ini akan menjadi kumpulan tanpa aturan, diambil dari banyak kertas, yang telah kukutip di sini, dengan harapan aku akan mengaturnya kemudian menurut pokok-pokok yang kubahas; dan aku yakin aku pasti mengulang pokok yang sama beberapa kali; untuk ini, oh pembaca, jangan salahkan aku... (Leonardo)
16 Maret 2013
senjakala
Foto di atas adalah siluet rumah tetanggaku di kampung, wajah langit senja sebelum Nyepi tahun ini (2013 M, Tahun Baru Saka 1935), jelang pawai ogoh-ogoh.
Berkurangnya intensitas cahaya matahari tidak selalu berakhir dengan malam kelam, begitu juga dengan hidup. Langit senja berwarna indah. Malam cerah langit penuh bintang.
24 Februari 2013
akhir pekan berkesan: SKK
maafkan aku wahai sidang pembaca... karena alasan etis tertentu, aku tidak bisa berbagi terlalu rinci dalam tulisan ini.
Alhamdulillah... aku baru saja mengalami salah satu momen penting yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Meskipun tidak dapat bercerita dengan lebih rinci, aku memerlukan tulisan ini untuk menandai dua hari yang sangat berkesan di akhir pekan paling ujung dari bulan februari 2013. Suatu hari... Insya Allah... bertahun-tahun kemudian, aku akan membaca kembali tulisan ini dan bersyukur sekali lagi kepada Tuhan atas kesempatan yang telah Dia berikan.
Mudah-mudahan setelah hari ini aku dapat lebih bijaksana dalam memanfaatkan waktu luangku yang berlimpah. Amin.
Terima kasih banyak HH-S dan AS-S! Mari kita tunggu dan lihat bersama... apa yang akan terjadi dalam kurun waktu lima tahun dari sekarang!
Alhamdulillah... aku baru saja mengalami salah satu momen penting yang tidak akan terlupakan seumur hidup. Meskipun tidak dapat bercerita dengan lebih rinci, aku memerlukan tulisan ini untuk menandai dua hari yang sangat berkesan di akhir pekan paling ujung dari bulan februari 2013. Suatu hari... Insya Allah... bertahun-tahun kemudian, aku akan membaca kembali tulisan ini dan bersyukur sekali lagi kepada Tuhan atas kesempatan yang telah Dia berikan.
Mudah-mudahan setelah hari ini aku dapat lebih bijaksana dalam memanfaatkan waktu luangku yang berlimpah. Amin.
Terima kasih banyak HH-S dan AS-S! Mari kita tunggu dan lihat bersama... apa yang akan terjadi dalam kurun waktu lima tahun dari sekarang!
20 Februari 2013
kuliner seminggu ini di Bandung
sembari mengisi waktu luang yang berlimpah di sela-sela waktu makan dan tidur... tentu saja tambah satu alasan lagi untuk menunda pekrjaan yang lebih penting. hidup prokrastinasi!
Ini adalah daftar singkat (seingatku) yang merangkum pengalaman bersantap di Kota Bandung dalam seminggu ini, tentu saja tulisan ini tidak akan memuat tempat-tempat makan yang biasa aku kunjungi. Tiga kali makan siang dengan tiga orang yang berbeda...
Kedai Es Krim di Jalan Sulanjana nomor 30
Jalan Sulanjana adalah salah satu jalan pendek di dalam kota. Jalan ini menghubungkan Jalan Tamansari dan Jalan Ir. H. Juanda (atau Dago) dengan panjang sekitar 350 meter. Meskipun relatif pendek, jalan ini "dipadati" oleh cukup banyak bangunan komersil. Pada kesempatan lain aku akan membahas lebih rinci seputar jalan ini.
Di Jalan Sulanjana nomor 30 kita akan menemukan tempat makan yang sederhana, dibandingkan dengan tempat makan di sebelahnya. Daftar makanan dan minuman yang ditawarkan menurutku tidak cukup banyak, tetapi lumayan bervariasi. Menu pilihanku kali ini adalah es krim.
Aku bukan penggemar berat es krim, tetapi es krim yang ditawarkan di sini diklaim sebagai es krim buatan rumah (sayangnya aku lupa nama mereknya). Selain menjanjikan pengalaman rasa yang unik, harganya pun tidak terlalu mahal (sebenarnya harga adalah pertimbangan utamaku). Di dalam daftar menunya, harga termahal yang tercantum adalah Rp.12.000,00 saja, cukup murah kan?
Aku memesan Brownies Ice Cream sebagai hidangan penutup (setelah Lomie yang rasanya lumayan juga) dengan harga Rp.10.000,00 per porsi. Menu ini terdiri dari sepotong brownies dengan dua scoop es krim di atasnya dan disiram dengan saus coklat ditambah taburan butiran coklat. Rasanya? Sebagai bukan-penggemar-berat-es-krim, aku harus mengatakan bahwa rasa menu ini melebihi ekpektasiku. Enak! Pada kesempatan lain aku sudah merencanakan untuk memesan Banana Split dan atau es krim gorengnya.
Aku pribadi sangat merekomendasikan untuk menikmati es krim di kedai ini (Sulanjana 30)!
Dim Sum enak dan Bakmi biasa di Kantin Tong Tong Baltos
Menyusuri ke arah barat dari Sulanjana kemudian berbelok ke utara, kita akan menemukan Balubur Town Square (Baltos) di Tamansari tepat sebelum lampu merah. Sama seperti pusat perbelanjaan modern lainnya, Baltos juga menawarkan banyak pilihan tempat makan... salah satunya adalah Kantin Tong Tong (entah apa hubungannya dengan Pasar Tong Tong di kawasan Cihampelas Walk, Ciwalk).
Sekali lagi pertimbangan utama untuk mencoba makan siang di sini adalah rayuan harganya yang "konon" murah. Setelah menyimak daftar menu dengan seksama... untuk ukuran makan di pusat belanja modern ditambah dengan fasilitas wifi-nya menurutku harga yang ditawarkan cukup rasional, murah. Dengan selembar uang dua puluh ribuan, kita sudah bisa menikmati makan siang plus minum dan gratis berselancar di dunia maya (buat yang sungguh-sungguh ingin memaksimalkan uangnya!)
Menu yang pertama kali aku nikmati di Kantin ini adalah paket makan siang yang tersiri dari Bakmi Nyam-nyam dan Teh Botol. Aku penggemar berat Mi! Aku lupa label harga paket makan siang ini... lebih dari lima belas ribu kalau tidak keliru. Rasanya?... Sebagai penggemar mi, menurutku masih ada penjual bakmi atau mi goreng yang lebih enak di sekitar Baltos dengan harga yang lebih murah. Rasanya biasa!
Sedikit kecewa dengan bakmi, aku kembali memesan tahu-isi goreng dan segelas kopi hitam. Temanku iseng memesan dim sum dan minuman soda dingin. Ternyata... tahu gorengnya lebih mengecewakan, masalahnya tidak terbenam di rasanya, tetapi kulit luarnya yang keras dan sulit-digigit. Kopi hitamnya juga terasa dangkal... entah jenis kopi bubuk yang salah, entah takarannya yang kurang.
Kejutan menariknya dari makan siang yang kelamaan dan terjerumus menjadi makan sore ini adalah dim sum yang dipesan oleh temanku. Temanku memesan dim sum (lupa namanya) yang di dalamnya tersembunyi seekor udang. Ternyata di akhir sesi makan siang yang molor ini aku beruntung dapat menikmati dim sum yang cukup enak. Aku lupa harganya, sepuluh atau lima belas ribu untuk tiga (atau empat ya? lupa juga) ekor udang yang bersembunyi di dalam selaput tipis.
Jadi, sepertinya cukup aman untuk menyatakan bahwa menu Dim Sum di Kantin Tong Tong, enak!
Ketan Bakar gosong di The Kiosk Dago
The Kiosk adalah salah satu pusat jajanan yang memiliki cukup banyak cabang di Bandung, di antaranya berlokasi di Ciwalk dan Baltos. Pusat jajanan ini menghimpun beberapa "merek" makanan yang sudah terkenal kedalam satu tempat. The Kiosk terakhir yang aku kunjungi adalah cabang yang terletak di Dago (pun tidak jauh dari Sulanjana).
Tidak sulit untuk mendapatkan predikat enak dari lidahku. Sederhananya aku hampir tidak pernah menolak makanan apapun yang ditawarkan kepadaku, apalagi makanan gratis.
Hampir semua kios yang mengisi The Kiosk menawarkan sajian kuliner yang bener-bener bisa bikin ngiler. Siang itu aku ngiler melihat pilihan menu ketan bakar (setelah menyantap iga bakar yang istimewa rasanya). Harganya Rp.6.500,00 per butirnya, lebih dari dua kali lipat harga eceran di pinggir jalan atau bawah jalan layang yang sekitar tiga ribuan saja (atau lebih murah). Apakah rasanya dua kali lipat lebih enak?
Menurutku... ketan bakar yang tetap aku habiskan (meskipun aku kritik rasanya) kemarin itu rasanya tidak memenuhi pengharapanku dari harganya yang dua kali lipat lebih mahal dari ketan bakar yang biasa aku beli. Untuk harga enam ribu lima ratus perak, aku mengharapkan paling tidak rasanya cukup enak dan nyaman di lidah... tetapi aku harus menelan rasa kecewa bersama ketan yang dibakar terlalu gosong dan saus kacang (atau oncom ya?) yang rasanya juga kurang pas.
Jadi, buat kamu yang berminat bersantap ria di The Kiosk Dago... aku tidak menyarankan untuk memesan ketan bakarnya! Atau mungkin... aku saja yang sedang sial.
Sekianlah cerita singkat jelajah lidahku di Bandung dalam seminggu terakhir. Ingatlah bahwa bumbu yang paling sedap adalah rasa lapar! Dan apapun yang terjadi, terima kasih Tuhan atas kesempatan untuk menikmati makanan yang telah Kau berikan kepada kami.
Selamat menikmati hidup!
Ini adalah daftar singkat (seingatku) yang merangkum pengalaman bersantap di Kota Bandung dalam seminggu ini, tentu saja tulisan ini tidak akan memuat tempat-tempat makan yang biasa aku kunjungi. Tiga kali makan siang dengan tiga orang yang berbeda...
Kedai Es Krim di Jalan Sulanjana nomor 30
Jalan Sulanjana adalah salah satu jalan pendek di dalam kota. Jalan ini menghubungkan Jalan Tamansari dan Jalan Ir. H. Juanda (atau Dago) dengan panjang sekitar 350 meter. Meskipun relatif pendek, jalan ini "dipadati" oleh cukup banyak bangunan komersil. Pada kesempatan lain aku akan membahas lebih rinci seputar jalan ini.
Di Jalan Sulanjana nomor 30 kita akan menemukan tempat makan yang sederhana, dibandingkan dengan tempat makan di sebelahnya. Daftar makanan dan minuman yang ditawarkan menurutku tidak cukup banyak, tetapi lumayan bervariasi. Menu pilihanku kali ini adalah es krim.
Aku bukan penggemar berat es krim, tetapi es krim yang ditawarkan di sini diklaim sebagai es krim buatan rumah (sayangnya aku lupa nama mereknya). Selain menjanjikan pengalaman rasa yang unik, harganya pun tidak terlalu mahal (sebenarnya harga adalah pertimbangan utamaku). Di dalam daftar menunya, harga termahal yang tercantum adalah Rp.12.000,00 saja, cukup murah kan?
Aku memesan Brownies Ice Cream sebagai hidangan penutup (setelah Lomie yang rasanya lumayan juga) dengan harga Rp.10.000,00 per porsi. Menu ini terdiri dari sepotong brownies dengan dua scoop es krim di atasnya dan disiram dengan saus coklat ditambah taburan butiran coklat. Rasanya? Sebagai bukan-penggemar-berat-es-krim, aku harus mengatakan bahwa rasa menu ini melebihi ekpektasiku. Enak! Pada kesempatan lain aku sudah merencanakan untuk memesan Banana Split dan atau es krim gorengnya.
Aku pribadi sangat merekomendasikan untuk menikmati es krim di kedai ini (Sulanjana 30)!
Dim Sum enak dan Bakmi biasa di Kantin Tong Tong Baltos
Menyusuri ke arah barat dari Sulanjana kemudian berbelok ke utara, kita akan menemukan Balubur Town Square (Baltos) di Tamansari tepat sebelum lampu merah. Sama seperti pusat perbelanjaan modern lainnya, Baltos juga menawarkan banyak pilihan tempat makan... salah satunya adalah Kantin Tong Tong (entah apa hubungannya dengan Pasar Tong Tong di kawasan Cihampelas Walk, Ciwalk).
Sekali lagi pertimbangan utama untuk mencoba makan siang di sini adalah rayuan harganya yang "konon" murah. Setelah menyimak daftar menu dengan seksama... untuk ukuran makan di pusat belanja modern ditambah dengan fasilitas wifi-nya menurutku harga yang ditawarkan cukup rasional, murah. Dengan selembar uang dua puluh ribuan, kita sudah bisa menikmati makan siang plus minum dan gratis berselancar di dunia maya (buat yang sungguh-sungguh ingin memaksimalkan uangnya!)
Menu yang pertama kali aku nikmati di Kantin ini adalah paket makan siang yang tersiri dari Bakmi Nyam-nyam dan Teh Botol. Aku penggemar berat Mi! Aku lupa label harga paket makan siang ini... lebih dari lima belas ribu kalau tidak keliru. Rasanya?... Sebagai penggemar mi, menurutku masih ada penjual bakmi atau mi goreng yang lebih enak di sekitar Baltos dengan harga yang lebih murah. Rasanya biasa!
Sedikit kecewa dengan bakmi, aku kembali memesan tahu-isi goreng dan segelas kopi hitam. Temanku iseng memesan dim sum dan minuman soda dingin. Ternyata... tahu gorengnya lebih mengecewakan, masalahnya tidak terbenam di rasanya, tetapi kulit luarnya yang keras dan sulit-digigit. Kopi hitamnya juga terasa dangkal... entah jenis kopi bubuk yang salah, entah takarannya yang kurang.
Kejutan menariknya dari makan siang yang kelamaan dan terjerumus menjadi makan sore ini adalah dim sum yang dipesan oleh temanku. Temanku memesan dim sum (lupa namanya) yang di dalamnya tersembunyi seekor udang. Ternyata di akhir sesi makan siang yang molor ini aku beruntung dapat menikmati dim sum yang cukup enak. Aku lupa harganya, sepuluh atau lima belas ribu untuk tiga (atau empat ya? lupa juga) ekor udang yang bersembunyi di dalam selaput tipis.
Jadi, sepertinya cukup aman untuk menyatakan bahwa menu Dim Sum di Kantin Tong Tong, enak!
Ketan Bakar gosong di The Kiosk Dago
The Kiosk adalah salah satu pusat jajanan yang memiliki cukup banyak cabang di Bandung, di antaranya berlokasi di Ciwalk dan Baltos. Pusat jajanan ini menghimpun beberapa "merek" makanan yang sudah terkenal kedalam satu tempat. The Kiosk terakhir yang aku kunjungi adalah cabang yang terletak di Dago (pun tidak jauh dari Sulanjana).
Tidak sulit untuk mendapatkan predikat enak dari lidahku. Sederhananya aku hampir tidak pernah menolak makanan apapun yang ditawarkan kepadaku, apalagi makanan gratis.
Hampir semua kios yang mengisi The Kiosk menawarkan sajian kuliner yang bener-bener bisa bikin ngiler. Siang itu aku ngiler melihat pilihan menu ketan bakar (setelah menyantap iga bakar yang istimewa rasanya). Harganya Rp.6.500,00 per butirnya, lebih dari dua kali lipat harga eceran di pinggir jalan atau bawah jalan layang yang sekitar tiga ribuan saja (atau lebih murah). Apakah rasanya dua kali lipat lebih enak?
Menurutku... ketan bakar yang tetap aku habiskan (meskipun aku kritik rasanya) kemarin itu rasanya tidak memenuhi pengharapanku dari harganya yang dua kali lipat lebih mahal dari ketan bakar yang biasa aku beli. Untuk harga enam ribu lima ratus perak, aku mengharapkan paling tidak rasanya cukup enak dan nyaman di lidah... tetapi aku harus menelan rasa kecewa bersama ketan yang dibakar terlalu gosong dan saus kacang (atau oncom ya?) yang rasanya juga kurang pas.
Jadi, buat kamu yang berminat bersantap ria di The Kiosk Dago... aku tidak menyarankan untuk memesan ketan bakarnya! Atau mungkin... aku saja yang sedang sial.
Sekianlah cerita singkat jelajah lidahku di Bandung dalam seminggu terakhir. Ingatlah bahwa bumbu yang paling sedap adalah rasa lapar! Dan apapun yang terjadi, terima kasih Tuhan atas kesempatan untuk menikmati makanan yang telah Kau berikan kepada kami.
Selamat menikmati hidup!
18 Februari 2013
Alfamart versus Indomaret: Edisi Gubeng
Masih soal perang dua raja minimarket lokal... Maaf sekali wahai sidang pembaca jika topik ini membosankan.
Di Stasiun Gubeng, kita dapat menemukan Alfamart dan Indomaret jika kita memasuki stasiun dari arah Jalan Gubeng Masjid. Menghadap ke pintu masuk peron (dari luar), Alfamart ada di sisi kiri jauh setelah deretan loket tiket dan Indomaret dibuka di sisi kanan jauh ke arah toilet dan pintu keluar peron.
Tampilan fisik kedua minimarket ini tidak terlalu istimewa, standar gerai keduanya. Meskipun lupa detailnya, sepertinya kedua gerai ini juga beroperasi pada jam dan durasi yang sama. Singkatnya, kedua gerai menawarkan barang dagangan yang serupa dengan harga normal (maksudku tidak menjadi lebih mahal meskipun letaknya strategis) dan program-program promo yang berlaku nasional (sama dengan semua gerai mereka di seluruh penjuru negeri).
Tetapi jika harus menilai... sekali lagi Alfamart adalah pemenangnya!
Meskipun ini hanyalah penilaian subyektif yang hanya dibuat berdasarkan satu kali pengalaman belanja... sekali lagi aku mendapatkan kesan bahwa para pegawai di Alfamart lebih ramah daripada di Indomaret. Selain itu, sistem kasir yang lebih modern (dengan layar sentuh yang cukup lebar dan menghadap ke arah pelanggan)... Alfamart jauh lebih unggul daripada Indomaret, khususnya pada kedua gerai yang beroperasi di Stasiun Gubeng.
Menurutku pihak Indomaret harus memberi perhatian lebih pada peningkatan kualitas pelayanannya, khususnya pada sektor SDM yang bekerja di lini depan toko. Pada beberapa kali pengalaman acakku berbelanja, secara umum aku merasakan bahwa para panjaga toko Alfamart lebih ramah daripada di Indomaret. Selain itu, Indomaret juga mungkin harus mengganti juga mesin kasirnya dengan yang lebih modern. Mesin kasir memang tugas utamanya adalah menghitung jumlah belanjaan, sederhana saja. Tetapi, mesin kasir yang lebih bagus (paling tidak secara fisik, misalnya dengan tampilan daftar belanja yang jelas pada monitor yang cukup terbaca oleh pelanggan) dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Aku bukan ahli ekonomi atau bisnis... hanya seorang laki-laki sederhana yang gemar berjalan kaki. Jika suatu saat kamu, seperti aku, tersesat atau tersasar di Stasiun Gubeng dan ingin membeli makanan/minuman ringan atau belanja eceran lainnya... Aku sarankan untuk berbelanja di Alfamart.
Sekali lagi, Alfamart menang tipis 1-0 dari Indomaret di Stasiun Gubeng.
update: aku kembali lagi lho pada tahun 2015, baca di sini
Di Stasiun Gubeng, kita dapat menemukan Alfamart dan Indomaret jika kita memasuki stasiun dari arah Jalan Gubeng Masjid. Menghadap ke pintu masuk peron (dari luar), Alfamart ada di sisi kiri jauh setelah deretan loket tiket dan Indomaret dibuka di sisi kanan jauh ke arah toilet dan pintu keluar peron.
Tampilan fisik kedua minimarket ini tidak terlalu istimewa, standar gerai keduanya. Meskipun lupa detailnya, sepertinya kedua gerai ini juga beroperasi pada jam dan durasi yang sama. Singkatnya, kedua gerai menawarkan barang dagangan yang serupa dengan harga normal (maksudku tidak menjadi lebih mahal meskipun letaknya strategis) dan program-program promo yang berlaku nasional (sama dengan semua gerai mereka di seluruh penjuru negeri).
Tetapi jika harus menilai... sekali lagi Alfamart adalah pemenangnya!
Meskipun ini hanyalah penilaian subyektif yang hanya dibuat berdasarkan satu kali pengalaman belanja... sekali lagi aku mendapatkan kesan bahwa para pegawai di Alfamart lebih ramah daripada di Indomaret. Selain itu, sistem kasir yang lebih modern (dengan layar sentuh yang cukup lebar dan menghadap ke arah pelanggan)... Alfamart jauh lebih unggul daripada Indomaret, khususnya pada kedua gerai yang beroperasi di Stasiun Gubeng.
Menurutku pihak Indomaret harus memberi perhatian lebih pada peningkatan kualitas pelayanannya, khususnya pada sektor SDM yang bekerja di lini depan toko. Pada beberapa kali pengalaman acakku berbelanja, secara umum aku merasakan bahwa para panjaga toko Alfamart lebih ramah daripada di Indomaret. Selain itu, Indomaret juga mungkin harus mengganti juga mesin kasirnya dengan yang lebih modern. Mesin kasir memang tugas utamanya adalah menghitung jumlah belanjaan, sederhana saja. Tetapi, mesin kasir yang lebih bagus (paling tidak secara fisik, misalnya dengan tampilan daftar belanja yang jelas pada monitor yang cukup terbaca oleh pelanggan) dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Aku bukan ahli ekonomi atau bisnis... hanya seorang laki-laki sederhana yang gemar berjalan kaki. Jika suatu saat kamu, seperti aku, tersesat atau tersasar di Stasiun Gubeng dan ingin membeli makanan/minuman ringan atau belanja eceran lainnya... Aku sarankan untuk berbelanja di Alfamart.
Sekali lagi, Alfamart menang tipis 1-0 dari Indomaret di Stasiun Gubeng.
update: aku kembali lagi lho pada tahun 2015, baca di sini
15 Februari 2013
selingan: XXX dan 69
Tulisan ini banyak mengandung konten "dewasa"... bukan untuk mereka yang berhati bersih atau berniat membersihkan hati.
Kalimat-kalimat di bawah ini adalah kompilasi dari sebuah akun dewasa yang "tidak sengaja" aku baca. Kalimat-kalimat yang sangat menusuk... atau menggelitik... atau keduanya.
If you bite my lip or neck. You better start taking your f**king clothes off, just saying.
Wine, dine, & sixty nine.
Early morning sex has been proven to be more effective than coffee.
Nobody cleans a house faster than a guy expecting sex.
Man are born between a woman's leg and spend the rest of their lives trying to get back between them... why? Because there's no place like home!
Real men like curves, only dogs go for bones.
dan masih banyak lagi....
Aku selalu berusaha untuk bersikap jujur dan terbuka dalam banyak hal... Paling tidak ada satu kalimat di atas yang diamini oleh khususnya kaum adam, termasuk aku. Tulisan ini juga dipastikan akan menerbitkan persepsi dan atau penafsiran negatif terhadapku. Tidak masalah.
Selamat malam! Selamat mimpi indah!
Kalimat-kalimat di bawah ini adalah kompilasi dari sebuah akun dewasa yang "tidak sengaja" aku baca. Kalimat-kalimat yang sangat menusuk... atau menggelitik... atau keduanya.
If you bite my lip or neck. You better start taking your f**king clothes off, just saying.
Wine, dine, & sixty nine.
Early morning sex has been proven to be more effective than coffee.
Nobody cleans a house faster than a guy expecting sex.
Man are born between a woman's leg and spend the rest of their lives trying to get back between them... why? Because there's no place like home!
Real men like curves, only dogs go for bones.
dan masih banyak lagi....
Aku selalu berusaha untuk bersikap jujur dan terbuka dalam banyak hal... Paling tidak ada satu kalimat di atas yang diamini oleh khususnya kaum adam, termasuk aku. Tulisan ini juga dipastikan akan menerbitkan persepsi dan atau penafsiran negatif terhadapku. Tidak masalah.
Selamat malam! Selamat mimpi indah!
Langganan:
Postingan (Atom)