31 Oktober 2011

inspirational leader

karena belum bisa tidur... aku memutuskan untuk posting satu tulisan lagi. tulisan ini "diilhami" oleh satu artikel yang aku baca (dan akan aku kutip sebagian) pada halaman Harvard di Facebook. artikel penuh dimuat pada Harvard University Gazette October 13-26, 2011.

dalam "Henry V" William Shakespere menciptakan sebuah model kepemimpinan, inspirational leader, yang menurutku (setelah membaca artikel ini) adalah model yang sempurna untuk kondisi bangsa-negara kita saat ini. sementara pak Beye lebih tepat diklasifikasikan sebagai charismatic leader yang egois (menurutku lho). pak Beye terlalu sibuk mengurus citra diri dan menjaga kepentingan orang-orang dekatnya (yang cuma segelintir dibandingkan ratusan juta penduduk Indonesia) demi melanggengkan jatah kekuasaannya yang terakhir ini.

kalo Bung Karno menurutku adalah kombinasi dari kedua tipe pemimpin ini. malah lebih rumit lagi kalo ditambah dengan sifatnya yang flamboyan :) aku tidak tahu apakah kita membutuhkan pemimpin seperti Bung Karno (dan Bung Hatta) lagi untuk membawa Indonesia jadi lebih baik dari sekarang, karena kedua pemimpin ini pun manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan... tapi yang pasti idolaku tetap duet Bung Karno-Hatta! :)

ok... ini penggalan artikel yang relevan dengan situasi (krisis) kepemimpinan di Indonesia, khususnya. meskipun artikel ini merujuk pada kepemimpinan secara umum di mana pun.

Olivier told the class that the key to Henry’s success was his ability to be an inspirational leader, rather than a charismatic one.

“The charismatic leader will often use people to reflect glory and greatness upon themselves,” he said. “The inspired leader may not be able to pack a football stadium full of 100,000 people chanting their name, but they don’t care about that. The inspired leader wants to get a few people engaged to make a difference to something important. They’re here for a while to do their best. If they can leave the world a bit better, that’s enough.

...

Shapiro says that this sort of inspirational leader – someone who knows him or herself, someone driven by the common good, rather than ego – is best able to engage in successful negotiation and conflict management. Leaders in government and politics could learn a lot from Henry V, he says.

gitu deh kira-kira... gimana pendapat kamu?

Richard Olivier, son of famed actor Sir Laurence Olivier, delivered the St. Crispin’s Day speech from William Shakespeare’s “Henry V” during “Negotiation and Conflict Management,” a course by Harvard International Negotiation Program Director Daniel Shapiro that focuses on the emotional and identity-based aspects of conflict that often confound easy resolution.

30 Oktober 2011

The Kitchen Musical

minggu ini aku melewatkan penayangan serial ini... sebel juga, tapi ya sudahlah :)
kabar baiknya adalah (aku baru tau nih, ndeso banget :D) aku nemuin satu saluran youtube seputar serial ini. klik disini dan kamu tidak akan menyesal :D ada klip lagu-lagu pada episode yang sudah lewat. ada juga klip-klip promo yang menarik. ya lumayanlah daripada sama sekali tidak menonton :D

selamat menikmati! dan tetap menyanyi ya! :)

makna sahabat

hari yang melelahkan... hari ini, sabtu 29 oktober 2011. kelelahan yang layak :)
tidak banyak manusia di dunia yang diberi kesempatan untuk menikmati hidup dengan para sahabat. lebih dari 14 tahun yang lalu, takdir mempertemukan 13 orang yang sebagian besar kampungan :D dengan latar belakang yang berbeda-beda, dengan minat yang tidak sama, dengan hanya satu kesamaan: nomor ujian kami tercantum pada lembaran khusus hasil UMPTN 1997 pada sebuah koran.

waktu adalah salah satu alat uji yang paling handal dalam menilai sebuah persahabatan. tiga belas tahun memang belum terlalu lama, persahabatan kami masih harus diuji berpuluh tahun lagi. jarak, tidak bisa dipungkiri lagi juga menjadi ujian terbesar. meskipun dengan menjamurnya media komunikasi yang ada saat ini, apapun pandangan kami soal modernisasi kehidupan... aku tetap merasa bahwa pertemuan fisik sangat penting untuk dilakukan. pembicaraan langsung tatap-mata, sentuhan jabat tangan, reaksi spontan (ekspresi mikro istilah temanku), kedekatan fisik, hangatnya kopi yang kami bagi, percakapan-percakapan spontan yang bisa ngalor dari masalah gosip sampai ngidul masalah negara, semua hal fisik yang tidak bisa, dan tidak akan bisa digantikan oleh dinginnya hand-set atau keyboard atau detail gambar di monitor... apalagi cuma curhat di blog ini :D atau curhat di facebook atau mikroblog twitter. ya... aku tau dalam beberapa hal aku bisa jadi sangat terbuka dengan perkembangan zaman (dan teknologi) tapi untuk urusan manusia menurutku "kulit ke kulit" masih yang terbaik :) Ndeso! :D

31 oktober 2008, salah seorang sahabat kami pergi... banyak hal yang berubah. alhamdulillah perubahan baik, paling tidak yang aku rasakan. tiga tahun terakhir kami menjadi semakin dekat. sebelumnya aku harus bilang kalo keeratan hubungan kami tidak berarti kami jadi sangat saling tergantung. malah kami bangga dengan kemadirian dan perbedaan kami :) kami saling mendukung tapi tidak membebani. kami saling menyayangi tapi tidak mencampuri. ya.. sekali-kali emang ada yang bayari alias traktir makan :D

tiga tahun terakhir kami menjadi lebih sering bertemu. tidak ada yang istimewa, sekedar berbagi cerita dan ceria. apakah kami pernah kehabisan bahan cerita? pernah pastinya, tapi itu tidak membuat kami bosan dan kapok :D buat aku sendiri pertemuan rutin ini jadi semacam pelarian kecil dari rutinitas. pelarian yang sehat dan menyegarkan.

ehm... aku gak mau tulisan ini berlanjut jadi curhat yang lebih dalam dan intim :) cerita tentang kami 13 orang yang beruntung sudah menyala belasan tahun dan akan tetap kami jaga sampai belasan atau bahkan puluhan tahun lagi sampai 1000 tahun lagi, kalo boleh pinjem istilah Chairil Anwar :)

teman-teman... jagalah teman-teman kalian, pupuk menjadi sahabat. usia di tangan Tuhan, hidupkanlah hidup dengan sahabat-sahabat kalian. kematian tidak akan memisahkan seorang sahabat. kehidupan kita tidak akan sia-sia bila setelah mati kita masih "hidup" di hati para sahabat.

untuk mengenang "Ical" dan untuk semua sahabatku (terima kasih banyak sudah memberikan warna terindah dalam pelangi hidupku!) ...

29 Oktober 2011

the moral side of murder

ini adalah kuliah pertama dari rangkaian Justice with Michael Sandel yang bisa kamu unduh dari saluran youtube ini. aku akan mencoba berbagi apa yang aku dapat dalam "kuliah" ini, dengan segala keterbatasanku. beberapa bagian akan aku kutip langsung untuk menghindari bias atau kesalahpahaman.

kuliah ini sebenernya dimulai dengan sebuah cerita, tapi sepertinya terlalu panjang untuk diungkap di sini... jadi kita akan langsung meloncat ke bagian yang menurutku penting.

untuk menilai (membenarkan atau menyalahkan) sebuah tindakan (misalnya pembunuhan) paling tidak kita memiliki dua sudut pandang. moral reasoning (istilah yang dipakai dalam kuliah ini) ada dua yaitu consequentialist dan categorical.

consequentialist - locates morality in the consequences of an act. jadi pertimbangan kita adalah konsekuensi apa yang akan terjadi sebagai hasil dari sebuah tindakan. misalnya, bila kita bisa menyelamatkan nyawa 5 orang dengan (terpaksa) membunuh 1 orang, tidakkah itu lebih baik? salah satu filsuf yang terkenal yang mendukung pandangan ini adalah Jeremy Bentham.
categorical - locates morality in certain (absolute moral requirements, certain categorical of duties and rights regardless of the consequences) duties and rights. membunuh adalah membunuh, dan membunuh adalah perbuatan yang salah apapun alasannya. bahkan bila membunuh 1 orang berarti menyelamatkan 5 orang, manusia tidak dibenarkan untuk membunuh manusia lain. Immanuel Kant disebut sebagai filfuf bagi pandangan ini.

kita sebagai manusia, menurutku terombang ambing di antara kedua pandangan ini. satu saat kita bisa saja menjadi seorang consequentialist, di lain kesempatan kita bisa berpihak pada kutub categorical.

Landen memperingatkan potensi "bahaya" dalam belajar filsafat. belajar filsafat akan membuat hal-hal yang selama ini akrab dengan kita menjadi sesuatu yang asing, yang biasa akan menjadi tidak sama lagi. filsafat tidak akan menyajikan fakta-fakta baru, tapi filsafat akan menawarkan cara baru dalam memandang sesuatu. dan sekali cara pandang kita berubah, semuanya tidak pernah akan kembali seperti semula... ini bukan proses yang bisa dibalik.

menurutku ini bukanlah sesuatu yang buruk... paling tidak perubahan punya dua sisi. kita bisa memilih untuk jadi lebih baik atau sebaliknya. selalu ada pilihan buat kita.

filsafat itu seperti sebuah cerita, cerita tentang kita, tetapi kita tidak pernah bisa tahu kemana arah cerita ini, kemana kita akan dibawa oleh cerita ini. filsafat bisa membuat kita menjadi individu yang lebih baik, atau yang lebih buruk, atau paling tidak lebih buruk sebelum menjadi yang lebih baik.

lantas kenapa kita harus belajar filsafat? bila waktu ribuan tahun tidak bisa membuat manusia memecahkan masalah moral (misalnya), filsafat selama ribuan tahun belum pernah memberikan jawaban yang bisa memuaskan semua orang, apalah artinya upaya kita ini? kenapa kita masih berfilsafat? Landen berpendapat karena masalah filsafat tidak akan bisa kita hindari, kita hidup dalam masalah-masalah ini.

nah kira-kira gitu deh isi kuliah pertamanya. tentu saja menonton rekaman sepenuhnya akan memberikan pemahaman yang lebih baik :)

28 Oktober 2011

sumpah pemuda 2011

aku mo ngutip opini Salahuddin Wahid pada Kompas edisi 28 Oktober 2011, lengkapnya beli aja korannya sendiri ya! :D murah kok cuma rp 3500 kalo eceran.

"Kita mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Namun, tanah yang satu itu sudah banyak yang dikuasai oleh pihak luar negeri... Kesatuan wilayah Tanah Air kita pertahankan dengan kekerasan terhadap anak bangsa di sejumlah tempat yang memprotes ketidakadilan.

Kita mengaku berbangsa yang satu, yaitu bangsa Indonesia, tetapi rasa berbangsa satu itu kian menipis. Sejumlah daerah ingin melepaskan diri dari bangsa Indonesia karena merasa diperlakukan tidak adil."

selanjutnya Salahuddin Wahid berpendapat bahwa "Tampaknya butir ketiga dari Sumpah Pemuda (bahasa persatuan, bahasa Indonesia) itulah yang masih tersisa dari ketiga butir Sumpah Pemuda. Memang ada sejumlah masalah dalam perkembangan bahasa Indonesia, tetapi secara keseluruhan masih bisa dianggap baik."

fakta yang menyedihkan yang terjadi saat ini pada Negara tercinta kita ini. aku hampir setuju dengan semua kandungan masalah yang diungkapkan beliau pada kolom opini ini, kecuali yang terakhir. aku lebih skeptis terhadap perkembangan bahasa Indonesia.

secara statistik aja kita bisa lihat pada nilai ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia, minat baca yang rendah, kurangnya penghargaan terhadap dunia sastra lokal... misalnya saja ada berapa banyak anak muda yang membaca majalah Horison? bahkan dalam blog ini pun, aku tidak pernah memakai bahasa Indonesia yang baku.

pemakaian bahasa pergaulan yang tidak baku emang masih bisa dimaklumi... hal ini paling banyak bisa kita amati pada pemakaian bahasa pada media jejaring sosial. televisi juga tidak banyak membantu, selain pada stasiun televisi berita sepertinya tidak banyak konten acara yang memakai bahasa tutur Indonesia yang baik. bahkan dalam pidato pak beye, dia juga suka nyelipin kata-kata bahasa inggris campur-sari Indonesia.

wah lagi-lagi aku jadi banyak mengeluh :D maaf ya... mungkin momen Sumpah Pemuda tahun ini bisa jadi momen yang bagus untuk kita merenungkan kembali makna tiga butir Sumpah Pemuda 1928 dalam konteks yang lebih kini, saat ini. menurutku, sederhananya kita bisa mulai dari butir ketiga :) meskipun gak gampang :D kita mulai dikit-dikit deh dengan mengganti kata-kata yang kita gunakan dalam percakapan sehari-hari semuanya dalam bahasa Indonesia. aku juga akan berusaha memakai bahasa Indonesia yang baik di blog ini :)

setelah memakai bahasa yang baik... mudah-mudahan bisa menumbuhkan rasa kebangsaan yang kuat. barulah kita membicarakan keutuhan tanah-air kita :)

semangat pemuda Indonesia!