harganya mahal dan tampang kami gembel, pelayannya lebih ramah dan cepat.
karena berkesan buruk... ini satu-satunya tempat yang tidak aku rekomendasikan untuk dikunjungi! kalo mo makan pempek di Lampung cobain pempek numerik lainnya deh...
separuh terakhir siang/sore di Lampung ini aku sambung di posting berikutnya ya :)
Langganan:
Postingan (Atom)


