07 Desember 2012

walk the talk

berbohong buatku sangat mudah untuk dilakukan, bahkan berbohong kepada diri sendiri. hampir seluruh kehidupan dewasaku dibangun di atas fondasi kebohongan. karena berbohong memerlukan kebohongan lain dan kebohongan lain memerlukan kebohongan yang lain pula dan begitu seterusnya... maka kebohongan bertumbuh dalam deret geometris. parahnya semakin banyak dan lama aku berbohong, aku sudah sampai pada tahap mempercayai kebohongan itu sendiri.

satu lagi keahlianku sebagai manusia dewasa yang sedikit banyak masih berhubungan dengan keterampilan sebelumnya (i.e. berbohong) adalah melarikan diri dari masalah. menghadapi kenyataan pahit hampir selalu terasa berat. melarikan diri darinya hanya akan memberikan nikmat sesaat... sementara setiap malam akan selalu dilalui dengan mimpi buruk dan setiap bangun selalu dihantui ketakutan. seorang eskapis sejati sepertiku sangat lihai dalam melarikan diri dari kenyataan dan masalah.

parahnya pekerjaanku adalah mewartakan kebenaran dan keberanian. inilah dua alasan kenapa aku tidak akan pernah menjadi praktisi yang mumpuni... sampai aku bisa hidup dengan lebih jujur dan berani.

aku merindukan malam-malam masa kecilku...

bebas menulis

kalo aku mengutip Leonardo... tidak berarti kumpulan tulisan di blog ini sama nilainya dengan karya-karya agungnya :D aku hanya berusaha menumpang di bahu sang raksasa jenius :) meminjam tinggi badannya supaya dapat melihat lebih jauh (paling tidak berusaha ke arah situ :D) meskipun seringkali lebih nyaman berlindung di balik bayang-bayang beliau.

wikipedia


bila harus dikotak-kotakkan maka hampir semua tulisan di blog ini adalah lanjutan dari pelajaran menulis bebas kala menempuh sekolah dasar dahulu. aku senang dengan pelajaran bahasa indonesia, senang membaca pun senang menulis. beberapa kali sempat mewakili sekolah dalam perlombaan mengarang... meskipun semua berakhir dengan hadiah hiburan yang benar-benar menghibur berupa beberapa ekor buku tulis (semua peserta kecuali pemenang mendapatkannya :D)

karena hanya menulis bebas... mudah-mudahan aku diluputkan dari tanggung jawab ilmiah :D bila ada yang tersesat, resiko tanggung sendiri! tulisan bebas juga bukan sumber berita lho! meskipun sedikit lebih mulia daripada gosip-murahan ala strategi manajemen artis.

gitu aja kok repot? (gus dur) why so serious? (joker)

mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi positif! paling tidak menggelitik jemari pembaca, gatal untuk berkomentar atau lekas menekan tombol close [x] :D

putus cinta yang sehat :)

wikipedia
 
And breaking up's a mess
So please be there for us
You don't have to choose
Though it'll be awkward, yes
Invite us to your parties
We will work it out
Don't feel weird
We love all of you
After 5 whole years
By each other's side
There are just somethings
No relationship can survive

(kalo mo tau lagu lengkap + kisahnya, klik di judul ini we've got to break up)

sayang banget lagu ini tidak dirilis lebih dini... mungkin sekitar tahun 1999 gitu? :D tentunya akan ada lebih banyak putus-cinta yang terinspirasi lagu ini kemudian menjadi akhir yang bahagia (pada akhirnya, cepat atau lambat...)

oke, sekarang sudah waktunya mencari cinta... kalo mo putus tinggal share lagu ini di akun jejaring sosialmu! :) mudah-mudahan mujarab!

01 Desember 2012

segitiga berlatih

paling tidak ada dua pendekatan dalam belajar beladiri...
bayangkan sebuah segitiga!... bukan segitiga yang itu! :D tapi segitiga yang ini. segitiga yang mana? lihat, kita bahkan tidak bisa (atau belum) sepakat soal segitiga-nya :D

dari wikipedia
sebuah klip di youtube (dan banyak perbincangan dengan teman-teman latihan) menginspirasi tulisan ini: mana yang lebih baik? belajar beladiri dimulai dari teknik-teknik dasar (yang biasanya membosankan dan tidak/belum aplikatif) atau dari teknik-teknik praktis (dan/atau aplikatif)?

kembali ke segitiga tadi... bayangkan luas segitiga tersebut sebagai jumlah teknik dalam sebuah cabang beladiri! maka, menurutku, secuil bagian runcing yang terletak di bagian atas segitiga tersebut adalah teknik praktis. atau, dengan kata lain, hanya sebagian kecil dari teknik yang akan kita pelajari benar-benar memiliki manfaat praktis dalam perkelahian jalanan, misalnya. sementara bongkahan paling besar pada dasar segitiga adalah jumlah teknik-teknik dasar yang hampir mustahil diterapkan dalam kehidupan nyata. dan bagian tengah segitiga (bila ada atau tidak berbaur dengan bagian dasar adalah teknik-teknik yang diajarkan untuk mendapatkan poin atau angka (pada beladiri-olahraga-pertandingan) atau memenuhi syarat kenaikan tingkat (atau sabuk).

maafkan kemampuan grafis ku yan pas-pasan dan selera warna yang buruk :D
dari bagian mana kita sebaiknya belajar beladiri? dari bagian yang runcing kemudian luruh ke dasar yang lebar? atau sebaliknya, dari dasar merayap ke puncak? menurut kamu? :)

menurutku: kedua pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangan.
tetapi, berdasarkan pengalaman pribadi bila harus memilih, maka aku akan memilih pendekatan belajar yang kedua: belajar teknik-teknik dasar dulu!

napa? macacih? ciyus? miapah?

gimana kalo ceritanya bersambung? :D

Hari AIDS Sedunia

(setelah membaca komentar negatif dari orang-orang yang (sok) suci dan (sok) bersih seputar kampanye kondom untuk mencegah HIV/AIDS pada jejaring sosial)

dari wikipedia


mana yang lebih ampuh dalam mencegah atau memerangi HIV/AIDS, Tuhan atau kondom? :) Tuhan! karena Tuhan Maha Kuasa. sulit untuk mendebat argumen yang melibatkan-Nya :D (kecuali bagi mereka yang tidak percaya Tuhan, lho)
mana yang lebih ampuh dalam mencegah dan memerangi HIV/AIDS, Agama atau kondom? :) KONDOM!!! :D serius nih (meskipun gak pernah lupa nyisipin emoticon "tertawa")

menurut Durex Indonesia: Kasus pertama HIV di Indonesia dilaporkan pada tahun 1987, antara saat itu dan 2009, 3.492 orang meninggal akibat penyakit ini. Dari 11.856 kasus yang dilaporkan pada tahun 2008, 6.962 dari mereka adalah orang-orang di bawah 30 tahun. Hampir 7000 orang per hari tertular HIV pada tahun 2011!
menurut temanku seorang aktivis HIV/AIDS: diyakini bahwa jumlah kasus dan korban yang tercatat adalah puncak gunung es. bahkan WHO mengestimasi bahwa dibalik 1 penderita yang terinfeksi telah terdapat kurang lebih 100-200 penderita HIV yang belum diketahui.

masa inkubasi HIV rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit. Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV.
Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini. (lengkapnya dapat dibaca di sini)

cara penularan yang diketahui adalah melalui (1) transmisi seksual dan (2) transmisi non-seksual. penularan (1) melalui hubungan seksual baik (1.1) Homoseksual maupun (1.2) Heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi. Penularan ini berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serik.
pada (2) penularan dibagi menjadi dua bagian (2.1) transmisi parental dan (2.2) transmisi transplasental. contoh (2.1) adalah penggunaan jarum suntik dan alat tusuk yang tercemar (resiko tertular kurang dari 1%) dan transfusi darah yang tercemar (resiko tertular lebih dari 90%). sementara (2.2) penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%.

singkatnya, karena cara penularan seperti yang tersebut di atas, maka upaya pencegahan perlu diarahkan untuk merubah perilaku seksual masyarakat (terutama yang memilikiki resiko tinggi), menghindari infeksi melalui donor darah, dan upaya pencegahan infeksi perinatal sebelum ibu hamil.

lebih spesifik lagi soal perubahan perilaku seksual... salah satu upaya pencegahan jangka pendek yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual (khususnya) dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS dan pengidap HIV. sementara upaya jangka panjang yang harus kita lakukan adalah merubah sikap dan perilaku masyarakat dengan kegiatan yang meningkatkan norma-norma agama maupun sosial sehingga masyarakat dapat berperilaku seksual yang bertanggung jawab.
(semua informasi ini dapat kita himpun dari banyak sumber terpercaya, sumber utamaku khususnya sekali lagi dapat dibaca dengan lengkap di sini)

jadi, sekali lagi nih, dalam format pertanyaan yang sedikit berbeda... mana yang lebih penting, kampanye penggunaan kondom? atau meningkatkan norma agama maupun sosial? :)

menurutku dua-duanya penting untuk dilakukan... untuk jangka panjang, institusi agama atau sosial harus berusaha keras untuk mengkampanyekan perilaku seksual yang halal dan bertanggung jawab. sementara itu, sambil menunggu, kenapa tidak kita biarkan beberapa institusi atau organ tertentu (selain dua yang di atas) membantu dengan mengkampanyekan penggunaan kondom.

pendapat pribadi banget nih :D
karena aku percaya Tuhan, tetapi tidak begitu percaya dengan institusi Agama (dan agama)... maka menurutku kampanye kondom layak didukung penuh dan ditempatkan di antara Langit dan bumi! paling tidak kita sudah berpartisipasi dalam upaya untuk tidak memperluas penyebaran HIV/AIDS.

sambil menunggu lahirnya pemimpin negara atau tokoh bangsa yang amanah dan mampu membuat perubahan... sambil menunggu departemen agama bersih... sambil menunggu jutaan muslim bergelar haji (karena pemeluk Islam adalah mayoritas) mampu memberi contoh dan menularkan moral dan akhlak yang baik... sambil menikmati makan malam yang sangat telat ditemani lantunan lagu pengantar tidur :D