SETIA Band adalah nama kelompok musik baru pecahan dari ST12. pasca bubarnya ST12, charly dan pepeng membentuk kelompok musik baru yang diberi nama Setia Band. mungkin nama ini diharapkan akan membuat para personilnya lebih setia dan loyal kepada band-nya :) jadi gak gampang bubar gitu. gak tau tuh gimana kabarnya pepep (personil lain dari ST12), mungkin bakal bikin band baru juga SET14 Band :D. tapi gak bisa pep, ternyata nama SET14 Band sudah dipakai oleh band lain asal Lampung sejak 2010! wah, Lampung emang produktif ya! ga kalah ama Bandung. mudah-mudahan bisa menyusul kesuksesan para seniornya seperti KANGEN Band atau HIJAU DAUN.
ok paragraf pertama tadi tidak ada hubungannya dengan yang tulisan yang mo aku sampaikan :D
menurutku, aku bukan laki-laki yang setia, meskipun belum pernah keluar dari dan atau membubarkan sebuah kelompok musik tertentu yang pernah eksis. menilik perjalanan hidupku dari kecil, tidak banyak hal yang mengindikasikan bahwa aku pernah setia kepada satu hal dalam jangka waktu yang cukup lama.
membaca boleh jadi hobi yang paling setia aku jalani sejak kecil ampe sekarang (dan seterusnya, mudah-mudahan). membaca ini bukan cuma membaca judul film atau nama toko dan jalan lho :D. dengan cukup percaya diri, aku boleh jadi termasuk pembaca yang serius. aku juga pembaca yang kritis, khususnya soal harga bahan bacaan :D. aku setuju dengan slogan salah satu toko buku besar "sebuah kamar tanpa buku, laksana sebuah tubuh tanpa jiwa," meskipun untuk kamarku yang sempit lebih tepatnya adalah "sebuah kamar tanpau buku laksana sebuah kamar tanpa debu." :D tapi sepertinya membaca tidak bisa masuk sebagai kategori hobi juga, mungkin lebih tepat sebagai "kebutuhan hidup." kita kan gak bisa bilang hobi makan, minum, dan tidur? jadi membaca dicoret dari daftar "setia."
aku gak punya sesuatu (banget) yang setia menemani kemana pun aku pergi. aku juga gak begitu setia kepada merek pembersih muka, sabun, shampoo, parfum atau sepatu tertentu. tapi aku punya merek alat cukur favorit yang emang sudah kubuktikan punya kualitas wahid, meskipun harganya juga hampir selangit. sejak pertama kali mandiri bercukur (kumis-jenggot dan kemudian rambut) a.k.a usia akil balig, meskipun sempat beberapa kali mencoba merek lain, sampe sekarang aku masih memakai produk dari merek yang sama (tentu saja dengan varian produk sesuai perkembangan). mungkin merek alat cukur ini bisa jadi masuk dalam daftar "setia"-ku.
entah mengapa, aku gak begitu tertarik dengan isu kemelekatan atau keterikatan pada sesuatu. mungkin ini juga salah satu alasan kenapa aku gak bisa setia dengan pasangan (alesan! :D). mungkin pembaca cukup sering mendengar ungkapan bahwa "orang yang tidak pernah memiliki tidak akan pernah kehilangan" atau ungkapan lain sejenis. kemelekatan atau keterikatan yang berlebihan pada sesuatu (barang atau jasa) dapat membuat kita sangat sedih ketika harus kehilangan barang tersebut atau tidak bisa lagi melakukan suatu kegiatan. kadang-kadang juga hal tersebut dapat mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang gak rasional bahkan cenderung konyol. misalnya, ulah para remaja labil yang tidak kebagian tiket konser atau perilaku anarkis gerombolan dewasa yang kuat otot tapi lemah otak.
pada usia remaja-dini aku pernah mengalami suatu peristiwa yang banyak mengubah cara pandangku dalam menilai seseorang. ceritanya begini, aku dan beberapa orang temanku mengalami tindak kekerasan di jalan oleh beberapa orang preman. nah, teman-temanku ini, yang aku anggap teman dekat saat itu, menceritakan pengalaman buruk kami ini dalam versi yang lebih heroik (sejatinya kami dibuat tidak berkutik oleh para preman). tidak cukup dengan menyombongkan diri mereka, sialnya aku kebagian peran "pengecut" dalam cerita versi mereka ini. meskipun aku masih berteman (sampai saat ini) dengan mereka, kejadian ini sangat membekas di dalam hati, meskipun juga ini bukan satu-satunya pengalaman "dikhianati."
mungkin, karena "konflik" ini tidak pernah diselesaikan secara baik selama bertahun-tahun, peristiwa tersebut baik secara sadar maupun tidak sadar sudah menjadi kerangka acuanku dalam menilai manusia lain. entah mengapa, aku jadi merasakan pola-pengkhianatan yang menghasilkan penderitaan yang serupa pada tahap-tahap perkembanganku selanjutnya. mungkin aja ini ada hubungannya dengan perilaku tidak-setia-ku. tapi mungkin juga tidak :D ...aku cuma lebay melalukan analisa diri, seperti biasa :D
wah... entah apa hubungan antara judul dan semua paragraf dalam tulisan kali ini :D tapi cukup lega rasanya bisa sedikit berbagi di sini. terima kasih buat yang sudah membaca sampai kalimat terakhir ini! :)
ini akan menjadi kumpulan tanpa aturan, diambil dari banyak kertas, yang telah kukutip di sini, dengan harapan aku akan mengaturnya kemudian menurut pokok-pokok yang kubahas; dan aku yakin aku pasti mengulang pokok yang sama beberapa kali; untuk ini, oh pembaca, jangan salahkan aku... (Leonardo)
11 Mei 2012
10 Mei 2012
empati
penelitian tim University of California mengungkapkan keber-agama-an secara simbolis membuat seseorang kurang empati terhadap sesama.
tepat sekali rasanya bila Sankara Saranam dalam God Without Religion menyarankan kita untuk "beribadah dengan bertanya." pun sewajarnya bila ada semakin banyak orang yang kecewa dengan institusi agama dan memutuskan untuk menjadi lebih sekular, atau lebih mendekatkan diri ke Tuhan (daripada agama), atau malah semakin kuat tekadnya untuk menjadi atheis, atau semakin yakin dengan ke-atheis-annya. meskipun demikian, aku percaya masih ada juga umat yang melaksanakan ajaran agamanya secara substantif, tidak secara simbolis belaka.
dahulu juga aku pernah membaca sebuah hasil penelitian yang cukup menghebohkan bahwa ada korelasi positif antara tingkat kecerdasan dan toleransi. (maaf aku lupa sumbernya). meskipun hasil penelitian ini menuai banyak kritik, aku sendiri cenderung berada di sisi pro. pengalaman subyektifku membuktikan konsistensi hasil penelitian tersebut, meskipun tidak bisa dipungkiri aku juga pernah berinteraksi dengan orang-orang yang "sederhana" tetapi malah memiliki sikap toleransi yang tinggi.
secara omong-kosong-dunia-maya, bila kita menggabungkan kedua hasil penelitian ini (karena menurutku empati menyuburkan toleransi)... maka kita akan mendapatkan populasi orang-orang beragama dengan tingkat kecerdasan yang rendah adalah populasi yang berbahaya! tidak usah jauh-jauh melihat di negeri orang... dalam tayangan-tayangan berita di stasiun tv lokal, kita akan sering menyaksikan aksi populasi ini.
mungkin emang benar kalo seks dan kelamin sudah terlalu lama dan dalam ditekan olah agama dan penguasa. lho apa hubungannya? :D
seperi yang aku tulis juga beberapa menit yang lalu dalam posting sebelum ini. aku (dan sebagian rekan-rekanku) berharap bahwa empati dapat ditumbuh-kembangkan melalui olah-gerak yang kami lakoni. ternyata tidak semudah itu. secara teoretis emang sangat memungkinkan, tetapi kenyataannya tidak mudah untuk diwujudkan. meskipun dengan berat hati, aku harus mengakui bahwa aku tidak melihat ada banyak empati yang tumbuh dan berkembang sebagai hasil latihan fisik selama berpuluh tahun. mungkin sama seperti salah satu hasil penelitian di atas, kami hanya berlatih secara fisik dan simbolis.
sudah malam... tidur dulu ya! :)
tepat sekali rasanya bila Sankara Saranam dalam God Without Religion menyarankan kita untuk "beribadah dengan bertanya." pun sewajarnya bila ada semakin banyak orang yang kecewa dengan institusi agama dan memutuskan untuk menjadi lebih sekular, atau lebih mendekatkan diri ke Tuhan (daripada agama), atau malah semakin kuat tekadnya untuk menjadi atheis, atau semakin yakin dengan ke-atheis-annya. meskipun demikian, aku percaya masih ada juga umat yang melaksanakan ajaran agamanya secara substantif, tidak secara simbolis belaka.
dahulu juga aku pernah membaca sebuah hasil penelitian yang cukup menghebohkan bahwa ada korelasi positif antara tingkat kecerdasan dan toleransi. (maaf aku lupa sumbernya). meskipun hasil penelitian ini menuai banyak kritik, aku sendiri cenderung berada di sisi pro. pengalaman subyektifku membuktikan konsistensi hasil penelitian tersebut, meskipun tidak bisa dipungkiri aku juga pernah berinteraksi dengan orang-orang yang "sederhana" tetapi malah memiliki sikap toleransi yang tinggi.
secara omong-kosong-dunia-maya, bila kita menggabungkan kedua hasil penelitian ini (karena menurutku empati menyuburkan toleransi)... maka kita akan mendapatkan populasi orang-orang beragama dengan tingkat kecerdasan yang rendah adalah populasi yang berbahaya! tidak usah jauh-jauh melihat di negeri orang... dalam tayangan-tayangan berita di stasiun tv lokal, kita akan sering menyaksikan aksi populasi ini.
mungkin emang benar kalo seks dan kelamin sudah terlalu lama dan dalam ditekan olah agama dan penguasa. lho apa hubungannya? :D
seperi yang aku tulis juga beberapa menit yang lalu dalam posting sebelum ini. aku (dan sebagian rekan-rekanku) berharap bahwa empati dapat ditumbuh-kembangkan melalui olah-gerak yang kami lakoni. ternyata tidak semudah itu. secara teoretis emang sangat memungkinkan, tetapi kenyataannya tidak mudah untuk diwujudkan. meskipun dengan berat hati, aku harus mengakui bahwa aku tidak melihat ada banyak empati yang tumbuh dan berkembang sebagai hasil latihan fisik selama berpuluh tahun. mungkin sama seperti salah satu hasil penelitian di atas, kami hanya berlatih secara fisik dan simbolis.
sudah malam... tidur dulu ya! :)
09 Mei 2012
4i (baca: empati :D)
4i, mungkin ini "empati" dalam gaya tulis alay :D meskipun, kalo gak salah "angka" harus ditulis dalam "huruf" bila mengawali kalimat... bahasan yang gak penting :D aku gak yakin ada manusia labil yang sempat mikirin "empati" meskipun sebenernya dia membutuhkannya :)
paragraf kedua ini juga bisa diabaikan :D aku cuma mo ngingetin berulang-ulang, lagi dan lagi, kalo aku bukan ahli atau profesional dalam bidang apapun, jadi tulisan ini murni pendapat profesional seorang pengangguran-sejati! :)
beberapa hari yang lalu aku sempat berdiskusi singkat soal empati dengan seorang teman (yang bener-bener lulusan fakultas psikologi), mungkin lebih tepatnya aku bertanya dia yang menjawab :D aku baru nyadar kalo ternyata empati itu membutuhkan upaya. selama ini aku pikir empati itu semacam perangkat lunak yang kita miliki dan secara otomatis akan bekerja ketika kita menghadapi suatu situasi yang relevan. ternyata tidak seperti itu, kita harus berupaya untuk menampakkan empati.
perbincangan tersebut berawal dari penelitian sederhana yang temanku lakukan beberapa tahun yang lalu. singkatnya... menurutku (dengan rendah hati) penelitian temanku ini memiliki beberapa kelemahan dalam metode pengumpulan datanya. (beuh... padahal kuliah metode penelitian sosial aja aku lulus dengan ala kadarnya :D). kelemahan-kelemahan ini sebenernya sudah aku sadari cukup lama, tetapi memerlukan waktu beberapa tahun pula untuk menyampaikannya secara sopan dan lebih ilmiah :D
singkatnya... kesimpulan dari penelitian temanku tersebut sempat "mengguncangkan" dunia persilatan di bandung (paling tidak pada kalangan terbatas di dunia maya). karena, ternyata apa yang selama ini jadi "bahan dagangan" kami ternyata cuma "pepesan kosong" :D meskipun dengan embel-embel "penelitian ini jauh dari sempurna dan memerlukan penelitian yang lebih mendalam/lanjut." apa yang lebih menyakitkan daripada "KENYATAAN"? :)
aku pribadi adalah salah seorang yang kecewa dengan hasilnya, tetapi berusaha bersikap dewasa dengan diam saja dan berpikir (maklum lemot :D) ... setelah banyak minum kopi dan tidur siang yang lama, akhirnya beberapa tahun kemudian aku menyampaikan nota keberatan-ku dengan argumentasi yang pseudo-ilmiah disertai saran-saran yang mudah-mudahan konstruktif :D alhamdulillah, meskipun tidak sepenuhnya diterima, sepertinya kritik dan masukan dariku cukup dapat diterima.
uhm.. sebenernya bukan ini tulisan yang tadinya aku rencanakan diketik :D sudahlah... terusin bacanya deh abis ini.
paragraf kedua ini juga bisa diabaikan :D aku cuma mo ngingetin berulang-ulang, lagi dan lagi, kalo aku bukan ahli atau profesional dalam bidang apapun, jadi tulisan ini murni pendapat profesional seorang pengangguran-sejati! :)
beberapa hari yang lalu aku sempat berdiskusi singkat soal empati dengan seorang teman (yang bener-bener lulusan fakultas psikologi), mungkin lebih tepatnya aku bertanya dia yang menjawab :D aku baru nyadar kalo ternyata empati itu membutuhkan upaya. selama ini aku pikir empati itu semacam perangkat lunak yang kita miliki dan secara otomatis akan bekerja ketika kita menghadapi suatu situasi yang relevan. ternyata tidak seperti itu, kita harus berupaya untuk menampakkan empati.
perbincangan tersebut berawal dari penelitian sederhana yang temanku lakukan beberapa tahun yang lalu. singkatnya... menurutku (dengan rendah hati) penelitian temanku ini memiliki beberapa kelemahan dalam metode pengumpulan datanya. (beuh... padahal kuliah metode penelitian sosial aja aku lulus dengan ala kadarnya :D). kelemahan-kelemahan ini sebenernya sudah aku sadari cukup lama, tetapi memerlukan waktu beberapa tahun pula untuk menyampaikannya secara sopan dan lebih ilmiah :D
singkatnya... kesimpulan dari penelitian temanku tersebut sempat "mengguncangkan" dunia persilatan di bandung (paling tidak pada kalangan terbatas di dunia maya). karena, ternyata apa yang selama ini jadi "bahan dagangan" kami ternyata cuma "pepesan kosong" :D meskipun dengan embel-embel "penelitian ini jauh dari sempurna dan memerlukan penelitian yang lebih mendalam/lanjut." apa yang lebih menyakitkan daripada "KENYATAAN"? :)
aku pribadi adalah salah seorang yang kecewa dengan hasilnya, tetapi berusaha bersikap dewasa dengan diam saja dan berpikir (maklum lemot :D) ... setelah banyak minum kopi dan tidur siang yang lama, akhirnya beberapa tahun kemudian aku menyampaikan nota keberatan-ku dengan argumentasi yang pseudo-ilmiah disertai saran-saran yang mudah-mudahan konstruktif :D alhamdulillah, meskipun tidak sepenuhnya diterima, sepertinya kritik dan masukan dariku cukup dapat diterima.
uhm.. sebenernya bukan ini tulisan yang tadinya aku rencanakan diketik :D sudahlah... terusin bacanya deh abis ini.
08 Mei 2012
puasa daring
lebih dari sebulan tidak mengunjungi dunia maya... alhamdulillah ada beberapa pesan yang telat terbaca :D alhamdulillah saya bukan pesohor yang banyak penggemar, saya juga belum diberi kesempatan untuk bekerja secara daring, uhm pokoknya mah ternyata saya tidak kehilangan banyak dengan mematikan modem selama lebih dari satu bulan :D
kalo ada satu hal yang paling saya syukuri adalah saya berhasil memperbaiki pola tidur yang berantakan. efek samping lainnya yang juga sangat saya syukuri adalah saya berhasil membaca lebih banyak buku dalam sebulan ini :) dua hal ini: tidur dan membaca, adalah dua kenikmatan hidup yang sangat berarti buat saya.
saya bukan orang yang rajin :D sayangnya. saya adalah pemalas kelas wahid! :) untuk menjaga kesehatan tubuh yang prima, saya butuh tidur yang cukup dan baik. jangan salah, seorang pemalas yang banyak guling-guling di kasur atau santai-santai di depan tv sambil nonton gosip tuh gak masuk kategori istirahat yang sehat lho! bermalas-malasan itu melelahkan! percaya deh. makanya saya butuh istirahat yang cukup. istirahat yang baik juga bagus untuk otak kita.
nah meskipun jarang digunakan untuk bekerja keras :D otak saya juga butuh istirahat dan nutrisi yang sehat. alhamdulillah mematikan modem cukup membuat saya mati gaya di kamar. ilang nafsu buat nonton film. nonton bokep, bosan! gak bisa juga belajar anatomi tubuh pacar (belum punya :D). dengan uang pas-pasan ternyata saya punya cukup banyak tabungan buku yang menjadi perangkap debu dan pengganjal kaki meja :D. jadilah saya mulai menyicil hutang baca saya yang bunganya sudah berbunga-bunga entah berapa ribu lembar.
baru ngetik bentar udah pusing nih liat monitor... kamseupay banget deh, kalo pake istilah gawul saat ini. langsung aja ya kita sudahi... :D
jadi... buat teman-teman yang mo nyobain puasa yang sama, cobain deh! sapa tau bisa dapet manfaat yang sama, atau malah lebih baik! :) atau malah dimarahin bos karena gak pernah ngecek surel :D ... jadi hati-hati juga puasanya, sesuai kebutuhan deh! :D
salam.
kalo ada satu hal yang paling saya syukuri adalah saya berhasil memperbaiki pola tidur yang berantakan. efek samping lainnya yang juga sangat saya syukuri adalah saya berhasil membaca lebih banyak buku dalam sebulan ini :) dua hal ini: tidur dan membaca, adalah dua kenikmatan hidup yang sangat berarti buat saya.
saya bukan orang yang rajin :D sayangnya. saya adalah pemalas kelas wahid! :) untuk menjaga kesehatan tubuh yang prima, saya butuh tidur yang cukup dan baik. jangan salah, seorang pemalas yang banyak guling-guling di kasur atau santai-santai di depan tv sambil nonton gosip tuh gak masuk kategori istirahat yang sehat lho! bermalas-malasan itu melelahkan! percaya deh. makanya saya butuh istirahat yang cukup. istirahat yang baik juga bagus untuk otak kita.
nah meskipun jarang digunakan untuk bekerja keras :D otak saya juga butuh istirahat dan nutrisi yang sehat. alhamdulillah mematikan modem cukup membuat saya mati gaya di kamar. ilang nafsu buat nonton film. nonton bokep, bosan! gak bisa juga belajar anatomi tubuh pacar (belum punya :D). dengan uang pas-pasan ternyata saya punya cukup banyak tabungan buku yang menjadi perangkap debu dan pengganjal kaki meja :D. jadilah saya mulai menyicil hutang baca saya yang bunganya sudah berbunga-bunga entah berapa ribu lembar.
baru ngetik bentar udah pusing nih liat monitor... kamseupay banget deh, kalo pake istilah gawul saat ini. langsung aja ya kita sudahi... :D
jadi... buat teman-teman yang mo nyobain puasa yang sama, cobain deh! sapa tau bisa dapet manfaat yang sama, atau malah lebih baik! :) atau malah dimarahin bos karena gak pernah ngecek surel :D ... jadi hati-hati juga puasanya, sesuai kebutuhan deh! :D
salam.
31 Maret 2012
sendiri
seorang teman meminjamkan sebuah buku tipis yang mencoba mengulas puisi-puisi karya Chairil Anwar secara filosofis... satu puisi yang aku suka:
Sendiri
Hidupku tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari setiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Sendiri
Hidupku tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari setiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Pebruari 1943
sepertinya saat ini "sendiri" cukup mewakili.
Langganan:
Postingan (Atom)