07 Mei 2014

Anak-anak Cahaya

Beberapa hari yang lalu, aku memberikan masing-masing selembar kertas beserta alat tulis kepada lima orang anak (muridku dari Aikido kelas anak). Di Hikari Budokan, aku memiliki lebih banyak keleluasaan untuk beraktivitas bersama murid-murid. Selain latihan, salah satu aktivitas yang kami lakukan adalah menggambar. Pertimbanganku sederhana saja, tidak ada anak yang tidak suka mencoret-coret :D

Sedikit mengejutkanku... empat dari lima gambar yang dibuat menunjukkan "penampakan" lanskap gunung dan matahari :D
Masih ingat gambar atau lukisan serupa yang kita bikin dahulu ketika kita masih kecil? Ternyata tidak banyak yang berubah paling tidak dalam 30 tahun terakhir. Kenapa ya? Peristiwa ini tentulah tidak bisa dijadikan acuan untuk menilai tingkat kreatifitas anak-anak Indonesia secara keseluruhan. Tetapi tetap saja sedikit menggelitik rasa ingin tahuku.

Apakah lanskap pegunungan dan matahari ini memiliki makna tertentu secara psikologis? Mungkinkan ini semua merupakan suatu bentuk konspirasi wahyudi yang merasuki jiwa kanak-kanak bangsa kita? Suatu konstipasi yang membuat kita menjadi bangsa yang tidak/kurang kreatif. Apakah ini merupakan residu dari warisan rezim orde baru dengan kebijakan ekonomi agrarisnya? Nenek moyangku yang seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera, dipaksa untuk berlabuh selamanya dan hidup dari bercocok tanam.

Atau mungkin ini hanyalah sebuah tulisan yang dibuat untuk mengisi waktu luangku dan halaman-halaman kosong dari blog ini :D

Anyhow... aktivitas bermain di Hikari Budokan yang lain adalah origami alias melipat-lipat kertas. Aku percaya, lebih baik bagi anak-anak untuk menghabiskan waktunya mencoret-coret kertas putih dan mengotorkan tangannya dengan warna-warni spidol daripada menggeser jemari bersih di atas permukaan monitor dingin sebuah tablet. Tumpukan kertas di kotak sampah jauh lebih sehat bagi anak-anak dibandingkan recycle-bin yang penuh.

04 Mei 2014

Latihan...

Hampir semua guru-ku dalam perihal menulis memberikan nasihat yang sama: disiplin dalam berlatih menulis, menulis!
Sekarang, sendirian di rumah, hujan deras di luar rumah, secangkir kopi hitam panas... tetap saja jemari ini melamun, bergeming di atas papan ketik. Radiasi cahaya monitor menyihir perhatian, menghapus semua rangkaian kalimat yang sudah tersusun rapi di dalam benak. Atau ini cuma alasan :D

Beberapa menit kemudian.....
Hujan sudah reda, kopi sudah mendingin, tapi latihan menulis belum mendingan.

Banyak-banyak membaca sebelum menulis, begitu mereka bilang. Jadi, mungkin saja aku masih kurang banyak membaca. Atau sudah banyak membaca, tetapi paham kurang dalam. Atau ini cuma alasan :D

Berjanji dalam hati untuk menghadiahkan diri sendiri sebuah setrika dari merek ternama dan secangkir kopi mahal ala kafe, SETELAH berhasil menyelesaikan paling tidak satu tulisan.

Berhenti sejenak... bersenandung. Duet bersama Jared Leto: From Yesterday!

Berlatih menulis itu, paling tidak untuk saat ini, ternyata jauh lebih sulit daripada latihan Aikido atau Karate. Paling mudah berlatih Aikido, karena biasanya aku dibayar untuk latihan. Latihan Karate juga relatif lebih menyenangkan, menyalurkan agresi secara legal dan sehat. Yoga juga enak, menyegarkan jasmani dan rohani... padahal bayarnya mahal :D
Mungkin ini yang kurang dari latihan menulis. Tidak (atau belum) ada imbalan yang cukup merangsang, kurang motivasi. Kepuasan pribadi? Lumayan... tapi belum cukup untuk saat ini. Atau ini cuma asalan :D

Baiklah kiranya jika aku menghentikan penderitaan kalian wahai sidang pembaca, secepatnya. Perburuan alasan masih berlanjut... hasil buruan akan aku kabar-kabarkan secepatnya. Lain kali....

01 April 2014

Saya dan Mentari Pagi

Kamis kemarin, saya menghanguskan dua tiket penerbangan... Jakarta-Surabaya dan Surabaya-Lombok. Sedih? Sudah pasti. Tapi... Ya sudahlah :D mungkin lain kali.

Seperti pagi-pagi indah sebelum hari ini... Saya pun menyiapkan sarapan ringan, roti bakar keju dengan sedikit taburan coklat dan kopi hitam. Telanjang dada, kaca mata hitam... Saya siap berjemur :D bahagianya! :) Di rumah yang baru ini, selain dojo pribadi, saya juga memiliki tempat berjemur pribadi di lantai dua.

Mungkin kali ini saya gagal berpeluh di salah satu Gili sekitaran Lombok... Biarlah tanggal 1 April ini saya menipu diri sendiri :D
Tutup mata! Menghayal dimulai... Sekarang!

19 Maret 2014

Latihan, yuk!

Bulan maret ini sepertinya akan menjadi bulan yang paling basah...
Keringat bercucuran, lengan dan kaki terasa berat enggan bergerak, nafas tersengal, kepala sedikit pusing, badan tak henti teriak 'henti!' rindu sangat ingin berbaring.
Aku sadar semua pangkal pasti akan berujung... penderitaan yang tidak seberapa ini pasti akan berakhir. Teringat sebuah pesan: latihan ini harus keras dan berat, karena kalo lembut dan ringan semua orang akan bisa melakukannya dan hal ini tidak lagi menjadi sesuatu yang istimewa. Benarlah... karena ketika semua latihan berakhir, tidak butuh jeda yang lama untuk merindukannya kembali. Tidak ada yang bisa mengingkari buah dari latihan yang keras.

Minggu lalu aku menjalani ujian karatedo-ku yang kedua. Alhamdulillah berjalan cukup sukses, paling tidak menurutku :D
Materi ujiannya sendiri tidak terlalu sulit, karena aku menghabiskan waktu cukup lama untuk belajar dan berlatih. Justru latihan sebelum ujian yang membuatku cukup kelelahan. Padahal paket latihan yang kami lahap disajikan dalam porsi yang lebih kecil, durasi latihan lebih singkat dari rencana semula. Dapat aku katakan di sini dengan bangga bahwa aku sudah memukul dan menendang sekuat tenagaku :)

Minggu kemarin aku mengikuti seminar aikido di Jakarta. Acara seminar biasa yang terbagi dalam empat sesi latihan dalam tiga hari. Sekali lagi, sebenarnya materi latihan yang disajikan tidak terlalu istimewa. Pun, durasi latihan seharusnya masih dalam batas toleransi nyaman. Tantangan terbesar buatku adalah cuaca panas. Bahkan ketika hanya berdiri atau duduk santai, mengenakan seragam latihan saja sudah cukup membuat keringat mengalir deras. Sungguh besar sekali godaan untuk melewatkan satu sesi latihan atau sekedar rehat sejenak duduk di pinggir matras.

Ini menurutku. Tantangan terberat sebuah latihan adalah "memulai latihan." Selama latihan tantangan berikutnya adalah "menunda istirahat." Dan tidak ada yang lebih nikmat daripada perasaan "setelah latihan berat." Latihan itu menyemai bibit candu, itu istilahku.

Mungkin saja semua masalah dan cobaan hidup di dunia ini adalah laksana "latihan yang berat"... Nah menurutku latihan seperti ini jauh lebih berat daripada latihan manapun yang pernah aku lakukan. Aku gak yakin latihan semacam ini membuat kita menjadi kecanduan untuk terus berlatih (alias terlibat masalah) :D
Itulah alasan kenapa kerasnya latihan di dojo tidak akan pernah sebanding dengan kerasnya kehidupan di dunia nyata. Jadi mari berlatih di dojo! Masa segitu aja udah 'tap out' :D

(pesan untuk diri sendiri)

03 Maret 2014

Pesta Buku (Islami?) Bandung 2014

Sudah berkunjung ke Pesta Buku Bandung 2014? Kalo belum, tidak masalah... pesta(?)nya belum usai sampai dengan tanggal 5 Maret kok. Tapi, kalo boleh saya menyumbang saran... mending gak usah dateng deh! Pestanya gak asik!

Sebagian besar (lebih dari setengah) koleksi buku yang ditawarkan adalah buku agama (Islam). Sekalian aja acara ini diberi judul "Pesta Buku Islami Bandung 2014"! Apa yang terjadi? Ada apa dengan para penerbit buku 'biasa' non relijius? Bagaimana nasib kami ini para pemburu buku 'duniawi?'

Saya lebih menikmati wisata jajan di sekitar pintu masuk pameran. Habiskan saja rupiahmu di luar daripada di dalam! Perut kenyang, hati senang.