dulu... aku pernah bermimpi bisa jalan-jalan keliling dunia (atau paling tidak keliling nusantara :D) dengan pasangan :). tapi itu dulu. sekarang, paling tidak untuk saat ini dan dalam waktu dekat sepertinya aku lebih memilih untuk solo-traveling :D ...entah nanti!
dari pelbagai pengalaman (yang sebenernya tidak begitu banyak pula :D), jalan-jalan bersama keluarga, rombongan teman kuliah, temen satu geng, pacar, temen dekat, dan (akhir-akhir ini) seorang diri... sepertinya secara umum perjalanan seorang diri adalah yang paling pas buatku. jalan-jalan sendiri emang tidak berarti nihil masalah, tapi paling tidak nilai suka-nya jauh lebih tinggi dari nilai duka-nya :D
salah seorang backpacker idolaku pernah membahas untung-rugi jalan-jalan bersama pasangan dalam blognya (bisa dibaca di sini). intinya beliau ini tidak memberikan jawaban yang absolut, karena emang liburan adalah sebuah pilihan pribadi yang subyektif. jalan-jalan bersama pasangan bisa jadi momen yang tak terlupakan... indah atau buruknya :D tergantung dari mereka yang akan menjalani. beliau sendiri memberikan beberapa tips bagi anda yang sedang merencanakan sebuah liburan bersama pasangan. (sekali lagi bisa dibaca di sini)
tetapi... sekali lagi ini cuma pandangan pribadi yang sifatnya subyektif dan sangat labil :D... tetapi, untuk saat ini, berdasarkan pengalaman pribadi aku tidak menganjurkan anda berjalan-jalan bersama pasangan anda :) kecuali anda sudah sangat yakin dengan takdir bersamanya selamanya (lebay :D). tanpa bermaksud seksis, menurutku laki-laki atau perempuan (bila sudah merasa cukup percaya diri) lebih baik memilih jalur karir solo-traveling. dan opini aku ini ternyat diperkuat olah salah satu survey yang menunjukkan pasangan kerap bertengkar dalam perjalanan wisata (TravelKompas). alhamdulillah banyak yang mendukung aku :D
tetapi (lagi)... jauh di dasar hatiku (ceileee :D) aku masih berharap bisa nemu pasangan yang sehati-seotak dalam menikmati perjalanan. :) tidak mudah tampaknya, karena aku sadar diri juga :D tapi tidak-mudah kan tidak-berarti tidak-mungkin! :)
ehm, kalo masih galau antara karir solo atau duo, mungkin sebaiknya ikut band-traveling aja. kualitas suara bukan masalah, yang penting jago nari dan tampang oke! semoga berhasil! :D
selamat sahur ya!...
ini akan menjadi kumpulan tanpa aturan, diambil dari banyak kertas, yang telah kukutip di sini, dengan harapan aku akan mengaturnya kemudian menurut pokok-pokok yang kubahas; dan aku yakin aku pasti mengulang pokok yang sama beberapa kali; untuk ini, oh pembaca, jangan salahkan aku... (Leonardo)
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
30 Juli 2012
27 Juli 2012
solo-traveling impian :)
melintasi 25 negara
sebulan pelesiran di Indonesia
enam hari jalan kaki
makan di kuil
uang bukan segalanya
klik dan baca lima artikel secara berurutan dari atas :)
seru banget ya petualangannya? :) dalam usia semuda itu... pengalaman kayak gini nih yang bikin hati dibakar cemburu! :D tiga-puluh hari pelesiran di Indonesia, beliau ini sudah mengunjungi lebih banyak tempat daripada tiga-puluh tahun aku hidup di bumi pertiwi ini. kurang ajar banget!
pelesiran dengan penuh keterbatasan, dengan modal pas-pasan, tapi tetap berkesan. jumlah destinasi/negara bukan hal utama yang bikin aku paling iri dengan pemuda ini... tapi keberanian untuk mencoba hal-hal yang baru sampai yang nyenggol-nyenggol bahaya, itu yang paling aku kagumi. perjalanan panjang tanpa target waktu tertentu, menikmati setiap detik suka-duka, banyak pelajaran-pengalaman baru, dan SEORANG DIRI! semacam perjalana spiritual mencari kitab suci ke barat :)
beberapa hari sebelum Ramadhan, ada seorang rekan yang menawarkan paket wisata mancanegara murah meriah. bener-bener murah lho, tapi dengan pelayanan yang tidak murahan, paling tidak dari presentasi yang dia bawakan sore itu. kalo aku punya uang banyak tapi waktu luang yang terbatas, bisa dipastikan aku akan membeli paling tidak dua paket liburannya dalam setahun... sayangnya kondisiku justru sebaliknya: uang terbatas, waktu uang berlimpah :D. ditambah lagi, aku tidak begitu menikmati perjalanan dalam rombongan.
tidak semua liburan harus dinikmati dengan penuh kemewahan dan kenyamanan... bahkan liburan yang penuh kesulitan dan keterbatasan pun masih bisa kita syukuri dan nikmati :) mungkin ini cuma pembenaran seorang kelana kere kayak aku aja :D meskipun melelahkan, aku sangat menikmati berjalan kaki nyasar di kota-kota asing... bukan di hutan asing ya :D aku gak sekonyol itu. terlelap tidur di atas kasur (masih untung bisa dapet kasur dan bukan beralas koran di lantai) dalam kamar sumpek dan memakai kamar mandi umum mungkin tidak terlalu higienis... syukur alhamdulillah.
aku banyak menikmati hal-hal yang baru di tempat-tempat yang baru. padahal, ironisnya aku tuh paling males keluar dari zona nyaman dalam hidupku :D tapi, mengunjungi tempat baru dan bertemu dengan teman-teman baru seperti menemukan sebuah realita hidup lain yang penuh kebebasan... padahal mungkin juga ini cuma ilusi, tapi bukankah hidup di dunia adalah senyata-nyatanya ilusi? :) bebas menentukan tempat-tempat yang akan kita kunjungi, bebas mengeksplorasi selama yang kita mau, bebas menentukan pilihan makanan... bebas menentukan banyak hal dalam hidup dangan sedikit batasan dari kondisi keuangan dan kesehatan tubuh :) tapi bukan keterbatasan karena kehendak orang lain atau teman satu rombongan atau tour-leader :D
karena konon hidup ini laksana sebuah buku dan seorang manusia yang tidak pernah bepergian hanya hidup di halaman pertama... marilah kita membalik setiap halaman dengan sabar dan penuh rasa syukur! menuangkan kisah hidup kita dalam lebih banyak halaman lagi pada buku kehidupan. tulislah cerita yang berbeda, hidup biasa tuh sudah biasa :D kalo bisa nyobain sesuatu yang ekstrim, kenapa harus tetap menyantap yang normal?
tapi karena hidup adalah sebuah pilihan... setiap pilihan tetap harus dihormati! :)
sebulan pelesiran di Indonesia
enam hari jalan kaki
makan di kuil
uang bukan segalanya
klik dan baca lima artikel secara berurutan dari atas :)
seru banget ya petualangannya? :) dalam usia semuda itu... pengalaman kayak gini nih yang bikin hati dibakar cemburu! :D tiga-puluh hari pelesiran di Indonesia, beliau ini sudah mengunjungi lebih banyak tempat daripada tiga-puluh tahun aku hidup di bumi pertiwi ini. kurang ajar banget!
pelesiran dengan penuh keterbatasan, dengan modal pas-pasan, tapi tetap berkesan. jumlah destinasi/negara bukan hal utama yang bikin aku paling iri dengan pemuda ini... tapi keberanian untuk mencoba hal-hal yang baru sampai yang nyenggol-nyenggol bahaya, itu yang paling aku kagumi. perjalanan panjang tanpa target waktu tertentu, menikmati setiap detik suka-duka, banyak pelajaran-pengalaman baru, dan SEORANG DIRI! semacam perjalana spiritual mencari kitab suci ke barat :)
beberapa hari sebelum Ramadhan, ada seorang rekan yang menawarkan paket wisata mancanegara murah meriah. bener-bener murah lho, tapi dengan pelayanan yang tidak murahan, paling tidak dari presentasi yang dia bawakan sore itu. kalo aku punya uang banyak tapi waktu luang yang terbatas, bisa dipastikan aku akan membeli paling tidak dua paket liburannya dalam setahun... sayangnya kondisiku justru sebaliknya: uang terbatas, waktu uang berlimpah :D. ditambah lagi, aku tidak begitu menikmati perjalanan dalam rombongan.
tidak semua liburan harus dinikmati dengan penuh kemewahan dan kenyamanan... bahkan liburan yang penuh kesulitan dan keterbatasan pun masih bisa kita syukuri dan nikmati :) mungkin ini cuma pembenaran seorang kelana kere kayak aku aja :D meskipun melelahkan, aku sangat menikmati berjalan kaki nyasar di kota-kota asing... bukan di hutan asing ya :D aku gak sekonyol itu. terlelap tidur di atas kasur (masih untung bisa dapet kasur dan bukan beralas koran di lantai) dalam kamar sumpek dan memakai kamar mandi umum mungkin tidak terlalu higienis... syukur alhamdulillah.
aku banyak menikmati hal-hal yang baru di tempat-tempat yang baru. padahal, ironisnya aku tuh paling males keluar dari zona nyaman dalam hidupku :D tapi, mengunjungi tempat baru dan bertemu dengan teman-teman baru seperti menemukan sebuah realita hidup lain yang penuh kebebasan... padahal mungkin juga ini cuma ilusi, tapi bukankah hidup di dunia adalah senyata-nyatanya ilusi? :) bebas menentukan tempat-tempat yang akan kita kunjungi, bebas mengeksplorasi selama yang kita mau, bebas menentukan pilihan makanan... bebas menentukan banyak hal dalam hidup dangan sedikit batasan dari kondisi keuangan dan kesehatan tubuh :) tapi bukan keterbatasan karena kehendak orang lain atau teman satu rombongan atau tour-leader :D
karena konon hidup ini laksana sebuah buku dan seorang manusia yang tidak pernah bepergian hanya hidup di halaman pertama... marilah kita membalik setiap halaman dengan sabar dan penuh rasa syukur! menuangkan kisah hidup kita dalam lebih banyak halaman lagi pada buku kehidupan. tulislah cerita yang berbeda, hidup biasa tuh sudah biasa :D kalo bisa nyobain sesuatu yang ekstrim, kenapa harus tetap menyantap yang normal?
tapi karena hidup adalah sebuah pilihan... setiap pilihan tetap harus dihormati! :)
29 Juni 2012
rekomendasi: sedikit oleh-oleh dari cerbon
hotel famili: buat pelancong kere, bolang, numpang tidur doang, ngetrip irit, backpacking, apapun judulnya... pokoknya yang nyari kasur murah (dan gak keberatan dengan yang murahan) dan kenyamanan bukan prioritas, hotel (?) famili adalah tempat yang pas buat kamu yang nyasar di Kota Cirebon! :) Hotel Famili terletak di Jalan Siliwangi No. 66 nomor telepon (0231) 207935.
nilai plus: tarif hotel super murah di Kota Cirebon, mulai 30 ribu (muat 1 orang, kamar mandi luar) paling mahal 70 ribu (cukup besar muat sekitar 3 orang, kamar mandi dalam). lokasi strategis, tetangga sebelah Stasiun Kejaksan, dekat banget dengan Pusat Kota Cirebon, tempat makan juga banyak pilihan (ada nasi soto dua ribu lima ratus, ada juga kafe dan resto mewah), dilalui cukup banyak angkot, bangunan dan perabotan retro-klasik (entah kapan terakhir dipugar, mungkin belum pernah :D)... bonus lain kalo kamu beruntung kayak aku, kamu bisa nemu mayat kecoak di bawah meja/kasur. biaya kamar tidak termasuk jasa pijat plus-plus ibu-ibu menor! :D
nilai minus: gak ada tuh, cuma nyari tempat tidur doang kan? :D
buat yang nyalinya lebih kecil tapi kantungnya lebih longgar :D maaf cuma becanda! :D sepanjang Jalan Siliwangi Kota Cirebon ini ada banyak juga hotel yang murah meriah (tarif kamar masih ada yang dibawah 100 ribu per malam dan lebih bagus dari Famili :D), bisa nyobain: Hotel Cordova (0231 204677), Hotel Slamet (0231 203296), Hotel Priangan (0231 202929). semuanya masih dalam jangkauan jalan kaki dari Stasiun Kejaksan.
angkot biru muda-tiga nama: angkot di Kota Cirebon semuanya berwarna biru muda, ada tiga identitas angkot di sini, pertama dengan kode huruf-angka, kedua mencantumkan rute yang dilewati, dan ketiga dengan inisial rute. maksudnya gini: angkot "04" a.k.a "Gunung Sari - Plered" a.k.a "GP" ngerti kan? ketiga nama ini merujuk pada angkot dengan rute yang sama :). kalo mo ngirit, karena Kota Cirebon tidak terlalu luas menurutku kemana-mana naik angkot plus jalan kaki aja cukup kok (bonus terik mentari :D). bingung ngapalin kode angkot, gak tau naik angkot apa, jangan malu-malu bertanya di pinggir jalan :). kemaren sih ongkos angkot paling mahal dua ribu lima ratus saja (mending siapin uang pas kalo tongkrongan kamu kayak turis atau siapin mental pas dapet kembalian :D)
tips lain adalah hampir semua angkot akan melintasi Gerage Mall, jadi kayaknya tempat ini cukup nyaman untuk dijadikan patokan dan cukup aman untuk berganti angkot di sini sambil nanya ke satpam mall :) good luck!
tempat kebugaran puas-lemas: nah kalo yang ini aku cuma diceritain ama temen... sumpah! :D ada fenomena menarik seputar menjamurnya tempat kebugaran di sekitar daerah Geronggongan. daerah ini kayaknya terletak rada tinggi daripada pusat kota (mirip dengan Lembang buat Kota Bandung atau Batu bagi Kota Malang), jadi udaranya rada lebih adem, emang kondusif banget buat olahraga. tapi kok tempat olah raga jauh banget dari pusat kota? dari luar kok keliatannya sepi banget? kok banyak kamar yang berjajar di belakang ya? kenapa ayam berkokok? :D kalo pengen tau jawabannya mending nyobain sendiri deh berbugar-bugar puas-lemas di daerah ini...ehm, dingin-dingin gini enaknya ngapain ya?
catatan khusus Jalan Siliwangi Kota Cirebon: nyari penginapan murah tentu aja gak jauh dari stasiun (berlaku hampir di semua kota) yang rada mahalan juga ada... sepanjang jalan ini juga banyak tempat makan dengan pilihan menu yang beragam dengan rentang harga yang bersahabat (bahkan untuk pelancong-kere), hari minggu jalan ini car-free, sepanjang jalan juga ada banyak pusat perbelanjaan, kalo gak mo repot (banyak pilihan makanan di satu tempat) ada pujasera nyaman di sebelah Hotel Priangan seberang Griya Siliwangi. kalo gak keberatan jalan kaki dan sedikit bejemur... menurutku jalan ini sangat strategis untuk dijadikan titik awal perjalanan (tempat menginap/istirahat)
selamat menikmati liburan ala cerbonan! :)
nilai plus: tarif hotel super murah di Kota Cirebon, mulai 30 ribu (muat 1 orang, kamar mandi luar) paling mahal 70 ribu (cukup besar muat sekitar 3 orang, kamar mandi dalam). lokasi strategis, tetangga sebelah Stasiun Kejaksan, dekat banget dengan Pusat Kota Cirebon, tempat makan juga banyak pilihan (ada nasi soto dua ribu lima ratus, ada juga kafe dan resto mewah), dilalui cukup banyak angkot, bangunan dan perabotan retro-klasik (entah kapan terakhir dipugar, mungkin belum pernah :D)... bonus lain kalo kamu beruntung kayak aku, kamu bisa nemu mayat kecoak di bawah meja/kasur. biaya kamar tidak termasuk jasa pijat plus-plus ibu-ibu menor! :D
nilai minus: gak ada tuh, cuma nyari tempat tidur doang kan? :D
buat yang nyalinya lebih kecil tapi kantungnya lebih longgar :D maaf cuma becanda! :D sepanjang Jalan Siliwangi Kota Cirebon ini ada banyak juga hotel yang murah meriah (tarif kamar masih ada yang dibawah 100 ribu per malam dan lebih bagus dari Famili :D), bisa nyobain: Hotel Cordova (0231 204677), Hotel Slamet (0231 203296), Hotel Priangan (0231 202929). semuanya masih dalam jangkauan jalan kaki dari Stasiun Kejaksan.
angkot biru muda-tiga nama: angkot di Kota Cirebon semuanya berwarna biru muda, ada tiga identitas angkot di sini, pertama dengan kode huruf-angka, kedua mencantumkan rute yang dilewati, dan ketiga dengan inisial rute. maksudnya gini: angkot "04" a.k.a "Gunung Sari - Plered" a.k.a "GP" ngerti kan? ketiga nama ini merujuk pada angkot dengan rute yang sama :). kalo mo ngirit, karena Kota Cirebon tidak terlalu luas menurutku kemana-mana naik angkot plus jalan kaki aja cukup kok (bonus terik mentari :D). bingung ngapalin kode angkot, gak tau naik angkot apa, jangan malu-malu bertanya di pinggir jalan :). kemaren sih ongkos angkot paling mahal dua ribu lima ratus saja (mending siapin uang pas kalo tongkrongan kamu kayak turis atau siapin mental pas dapet kembalian :D)
tips lain adalah hampir semua angkot akan melintasi Gerage Mall, jadi kayaknya tempat ini cukup nyaman untuk dijadikan patokan dan cukup aman untuk berganti angkot di sini sambil nanya ke satpam mall :) good luck!
tempat kebugaran puas-lemas: nah kalo yang ini aku cuma diceritain ama temen... sumpah! :D ada fenomena menarik seputar menjamurnya tempat kebugaran di sekitar daerah Geronggongan. daerah ini kayaknya terletak rada tinggi daripada pusat kota (mirip dengan Lembang buat Kota Bandung atau Batu bagi Kota Malang), jadi udaranya rada lebih adem, emang kondusif banget buat olahraga. tapi kok tempat olah raga jauh banget dari pusat kota? dari luar kok keliatannya sepi banget? kok banyak kamar yang berjajar di belakang ya? kenapa ayam berkokok? :D kalo pengen tau jawabannya mending nyobain sendiri deh berbugar-bugar puas-lemas di daerah ini...ehm, dingin-dingin gini enaknya ngapain ya?
catatan khusus Jalan Siliwangi Kota Cirebon: nyari penginapan murah tentu aja gak jauh dari stasiun (berlaku hampir di semua kota) yang rada mahalan juga ada... sepanjang jalan ini juga banyak tempat makan dengan pilihan menu yang beragam dengan rentang harga yang bersahabat (bahkan untuk pelancong-kere), hari minggu jalan ini car-free, sepanjang jalan juga ada banyak pusat perbelanjaan, kalo gak mo repot (banyak pilihan makanan di satu tempat) ada pujasera nyaman di sebelah Hotel Priangan seberang Griya Siliwangi. kalo gak keberatan jalan kaki dan sedikit bejemur... menurutku jalan ini sangat strategis untuk dijadikan titik awal perjalanan (tempat menginap/istirahat)
selamat menikmati liburan ala cerbonan! :)
24 Juni 2012
Cirebon, hari terakhir... lanjutan :)
abis jalan kaki sambil mandi sinar matahari Cirebon yang sedikit di atas hangat :D perut jadi sedikit ringan, lumayan! :) siap untuk makan siang! kali ini aku gak sendirian, aku akan ditemani Andi, temenku yang tinggal di Cirebon.
dari Gerage Mall, kami langsung meluncur menuju arah keluar kota. kami mo makan siang di Jalan Raya Batembat a.k.a Jalan Raya Tengah Tani di Plered. target kami adalah RM. H. Apud, mo makan empal asem di sini. empal asem ini berbeda dengan empal gentong, karena kuahnya bening dan tanpa santan, ada rasa asem dikit (halus banget). jenis daging yang digunakan juga gak sekomplit empal gentong. secara teoretis (sedikit) lebih sehat jadinya :D. harga seporsinya dengan nasi adalah tiga belas ribu rupiah, rata-rata segitu kayaknya di tempat lain juga.
gak jauh dari RM H. Apud sebenernya ada juga tempat makan yang populer, namanya Amarta. temenku bilang, empal asemnya enak juga, tapi sate kambingnya kurang lembut. jadi sate kambing di RM H. Apud lebih enak, katanya sih :D aku gak bisa ngebandingin (karena gak makan di Amarta), tapi sate kambing di RM. H Apud emang lembut banget... top deh! padahal kalo dilihat di luar (ada yang lagi motong-motong daging kambing) dagingnya tuh diolah dari mentah lho. tapi mungkin ada aja trik pengolahan lain yang tidak terlihat di dapur, atau emang ada bagian daging kambing yang lebih lunak, entahlah.
abis makan siang... perjalanan kami lanjutkan ke Jalan Trusmi untuk liat-liat batik. di sepanjang jalan ini ada banyak banget toko batik, mirip kayak Cihampelas atau Cibaduyut di Bandung, tapi jalan dan toko-tokonya lebih kecil. pertama kami liat-liat batik di salah satu toko kecil, tapi pilihannya kurang banyak. jadi akhirnya kami memilih untuk mengunjungi Pusat Grosir Batik Trusmi (Jl. Trusmi no. 129). bangunannya paling besar dengan penataan toko yang modern serta parkir yang cukup luas. di sekitarnya juga ada banyak kios tempat jajan-makan.
Pusat Grosir Batik Trusmi ini mirip dengan Krisna di Bali atau Mirota di Jogja. lebih kecil daripada Krisna (cabang Sunset Road Kuta) tapi lebih nyaman daripada Mirota (yang di Malioboro). buat pelancong yang gak mau repot, tempat kayak gini sangat membantu :) cukup belanja di satu tempat. tadinya aku gak niat belanja apa-apa, tapi karena udah di sini kenapa gak cari kaos batik :D dan temenku Andi akhirnya menunjukkan sisi ibu-ibunya dengan kalap belanja batik :D ...tapi dengan baiknya juga karena aku cuma beli satu kaos, dia masukin sekalian ke keranjang belanjanya! thanks bro! eh mam!
oke masih ada satu lagi target kuliner yang belum tercapai... sega lengko. nah kebetulan banget ada tempat jualan sega lengko yang direkomendasikan terletak tidak jauh dari Perempatan Plered. jadi kalo kita dari arah kota Cirebon menuju Bandung kita akan melewati Perempatan Plered, belok kanan adalah Jalan Trusmi (sentra batik) nah kalo belok kiri adalah Jalan Fatahilah. hanya beberapa meter dari Perempatan Plered ini, tepatnya di Jalan Fatahilah ada Sega Lengko Bi Sum.
tempat makan ini sederhana banget... hampir tidak meyakinkan. sega lengko tuh intinya adalah nasi dengan taburan bumbu kacang, sayuran daun kucai, irisan tahu-tempe, dan mentimun serta kecap dan bawang goreng. harganya sangat mengejutkan... seporsi sega lengko dengan es teh manis hanya rp. 7.500,00 saja. sederhana ya? rasanya juga sederhana :) meskipun sederhana ini pengalaman yang sangat menyenangkan buatku. buatku bisa mencicipi makanan khas suatu daerah sesederhana apapun adalah sebuah kenikmatan tersendiri :). sebenernya ada juga pilihan menu pelengkap makan sega lengko ini, jadi rasanya gak polos-polos banget :D tapi cukuplah yang orijinal dulu untuk saat ini... lain kali lagi ya! :)
Sega Lengko Bi Sum ini mengakhiri petualangan kulinerku di Cirebon :) ...secara teoretis aku udah sekitar 24 jam bertualang lidah di sini. seperti yang aku bilang, juaranya untuk saat ini buatku adalah Sega Jamblang Mang Dul! :) tempat makan yang cukup nyaman, banyak pilihan lauk-pauk yang nikmat, dan harganya juga wajar banget. laen kali ke Cirebon aku akan bertualang lidah yang lebih ganas dan liar! :D
abis makan sega lengko, sebelum pulang ke Bandung, aku mampir dulu ke rumah teman baikku Andi di daerah Kedawung. temanku ini dan keluarganya sangat baik dan ramah. kami ngobrol-ngobrol ringan tentang banyak hal dan banyak tertawa tentunya! :D hidup ini kan menyenangkan. setelah numpang mandi dan shalat, aku pamit dan dengan setengah terpaksa harus kembali ke dunia nyata... Bandung.
dari Gerage Mall, kami langsung meluncur menuju arah keluar kota. kami mo makan siang di Jalan Raya Batembat a.k.a Jalan Raya Tengah Tani di Plered. target kami adalah RM. H. Apud, mo makan empal asem di sini. empal asem ini berbeda dengan empal gentong, karena kuahnya bening dan tanpa santan, ada rasa asem dikit (halus banget). jenis daging yang digunakan juga gak sekomplit empal gentong. secara teoretis (sedikit) lebih sehat jadinya :D. harga seporsinya dengan nasi adalah tiga belas ribu rupiah, rata-rata segitu kayaknya di tempat lain juga.
gak jauh dari RM H. Apud sebenernya ada juga tempat makan yang populer, namanya Amarta. temenku bilang, empal asemnya enak juga, tapi sate kambingnya kurang lembut. jadi sate kambing di RM H. Apud lebih enak, katanya sih :D aku gak bisa ngebandingin (karena gak makan di Amarta), tapi sate kambing di RM. H Apud emang lembut banget... top deh! padahal kalo dilihat di luar (ada yang lagi motong-motong daging kambing) dagingnya tuh diolah dari mentah lho. tapi mungkin ada aja trik pengolahan lain yang tidak terlihat di dapur, atau emang ada bagian daging kambing yang lebih lunak, entahlah.
abis makan siang... perjalanan kami lanjutkan ke Jalan Trusmi untuk liat-liat batik. di sepanjang jalan ini ada banyak banget toko batik, mirip kayak Cihampelas atau Cibaduyut di Bandung, tapi jalan dan toko-tokonya lebih kecil. pertama kami liat-liat batik di salah satu toko kecil, tapi pilihannya kurang banyak. jadi akhirnya kami memilih untuk mengunjungi Pusat Grosir Batik Trusmi (Jl. Trusmi no. 129). bangunannya paling besar dengan penataan toko yang modern serta parkir yang cukup luas. di sekitarnya juga ada banyak kios tempat jajan-makan.
Pusat Grosir Batik Trusmi ini mirip dengan Krisna di Bali atau Mirota di Jogja. lebih kecil daripada Krisna (cabang Sunset Road Kuta) tapi lebih nyaman daripada Mirota (yang di Malioboro). buat pelancong yang gak mau repot, tempat kayak gini sangat membantu :) cukup belanja di satu tempat. tadinya aku gak niat belanja apa-apa, tapi karena udah di sini kenapa gak cari kaos batik :D dan temenku Andi akhirnya menunjukkan sisi ibu-ibunya dengan kalap belanja batik :D ...tapi dengan baiknya juga karena aku cuma beli satu kaos, dia masukin sekalian ke keranjang belanjanya! thanks bro! eh mam!
oke masih ada satu lagi target kuliner yang belum tercapai... sega lengko. nah kebetulan banget ada tempat jualan sega lengko yang direkomendasikan terletak tidak jauh dari Perempatan Plered. jadi kalo kita dari arah kota Cirebon menuju Bandung kita akan melewati Perempatan Plered, belok kanan adalah Jalan Trusmi (sentra batik) nah kalo belok kiri adalah Jalan Fatahilah. hanya beberapa meter dari Perempatan Plered ini, tepatnya di Jalan Fatahilah ada Sega Lengko Bi Sum.
tempat makan ini sederhana banget... hampir tidak meyakinkan. sega lengko tuh intinya adalah nasi dengan taburan bumbu kacang, sayuran daun kucai, irisan tahu-tempe, dan mentimun serta kecap dan bawang goreng. harganya sangat mengejutkan... seporsi sega lengko dengan es teh manis hanya rp. 7.500,00 saja. sederhana ya? rasanya juga sederhana :) meskipun sederhana ini pengalaman yang sangat menyenangkan buatku. buatku bisa mencicipi makanan khas suatu daerah sesederhana apapun adalah sebuah kenikmatan tersendiri :). sebenernya ada juga pilihan menu pelengkap makan sega lengko ini, jadi rasanya gak polos-polos banget :D tapi cukuplah yang orijinal dulu untuk saat ini... lain kali lagi ya! :)
Sega Lengko Bi Sum ini mengakhiri petualangan kulinerku di Cirebon :) ...secara teoretis aku udah sekitar 24 jam bertualang lidah di sini. seperti yang aku bilang, juaranya untuk saat ini buatku adalah Sega Jamblang Mang Dul! :) tempat makan yang cukup nyaman, banyak pilihan lauk-pauk yang nikmat, dan harganya juga wajar banget. laen kali ke Cirebon aku akan bertualang lidah yang lebih ganas dan liar! :D
abis makan sega lengko, sebelum pulang ke Bandung, aku mampir dulu ke rumah teman baikku Andi di daerah Kedawung. temanku ini dan keluarganya sangat baik dan ramah. kami ngobrol-ngobrol ringan tentang banyak hal dan banyak tertawa tentunya! :D hidup ini kan menyenangkan. setelah numpang mandi dan shalat, aku pamit dan dengan setengah terpaksa harus kembali ke dunia nyata... Bandung.
Cirebon, hari terakhir
panasnya Cirebon ini hampir sama dengan kampung halamanku di Prabumulih. bangun pagi kaosku basah :D padahal semalem tidurnya gak pake selimut. gak banyak buang waktu, aku langsung mandi dan siap-siap mo jalan kaki pagi. ehm, makan apa ya? :D
sebagai pemanasan aku sarapan bubur ayam yang gerobaknya nongkrong di sekitar kaki lima lapangan Islamic Center Cirebon sisi Jalan Siliwangi. foto bubur ayamnya sangat meyakinkan, tapi ternyata penampakan aslinya gak serame fotonya :D. meskipun isinya tidak sebanyak yang tertera di foto, tapi rasa bubur ayamnya enak lho :) porsinya tidak begitu besar tapi cukuplah buat pemanasan perutku :D harganya enam ribu rupiah per porsi, kalo mo nambah "sate" per tusuknya dua ribu saja. sate ini isinya macem-macem, ada ampela, ati, telur puyuh, dan usus ayam.
karena masih rada pagi, aku terusin jalan-jalan kakiku masih menyusuri Jalan Siliwangi. kemaren malam aku inget ada gerai DUnkin' Donut di depan Griya Siliwangi, aku pikir aku bisa ngopi dulu sambil manfaatin hot spot-nya. ternyata di gerai ni tidak menyediakan menu sarapan yang aku inginkan, meskipun lebih mahal, aku akhirnya membeli paket donat + kopi item. aku sengaja duduk dekat jendela terluar, jadi bisa menikmati sinar matahari pagi sambil ngopi dan ngeblog :)
tidak lama... kopi hitam langsung bereaksi! pengen BAB! :D ...biasanya di kosan aku emang kayak gitu, ngopi pagi dulu baru abis tuh BAB dan mandi. sambil menahan hasrat yang bergejolak di dalam perut, aku menyusur balik jalan kaki ke arah stasiun. selesai urusan kamar mandi di penginapan, lega rasanya isi perut berkurang banyak :D. siap-siap makan berat!
penginapanku tuh sebelahan banget dengan jalan masuk ke stasiun (Jalan Stasiun Kejaksan), nah salah satu target kulinerku ada di jalan ini, Empal Gentong Mang Darma. di sepanjang jalan yang pendek ini (kayaknya cuma sekitar 100 meter) ada banyak banget pedagang makanan khas Cirebon. di dalam pagar stasiun juga masih ada yang jualan makanan, termasuk Empal Gentong Putra Mang Darma (yang konon masih berafiliasi dengan keluarga Darma juga). hasrat hati sih pengen banget bisa nyobain makan di sepanjang jalan ini :D tapi apatah daya perut dan kantong gak kuat. jadi aku cuma makan di Empal Gentong Mang Darma aja :)
tidak seperti kemaren sore, kali ini aku bener-bener makan empal dalam gentong :D gentongnya dipajang lengkap dengan api menyala dan kayu bakar di depan warung :) rasanya enak. tapi menurutku tidak terlalu istimewa. mungkin karena ekspektasi aku yang terlalu tinggi :D. harga seporsi empal gentong lengkap dengan nasi adalah tiga belas ribu rupiah. mungkin laen kali aku bakal nyobain racikan Putra Mang Darma dan Ibu Darma :)
abis makan empal gentong, aku putuskan untuk jalan-jalan santai lagi sambil nurunin isi perut :D ...temenku ngabarin kalo dia siap nemenin jalan sekitar jam sebelasan. dalam perjalanan menuju Gerage Mal, aku nemu gerobak es serut di pinggir Jalan Kartini. tulisannya Es Serut Mang Iwan dengan embel-embel Cabang Panembahan Plered. kenapa enggak? :D rasanya biasa aja sih :D tapi lumayan juga nambahin koleksi isi perut. segelas besar ditukar dengan dua lembar uang dua ribuan saja alias empat ribu rupiah.
nyampe depan Gerage Mal, aku gak jadi masuk karena teryata temenku ngabarin dia akan segera menjemput. tujuan berikutya adalah Empal Asem, Sega Lengko dan Batik Trusmi. setelah ini ya... bersambung.
sebagai pemanasan aku sarapan bubur ayam yang gerobaknya nongkrong di sekitar kaki lima lapangan Islamic Center Cirebon sisi Jalan Siliwangi. foto bubur ayamnya sangat meyakinkan, tapi ternyata penampakan aslinya gak serame fotonya :D. meskipun isinya tidak sebanyak yang tertera di foto, tapi rasa bubur ayamnya enak lho :) porsinya tidak begitu besar tapi cukuplah buat pemanasan perutku :D harganya enam ribu rupiah per porsi, kalo mo nambah "sate" per tusuknya dua ribu saja. sate ini isinya macem-macem, ada ampela, ati, telur puyuh, dan usus ayam.
karena masih rada pagi, aku terusin jalan-jalan kakiku masih menyusuri Jalan Siliwangi. kemaren malam aku inget ada gerai DUnkin' Donut di depan Griya Siliwangi, aku pikir aku bisa ngopi dulu sambil manfaatin hot spot-nya. ternyata di gerai ni tidak menyediakan menu sarapan yang aku inginkan, meskipun lebih mahal, aku akhirnya membeli paket donat + kopi item. aku sengaja duduk dekat jendela terluar, jadi bisa menikmati sinar matahari pagi sambil ngopi dan ngeblog :)
tidak lama... kopi hitam langsung bereaksi! pengen BAB! :D ...biasanya di kosan aku emang kayak gitu, ngopi pagi dulu baru abis tuh BAB dan mandi. sambil menahan hasrat yang bergejolak di dalam perut, aku menyusur balik jalan kaki ke arah stasiun. selesai urusan kamar mandi di penginapan, lega rasanya isi perut berkurang banyak :D. siap-siap makan berat!
penginapanku tuh sebelahan banget dengan jalan masuk ke stasiun (Jalan Stasiun Kejaksan), nah salah satu target kulinerku ada di jalan ini, Empal Gentong Mang Darma. di sepanjang jalan yang pendek ini (kayaknya cuma sekitar 100 meter) ada banyak banget pedagang makanan khas Cirebon. di dalam pagar stasiun juga masih ada yang jualan makanan, termasuk Empal Gentong Putra Mang Darma (yang konon masih berafiliasi dengan keluarga Darma juga). hasrat hati sih pengen banget bisa nyobain makan di sepanjang jalan ini :D tapi apatah daya perut dan kantong gak kuat. jadi aku cuma makan di Empal Gentong Mang Darma aja :)
tidak seperti kemaren sore, kali ini aku bener-bener makan empal dalam gentong :D gentongnya dipajang lengkap dengan api menyala dan kayu bakar di depan warung :) rasanya enak. tapi menurutku tidak terlalu istimewa. mungkin karena ekspektasi aku yang terlalu tinggi :D. harga seporsi empal gentong lengkap dengan nasi adalah tiga belas ribu rupiah. mungkin laen kali aku bakal nyobain racikan Putra Mang Darma dan Ibu Darma :)
abis makan empal gentong, aku putuskan untuk jalan-jalan santai lagi sambil nurunin isi perut :D ...temenku ngabarin kalo dia siap nemenin jalan sekitar jam sebelasan. dalam perjalanan menuju Gerage Mal, aku nemu gerobak es serut di pinggir Jalan Kartini. tulisannya Es Serut Mang Iwan dengan embel-embel Cabang Panembahan Plered. kenapa enggak? :D rasanya biasa aja sih :D tapi lumayan juga nambahin koleksi isi perut. segelas besar ditukar dengan dua lembar uang dua ribuan saja alias empat ribu rupiah.
nyampe depan Gerage Mal, aku gak jadi masuk karena teryata temenku ngabarin dia akan segera menjemput. tujuan berikutya adalah Empal Asem, Sega Lengko dan Batik Trusmi. setelah ini ya... bersambung.
misi gerage: sukses! :)
aku dah di Bandung lagi... capek tapi menyenangkan :) selalu menyenangkan kayaknya :D
misi kali ini sukses. Sega Jamblang Mang Dul, Empal Gentong Mang Darma, Sega Lengko Bi Sum, Empal Asem H. Apud, dan makanan-makanan lain sukses dicicipi dalam rentang waktu 24 jam di Cirebon :) bonusnya Maghrib di Masjid Kanoman, "kencan" di Gerongongan, liat pelabuhan malam-malam, dan beli kaos batik di Trusmi. bonus yang tidak diharapkan: akhirnya kejadian juga ditawari pijat plus plus di penginapan remang-remang :D
oya, makanan juaranya Sega Jamblang "Mang Dul" :)
besok deh aku ceritain lanjutannya... :)
oyasumi...
sedikit potret cerbon
misi kali ini sukses. Sega Jamblang Mang Dul, Empal Gentong Mang Darma, Sega Lengko Bi Sum, Empal Asem H. Apud, dan makanan-makanan lain sukses dicicipi dalam rentang waktu 24 jam di Cirebon :) bonusnya Maghrib di Masjid Kanoman, "kencan" di Gerongongan, liat pelabuhan malam-malam, dan beli kaos batik di Trusmi. bonus yang tidak diharapkan: akhirnya kejadian juga ditawari pijat plus plus di penginapan remang-remang :D
oya, makanan juaranya Sega Jamblang "Mang Dul" :)
besok deh aku ceritain lanjutannya... :)
oyasumi...
sedikit potret cerbon
![]() | ||
| Balai Kota Cirebon... ada udang bisa manjat gedung! :D |
![]() |
| Islamic Center Cirebon |
![]() |
| Empal dalam Gentong asli! :) |
![]() |
| kapal di Pelabuhan Cirebon |
23 Juni 2012
makan-makan jalan-jalan cerbonan
masih inget ceritaku di Dunkin Donut Malioboro :) (special breakfast) ...nah berdasarkan pengalaman menyenangkan ini :D sekarang aku lagi daring di Dunkin Donut Siliwangi (seberang Yogya Siliwangi) Cirebon. sayangnya di sini gak ada breakfast menu... jadi aku beli paket yang lain, donut + kopi rp. 19.900,00 (kalo special breakfast rp. 13.900,00). sekali lagi, meskipun aku gak gitu demen makan di gerai waralaba asing, tapi lumayan juga buat ngopi pagi-pagi sambil manfaatin hot spot-nya :D
ok cerita singkat keluyuran di Cirebon...
aku berangkat dari Terminal Cicaheum Bandung sekitar jam 09:00 nyampe Terminal Harjamukti Cirebon sekitar jam 16:00... lama ya? macetnya gila banget!!! untungnya aku naik Patas AC Bhinneka, jadi rada adem, oya tarifnya rp. 35.000,00 (Bandung - Cirebon). karena berangkatnya udah siang + macet... buyar deh semua rencana jalan-makan siangku.
dari Harjamukti, aku langsung naik angkot menuju Stasiun Cirebon... nah di sini masalahnya. aku tau ada dua stasiun di sini, Stasiun Kejaksan (a.k.a Stasiun Cirebon a.k.a Stasiun Siliwangi) dan Stasiun Prujakan. Stasiun Kejaksan melayani KA bisnis dan eksekutif, sedangkan Stasiun Prujakan melayani kelas ekonomi. aku tau ada dua stasiun, tapi aku lupa waktu naik angkot cuma bilang mo ke stasiun ke sopirnya. jadilah aku diantar ampe Stasiun Prujakan padahal aku mau ke Stasiun Kejaksan :D ....ya bonus jalan-jalan dikit, sapa tau lain kali melancong ke sini naik kereta ekonomi :)
kenapa ke Stasiun Kejaksan? karena biasanya ada banyak penginapan murah di sekitar stasiun, meskipun dekat dengan daerah mesum juga biasanya :D. oke, berdasarkan pencarian intensif di dunia maya, aku memutuskan untuk menginap di "Hotel" Famili, meskipun judulnya "hotel" mungkin "penginapan" lebih tepat :). pengan tau gak berapa rentang tarif menginap di sini? kelas A (kamar mandi dalam) 50-60-70 ribu saja :) kelas B (kamar mandi luar) 30-40-50 ribu saja! :D murah banget ya? tapi ya fasilitas dan kenyamanan emang sesuai harga juga :) tentu aja aku pilih yang palng mahal... kelas B 30 ribu! :D
nyampe Famili sekitar jam 17:00, abis ngecek kamar dan kamar mandi (luar) aku lansung cabut lagi... jalan-jalan sore sambil mo nyari makan. sialnya nyampe jam segini tuh tempat-tempat makan yang buka pagi biasanya udah tutup, tapi tempat makan yang buka malam biasanya baru siap-siap :D jadinya aku gak berharap banyak, siap makan apa aja dimana aja :D
terus terang aku gak ada tujuan jalan yang jelas (rencana jalan siangku buyar karena udah sore nyampe Cirebon)... jadi aku jalan aja menyusuri Jalan Siliwangi menuju Jalan Karang Getas. nyampe depan sebuah pertokoan aku liat ada banyak gerobak makanan, ya udah aku samperin aja. aku mo nyobain empal gentong (empal panci aluminium tepatnya :D), harganya 10 ribu udah plus nasi. sampe ujung Karang Getas aku belok kiri ke Jalan Winoan, nemu Pasar Kanoman. jalan-jalan dikit lagi nemu deh semacam gapura menuju Keraton Kanoman. karena udah sore aku emang gak niat mengunjungi keraton, jadi aku langsung aja menuju Masjid Kanoman sambil nunggu Maghrib tiba.
seperti yang aku bilang sebelumnya... jalan-jalan sore ini murni "kecelakaan" :D nama-nama jalan tadi baru aku kenali di TKP lho, trus aku juga gak tau kalo di ujung jalan ada keraton karena emang tidak ada petunjuk yang cukup jelas mengenai keberadaan keraton. bahkan karena gak jeli, aku ampe bablas ngelewatin gerbangnya. jadi Keraton Kanoman ini "tersembunyi" di belakan pasar, kasian ya? aku bisa rada mengenali gerbangnya karena aku inget sebuah liputan wisata ke keraton ini pada sebuah stasiun TV swasta.
abis Maghrib di Masjid Kanoman, aku menyusur balik jalan yang sama menuju Jalan Siliwangi (kembali ke arah stasiun). di simpang Pasar Kanoman (Jalan Winoan) dan Karang Getas ada sebuah Wihara yang menarik mata, namanya Wihara Pemancar Keselamatan. tapi karena udah malem, aku cuma bisa liat-liat dari gerbangnya aja.
di ujung Jalan Karang Getas ada gerobak yang menarik mata dan perut :D tulisannya Steak Jalanan, cobain ah!.... liat-liat menu, harganya emang gak mahal. paling mahal tuh Beef Burger + Soft Drink = 12ribu. ya udah aku pesan aja Beef Steak (yang ternyata dagingnya sama kayak buat yang Beef Burger :D). ternyata mas-mas yang jual ini kreatif banget lho, mereka meracik sendiri daging cincang dan saus di warung ini. jadi rasa daging dan sausnya unik, gak pasaran, meskipun aku gak bisa bilang ini bakal pas untuk semua lidah :) tapi aku sangat menghargai keaslian rasanya yang mereka ciptakan. oya Beef Steak-nya seharga 10 ribu saja.
belum kenyang bener dengan steak jalanan, aku jalan lagi menuju alun-alun di depan Islamic Center Cirebon (masih di jalur yang sama)... tadi pas lewat dari arah sebaliknya, aku liat ada banyak jajanan ringan di situ. aku beli tahu gejrot dulu, lanjut dengan es durian. dua-duanya gak gitu istimewa sih :D tapi lumayanlah buat mengisi waktu luang sambil nunggu makan malam (lho steak tadi bukan makan malam? :D). abis ngegejrot dan ngedurian... aku ngadem dulu sambil nunggu temen yang mo ngajak jalan pake sepeda motor.
lepas Isya, temenku dateng, ngobrol bentar abis tuh langsung cabut. gak ada tujuan yang baku :D kami mampir bentar di Pelabuhan Cirebon. abis tuh ngalor-ngidul dikit.... menuju daerah Geronggongan. di sini kami "pacaran" sambil makan jagung bakar dan minum es kelapa. empat jagung bakar + dua es kelapa muda ditukar dengan uang 36 ribu! mahal ya? iya, soalnya orang ke sini buat nyari tempat pacaran :D bukan buat makan jagung aja :D (lebih sial lagi karena kami berdua sama-sama laki-laki :D)
abis dari geronggongan... kami turun lagi menuju pusat kota. pas lewat dekat Gerage Mal, ternyata Warung Sega Jamblang "Mang Dul" udah buka... makan lagi? kenapa tidak! :D ajaibnya harga makanan di sini jauh lebih murah daripada di Geronggongan tadi. kami makan berdua udah dengan lauk yang melimpah, total bayar 34 ribu saja :). gak ada detail soal harga, jadi aku gak bisa ngasi tau. yang pasti aku inget kalo sambelnya bayar juga (seribu kalo gak salah) :D
oke, malam makin larut, tapi belum ngopi nih... ya udah daerah stasiun kan kalo malem banyak tempat nongkrong. nemu satu warung lesehan jual tempe mendoan dan teh poci khas tegal. pas banget nih. pesan dua kopi hitam dan satu porsi tempe mendoan (@5 ribu, jadi total 15ribu). sambil menenangkan isi perut kami ngobrol cukup lama di warung ini. ngobrol macem-macem deh... paling banyak sih ngegosipin teman-teman lama :D maklum ini temenku seangkatan waktu SMA dulu.
jelang jam 12 malam... mata udah mulai redup, perut udah gak jelas isinya macem-macem :D tujuh jam terakhir ini aku udah makan nasi + empal gentong + beef steak (porsi kecil dengan kentang) + tahu gejrot + es durian + jagung bakar + es kelapa + sega jamblang + tempe mendoan + kopi. ya lumayan kenyang... (lumayan? yang bener aja! :D banyak banget tuh!)
ya sgitu deh cerita jalan-jalan makan cirebonan hari pertama... hari ini harus lebih giat lagi nyari makanan yang lain! :D cemunguuud eaaaa kk!!!
ok cerita singkat keluyuran di Cirebon...
aku berangkat dari Terminal Cicaheum Bandung sekitar jam 09:00 nyampe Terminal Harjamukti Cirebon sekitar jam 16:00... lama ya? macetnya gila banget!!! untungnya aku naik Patas AC Bhinneka, jadi rada adem, oya tarifnya rp. 35.000,00 (Bandung - Cirebon). karena berangkatnya udah siang + macet... buyar deh semua rencana jalan-makan siangku.
dari Harjamukti, aku langsung naik angkot menuju Stasiun Cirebon... nah di sini masalahnya. aku tau ada dua stasiun di sini, Stasiun Kejaksan (a.k.a Stasiun Cirebon a.k.a Stasiun Siliwangi) dan Stasiun Prujakan. Stasiun Kejaksan melayani KA bisnis dan eksekutif, sedangkan Stasiun Prujakan melayani kelas ekonomi. aku tau ada dua stasiun, tapi aku lupa waktu naik angkot cuma bilang mo ke stasiun ke sopirnya. jadilah aku diantar ampe Stasiun Prujakan padahal aku mau ke Stasiun Kejaksan :D ....ya bonus jalan-jalan dikit, sapa tau lain kali melancong ke sini naik kereta ekonomi :)
kenapa ke Stasiun Kejaksan? karena biasanya ada banyak penginapan murah di sekitar stasiun, meskipun dekat dengan daerah mesum juga biasanya :D. oke, berdasarkan pencarian intensif di dunia maya, aku memutuskan untuk menginap di "Hotel" Famili, meskipun judulnya "hotel" mungkin "penginapan" lebih tepat :). pengan tau gak berapa rentang tarif menginap di sini? kelas A (kamar mandi dalam) 50-60-70 ribu saja :) kelas B (kamar mandi luar) 30-40-50 ribu saja! :D murah banget ya? tapi ya fasilitas dan kenyamanan emang sesuai harga juga :) tentu aja aku pilih yang palng mahal... kelas B 30 ribu! :D
nyampe Famili sekitar jam 17:00, abis ngecek kamar dan kamar mandi (luar) aku lansung cabut lagi... jalan-jalan sore sambil mo nyari makan. sialnya nyampe jam segini tuh tempat-tempat makan yang buka pagi biasanya udah tutup, tapi tempat makan yang buka malam biasanya baru siap-siap :D jadinya aku gak berharap banyak, siap makan apa aja dimana aja :D
terus terang aku gak ada tujuan jalan yang jelas (rencana jalan siangku buyar karena udah sore nyampe Cirebon)... jadi aku jalan aja menyusuri Jalan Siliwangi menuju Jalan Karang Getas. nyampe depan sebuah pertokoan aku liat ada banyak gerobak makanan, ya udah aku samperin aja. aku mo nyobain empal gentong (empal panci aluminium tepatnya :D), harganya 10 ribu udah plus nasi. sampe ujung Karang Getas aku belok kiri ke Jalan Winoan, nemu Pasar Kanoman. jalan-jalan dikit lagi nemu deh semacam gapura menuju Keraton Kanoman. karena udah sore aku emang gak niat mengunjungi keraton, jadi aku langsung aja menuju Masjid Kanoman sambil nunggu Maghrib tiba.
seperti yang aku bilang sebelumnya... jalan-jalan sore ini murni "kecelakaan" :D nama-nama jalan tadi baru aku kenali di TKP lho, trus aku juga gak tau kalo di ujung jalan ada keraton karena emang tidak ada petunjuk yang cukup jelas mengenai keberadaan keraton. bahkan karena gak jeli, aku ampe bablas ngelewatin gerbangnya. jadi Keraton Kanoman ini "tersembunyi" di belakan pasar, kasian ya? aku bisa rada mengenali gerbangnya karena aku inget sebuah liputan wisata ke keraton ini pada sebuah stasiun TV swasta.
abis Maghrib di Masjid Kanoman, aku menyusur balik jalan yang sama menuju Jalan Siliwangi (kembali ke arah stasiun). di simpang Pasar Kanoman (Jalan Winoan) dan Karang Getas ada sebuah Wihara yang menarik mata, namanya Wihara Pemancar Keselamatan. tapi karena udah malem, aku cuma bisa liat-liat dari gerbangnya aja.
di ujung Jalan Karang Getas ada gerobak yang menarik mata dan perut :D tulisannya Steak Jalanan, cobain ah!.... liat-liat menu, harganya emang gak mahal. paling mahal tuh Beef Burger + Soft Drink = 12ribu. ya udah aku pesan aja Beef Steak (yang ternyata dagingnya sama kayak buat yang Beef Burger :D). ternyata mas-mas yang jual ini kreatif banget lho, mereka meracik sendiri daging cincang dan saus di warung ini. jadi rasa daging dan sausnya unik, gak pasaran, meskipun aku gak bisa bilang ini bakal pas untuk semua lidah :) tapi aku sangat menghargai keaslian rasanya yang mereka ciptakan. oya Beef Steak-nya seharga 10 ribu saja.
belum kenyang bener dengan steak jalanan, aku jalan lagi menuju alun-alun di depan Islamic Center Cirebon (masih di jalur yang sama)... tadi pas lewat dari arah sebaliknya, aku liat ada banyak jajanan ringan di situ. aku beli tahu gejrot dulu, lanjut dengan es durian. dua-duanya gak gitu istimewa sih :D tapi lumayanlah buat mengisi waktu luang sambil nunggu makan malam (lho steak tadi bukan makan malam? :D). abis ngegejrot dan ngedurian... aku ngadem dulu sambil nunggu temen yang mo ngajak jalan pake sepeda motor.
lepas Isya, temenku dateng, ngobrol bentar abis tuh langsung cabut. gak ada tujuan yang baku :D kami mampir bentar di Pelabuhan Cirebon. abis tuh ngalor-ngidul dikit.... menuju daerah Geronggongan. di sini kami "pacaran" sambil makan jagung bakar dan minum es kelapa. empat jagung bakar + dua es kelapa muda ditukar dengan uang 36 ribu! mahal ya? iya, soalnya orang ke sini buat nyari tempat pacaran :D bukan buat makan jagung aja :D (lebih sial lagi karena kami berdua sama-sama laki-laki :D)
abis dari geronggongan... kami turun lagi menuju pusat kota. pas lewat dekat Gerage Mal, ternyata Warung Sega Jamblang "Mang Dul" udah buka... makan lagi? kenapa tidak! :D ajaibnya harga makanan di sini jauh lebih murah daripada di Geronggongan tadi. kami makan berdua udah dengan lauk yang melimpah, total bayar 34 ribu saja :). gak ada detail soal harga, jadi aku gak bisa ngasi tau. yang pasti aku inget kalo sambelnya bayar juga (seribu kalo gak salah) :D
oke, malam makin larut, tapi belum ngopi nih... ya udah daerah stasiun kan kalo malem banyak tempat nongkrong. nemu satu warung lesehan jual tempe mendoan dan teh poci khas tegal. pas banget nih. pesan dua kopi hitam dan satu porsi tempe mendoan (@5 ribu, jadi total 15ribu). sambil menenangkan isi perut kami ngobrol cukup lama di warung ini. ngobrol macem-macem deh... paling banyak sih ngegosipin teman-teman lama :D maklum ini temenku seangkatan waktu SMA dulu.
jelang jam 12 malam... mata udah mulai redup, perut udah gak jelas isinya macem-macem :D tujuh jam terakhir ini aku udah makan nasi + empal gentong + beef steak (porsi kecil dengan kentang) + tahu gejrot + es durian + jagung bakar + es kelapa + sega jamblang + tempe mendoan + kopi. ya lumayan kenyang... (lumayan? yang bener aja! :D banyak banget tuh!)
ya sgitu deh cerita jalan-jalan makan cirebonan hari pertama... hari ini harus lebih giat lagi nyari makanan yang lain! :D cemunguuud eaaaa kk!!!
22 Juni 2012
Tiang Gerage
Sega Jamblang
Sega Lengko
Empal Gentong
target utama akhir pekan ini :D ... jalan-jalan makan, perut didahulukan.
sisa perjalanan, biarlah kaki yang menentukan...
tau kan ini mo kemana? :) sampai ketemu, di hari minggu!...
12 Juni 2012
berlibur ke Borobudur II
baca cerita sebelumnya klik di sini
nyampe depan loket penjualan tiket masuk, ternyata udah rame banget, tapi kayaknya gak ada satupun pengunjung individu, semuanya datang dalam rombongan. yang ngantri beli tiket gak banyak, gak nyampe sepuluh orang, tapi tiap orang entah beli berapa banyak tiket masuk? :D belum lagi aku curi-curi dengar masih ada yang nawar-nawar gitu minta bonus free-ticket masuk, emang bisa ya? :D tiba giliranku, ternyata tiketnya berbentuk smart-card, jadi gak bisa disimpan untuk koleksi karena kartunya akan "ditelan mesin," harganya 30 ribu sama kayak di Prambanan.
setelah melewati gerbang pemeriksaan tiket aku jadi rada bingung... menurutku papan penunjuk arah ke komplek candi kurang ramah pengunjung. jadi kayak domba, awalnya aku ikutin aja keramaian yang bergerak :D ternyata ada papan petunjuk, cuma kurang strategis penempatannya (sama kayak papan petunjuk arah di tempat parkirnya). beberapa sarana penunjang berada di daerah ini, jadi kalo mo ke kamar mandi atau istirahat bentar bisa duduk-duduk di sini, suasanya cukup nyaman dan adem.
nah menuju ke candi, kita akan menemui kios peminjaman sarung :D gratis kok. jadi kita harus pake sarung kain batik dulu sebelum masuk ke candi, kayaknya sih gak wajib tapi ya gak ada salahnya juga ngeramein program "sarungisasi" Borobudur :) oya, meskipun "cuma" tempat wisata, menurutku kita sebaiknya berpakaian cukup sopan, gimanapun juga Borobudur adalah tempat suci agama Buddha, bahkan tiap tahun dijadikan sebagai tempat memperingati Trisuci Waisak bagi umat Buddha.
oke... setelah pake sarung, kita akan melalui boulevard menuju kaki candi. tapi tunggu dulu, jangan buru-buru naik tangga... kalo ini kunjungan pertama, sebaiknya membaca dulu "aturan main" mengunjungi Borobudur. ada dua papan informasi yang cukup besar di sebelah kiri-kanan boulevard, sebaiknya dibaca dulu supaya kita dapat menikmati ziarah suci ini dengan maksimal :) misalnya ada anjuran untuk masuk melalui sisi timur dan berjalan melingkari Borobudur searah jarum jam (candi terletak di sisi kanan tubuh kita).
akhirnya Borobudur dan aku tinggal dipisahkan oleh beberapa anak tangga saja :) aku gak bisa menggambarkan suasana hatiku saat aku akhirnya bisa melihat kemegahan Borobudur secara langsung dari kakinya sampai ke puncak (dari boulevard ada titik strategis untuk melihatnya, yaitu dari monumen Situs Warisan Dunia). pada pelataran timur candi ada lagi tuh beberapa papan informasi yang wajib dibaca pengunjung serius sebelum benar-benar menginjakkan kaki ke candi.
sebenernya kesan pertama melihat Borobudur buatku tidak terlalu besar dan luas, tapi teryata itu cuma ilusi optik :) bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah." bener banget... kemegahan dan keindahan Borobudur emang harus dialami langsung dengan menyusuri tiap tingkat sesuai anjuran. banyak pengunjung yang tidak sabar dan tergoda untuk langsung menuju tingkatan puncak Borobudur, tapi hal ini sangat TIDAK aku sarankan! :) semakin cepat kita mencapai puncak, semakin banyak hikmah perjalanan yang hilang. jangan lupa, perjalanan itu sendiri adalah tujuan :)
aku bukan penganut agama Buddha, tapi aku pribadi mengakui kebenaran-kebenaran universal ajaran Buddha dan Borobudur adalah tempat yang tepat untuk merasakannya. sayangnya tidak semua pengunjung bisa menghormati kekhusyukan tempat ini. banyak pengunjung, khususnya yang berusia belia, yang berpolah kurang sopan, menurutku. paling tidak secara rasional, kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak fisik candi, misalnya memanjat dinding candi demi pose foto "keren." masih ada juga pengunjung yang membuang sampah sembarangan (meskipun sangat sedikit, tapi tetep aja tidak bisa dibenarkan). banyak juga pengunjung khususnya rombongan yang (lagi-lagi) berusia belia yang tidak menjaga ucapannya (berbicara kasar dan kotor, paling tidak menurut standarku), bahkan sampai membuat keributan. kayaknya kita emang harus mendapat edukasi pra-kunjungan sebelum bener-bener datang ke sini.
informasi seputar seputar candi Borobudur cukup mudah kita peroleh secara daring. tinggal klik di mesin pencari :) aku rada menyesal karena tidak menggali informasi yang lebih banyak sebelum ke sini, meskipun bersyukur bisa diberi kesempatan untuk melihat langsung Borobudur :) aku pasti akan ke sini lagi! :D
berjalan kaki menyusuri lorong-lorong Borobudur ternyata cukup sepi, alhamdulillah :) suasananya cukup kondusif untuk menikmati setiap langkah dengan lebih khusyuk dan santai. sambil berjalan kita bisa menikmati relief indah pada dinding candi dan arca Buddha dimana-mana (konon aslinya ada 504 arca Buddha tersebar di sini). beberapa petugas kebersihan terlihat memindai hampir tiap inci dari sandi, aku perhatikan ada yang berbekal pinset untuk memungut tiap benda asing yang mereka temukan sekecil apapun. mudah-mudahan emang kayak gini ya perawatan rutinnya tiap hari :) jadi Borobudur bisa semakin awet dan masih bisa dinikmati ribuan tahun lagi.
Borobudur yang aku kira gak begitu luas, ternyata sangat menguras fisik untuk mengitarinya :D padahal aku cuma berjalan perlahan lho, tidak terlalu lama mengamati tiap panel (karena aku gak gitu ngerti gambar-gambarnya). masih di level Rupadhatu, dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk, aku sudah hampir teler :D mungkin juga karena aku belum sarapan dan memaksakan diri untuk mengitari semua lorong di sini. bener-bener ujian fisik dan mental. aku gak mungkin nyerah dan turun dari candi, aku juga gak mungkin ambil jalan pintas naik tangga langsung menuju puncak candi, sia-sia dong aku jauh-jauh dateng ke sini kalo gak bisa menikmati Borobudur semaksimal mungkin, sia-sia juga dong upayaku dalam mengambil hikmah dari perjalanan ini. jadi setelah beristirahat sejenak, aku meneruskan menyusuri tiap lorong di ranah Rupadhatu..
akhirnya aku bisa mencapai tingkat Arupadhatu, tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. dinding pada tingkatan ini sudah tidak dihiasi relief lagi. sayangnya pada hari itu sedang ada program penyemprotan air pada tingkat ini, kayaknya bertujuan membersihkan debu-debu yang berpotensi merusak struktur candi. aku gak bisa melakukan ritual keliling searah jarum jam lagi, terpaksa mengalah. pada 3 level teratas ini struktur bangunan sudah tidak berbentuk bujursangkar lagi (seperti semua tingkat di bawahnya) tetapi berbentuk lingkaran.
pada tingkat Arupadhatu terdapat puluhan stupa berbentuk lonceng berongga (dindingnya bolong-bolong) yang didalamnya berisi arca Budha, disusun dalam tiga barisan (lingkaran tepatnya) mengelilingi satu stupa terbesar sebagai stupa induk (titik tertinggi dari Borobudur). stupa terbesar dan tertinggi ini juga berbentuk lonceng tapi tanpa lubang-lubang, tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna.
untuk menjaga kestabilan struktur bangunan pada tiga tingkat tertinggi ini, pengunjung yang naik dibatasi jumlahnya. ada seorang petugas yang mengawasi jumlah pengunjung maksimal yang dapat menginjak tingkat ini. selain juga mengawasi pengunjung-pengunjung nakal yang memanjat stupa atau berusaha meraih arca Buddha yang "terkurung."
karena sudah cukup lelah, meskipun belum sepenuhnya puas... aku memutuskan untuk tidak terlalu lama berada pada tingkat Arupadhatu ini. setelah mengelilingi ketiga lingkaran yang ada, aku segera turun melalui sisi utara (sisi yang dianjurkan). nyampe di pelataran utara, aku istirahat sebentar sambil menghabiskan sisa air minum, pas liat jam... gak kerasa aku sudah berjalan lebih dari dua jam untuk mengelilingi Borobudur dari pelataran ampe stupa induk. padahal rasa-rasanya aku udah melewatkan banyak panel relief dan detail candi lho! kira-kira butuh berapa lama ya untuk "membaca" semua relief Borobudur dan menikmati detail-detail candi yang lain seperti misalnya posisi duduk arca Buddha yang berbeda-beda (sekilas tampak sama :D). apalagi kalo sambil meditasi... lain kali! :)
karena sudah sangat lelah dan lapar :D aku membatalkan niat untuk mengunjungi beberapa fasilitas pendukung yang terletak di sekitar areal candi. suatu hari aku pasti akan kembali! harus!:) satu jam kemudian (duduk-duduk di pelataran utara + duduk-duduk lagi di bawah pohon dekat pintu keluar + jalan kaki sekitar 10 menit menuju terminal dari gerbang komplek candi) aku sudah duduk manis menunggu bus menuju Jogja di terminal Borobudur (waktu menunjukkan pukul 10:30 wib). jarak terminal ini dari gerbang candi tidak begitu jauh lho, jadi kalo mo ngirit mending jalan kaki aja. biasanya akan ada banyak andong yang nawarin jasa angkutan dari dan ke candi, seru juga sih kalo mo nyobain rame-rame :D
setelah ini aku pengen berbagi tips menikmati Borobudur dengan maksimal :)
foto-foto perjalananku ke Borobudur bisa dilihat di:
- tutur Borobudur
- tutur Borobudur II
- tututr Borobudur III
-tututr Borobudur IV
nyampe depan loket penjualan tiket masuk, ternyata udah rame banget, tapi kayaknya gak ada satupun pengunjung individu, semuanya datang dalam rombongan. yang ngantri beli tiket gak banyak, gak nyampe sepuluh orang, tapi tiap orang entah beli berapa banyak tiket masuk? :D belum lagi aku curi-curi dengar masih ada yang nawar-nawar gitu minta bonus free-ticket masuk, emang bisa ya? :D tiba giliranku, ternyata tiketnya berbentuk smart-card, jadi gak bisa disimpan untuk koleksi karena kartunya akan "ditelan mesin," harganya 30 ribu sama kayak di Prambanan.
setelah melewati gerbang pemeriksaan tiket aku jadi rada bingung... menurutku papan penunjuk arah ke komplek candi kurang ramah pengunjung. jadi kayak domba, awalnya aku ikutin aja keramaian yang bergerak :D ternyata ada papan petunjuk, cuma kurang strategis penempatannya (sama kayak papan petunjuk arah di tempat parkirnya). beberapa sarana penunjang berada di daerah ini, jadi kalo mo ke kamar mandi atau istirahat bentar bisa duduk-duduk di sini, suasanya cukup nyaman dan adem.
nah menuju ke candi, kita akan menemui kios peminjaman sarung :D gratis kok. jadi kita harus pake sarung kain batik dulu sebelum masuk ke candi, kayaknya sih gak wajib tapi ya gak ada salahnya juga ngeramein program "sarungisasi" Borobudur :) oya, meskipun "cuma" tempat wisata, menurutku kita sebaiknya berpakaian cukup sopan, gimanapun juga Borobudur adalah tempat suci agama Buddha, bahkan tiap tahun dijadikan sebagai tempat memperingati Trisuci Waisak bagi umat Buddha.
oke... setelah pake sarung, kita akan melalui boulevard menuju kaki candi. tapi tunggu dulu, jangan buru-buru naik tangga... kalo ini kunjungan pertama, sebaiknya membaca dulu "aturan main" mengunjungi Borobudur. ada dua papan informasi yang cukup besar di sebelah kiri-kanan boulevard, sebaiknya dibaca dulu supaya kita dapat menikmati ziarah suci ini dengan maksimal :) misalnya ada anjuran untuk masuk melalui sisi timur dan berjalan melingkari Borobudur searah jarum jam (candi terletak di sisi kanan tubuh kita).
akhirnya Borobudur dan aku tinggal dipisahkan oleh beberapa anak tangga saja :) aku gak bisa menggambarkan suasana hatiku saat aku akhirnya bisa melihat kemegahan Borobudur secara langsung dari kakinya sampai ke puncak (dari boulevard ada titik strategis untuk melihatnya, yaitu dari monumen Situs Warisan Dunia). pada pelataran timur candi ada lagi tuh beberapa papan informasi yang wajib dibaca pengunjung serius sebelum benar-benar menginjakkan kaki ke candi.
sebenernya kesan pertama melihat Borobudur buatku tidak terlalu besar dan luas, tapi teryata itu cuma ilusi optik :) bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah." bener banget... kemegahan dan keindahan Borobudur emang harus dialami langsung dengan menyusuri tiap tingkat sesuai anjuran. banyak pengunjung yang tidak sabar dan tergoda untuk langsung menuju tingkatan puncak Borobudur, tapi hal ini sangat TIDAK aku sarankan! :) semakin cepat kita mencapai puncak, semakin banyak hikmah perjalanan yang hilang. jangan lupa, perjalanan itu sendiri adalah tujuan :)
aku bukan penganut agama Buddha, tapi aku pribadi mengakui kebenaran-kebenaran universal ajaran Buddha dan Borobudur adalah tempat yang tepat untuk merasakannya. sayangnya tidak semua pengunjung bisa menghormati kekhusyukan tempat ini. banyak pengunjung, khususnya yang berusia belia, yang berpolah kurang sopan, menurutku. paling tidak secara rasional, kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat merusak fisik candi, misalnya memanjat dinding candi demi pose foto "keren." masih ada juga pengunjung yang membuang sampah sembarangan (meskipun sangat sedikit, tapi tetep aja tidak bisa dibenarkan). banyak juga pengunjung khususnya rombongan yang (lagi-lagi) berusia belia yang tidak menjaga ucapannya (berbicara kasar dan kotor, paling tidak menurut standarku), bahkan sampai membuat keributan. kayaknya kita emang harus mendapat edukasi pra-kunjungan sebelum bener-bener datang ke sini.
informasi seputar seputar candi Borobudur cukup mudah kita peroleh secara daring. tinggal klik di mesin pencari :) aku rada menyesal karena tidak menggali informasi yang lebih banyak sebelum ke sini, meskipun bersyukur bisa diberi kesempatan untuk melihat langsung Borobudur :) aku pasti akan ke sini lagi! :D
berjalan kaki menyusuri lorong-lorong Borobudur ternyata cukup sepi, alhamdulillah :) suasananya cukup kondusif untuk menikmati setiap langkah dengan lebih khusyuk dan santai. sambil berjalan kita bisa menikmati relief indah pada dinding candi dan arca Buddha dimana-mana (konon aslinya ada 504 arca Buddha tersebar di sini). beberapa petugas kebersihan terlihat memindai hampir tiap inci dari sandi, aku perhatikan ada yang berbekal pinset untuk memungut tiap benda asing yang mereka temukan sekecil apapun. mudah-mudahan emang kayak gini ya perawatan rutinnya tiap hari :) jadi Borobudur bisa semakin awet dan masih bisa dinikmati ribuan tahun lagi.
Borobudur yang aku kira gak begitu luas, ternyata sangat menguras fisik untuk mengitarinya :D padahal aku cuma berjalan perlahan lho, tidak terlalu lama mengamati tiap panel (karena aku gak gitu ngerti gambar-gambarnya). masih di level Rupadhatu, dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk, aku sudah hampir teler :D mungkin juga karena aku belum sarapan dan memaksakan diri untuk mengitari semua lorong di sini. bener-bener ujian fisik dan mental. aku gak mungkin nyerah dan turun dari candi, aku juga gak mungkin ambil jalan pintas naik tangga langsung menuju puncak candi, sia-sia dong aku jauh-jauh dateng ke sini kalo gak bisa menikmati Borobudur semaksimal mungkin, sia-sia juga dong upayaku dalam mengambil hikmah dari perjalanan ini. jadi setelah beristirahat sejenak, aku meneruskan menyusuri tiap lorong di ranah Rupadhatu..
akhirnya aku bisa mencapai tingkat Arupadhatu, tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. dinding pada tingkatan ini sudah tidak dihiasi relief lagi. sayangnya pada hari itu sedang ada program penyemprotan air pada tingkat ini, kayaknya bertujuan membersihkan debu-debu yang berpotensi merusak struktur candi. aku gak bisa melakukan ritual keliling searah jarum jam lagi, terpaksa mengalah. pada 3 level teratas ini struktur bangunan sudah tidak berbentuk bujursangkar lagi (seperti semua tingkat di bawahnya) tetapi berbentuk lingkaran.
pada tingkat Arupadhatu terdapat puluhan stupa berbentuk lonceng berongga (dindingnya bolong-bolong) yang didalamnya berisi arca Budha, disusun dalam tiga barisan (lingkaran tepatnya) mengelilingi satu stupa terbesar sebagai stupa induk (titik tertinggi dari Borobudur). stupa terbesar dan tertinggi ini juga berbentuk lonceng tapi tanpa lubang-lubang, tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud yang sempurna.
untuk menjaga kestabilan struktur bangunan pada tiga tingkat tertinggi ini, pengunjung yang naik dibatasi jumlahnya. ada seorang petugas yang mengawasi jumlah pengunjung maksimal yang dapat menginjak tingkat ini. selain juga mengawasi pengunjung-pengunjung nakal yang memanjat stupa atau berusaha meraih arca Buddha yang "terkurung."
karena sudah cukup lelah, meskipun belum sepenuhnya puas... aku memutuskan untuk tidak terlalu lama berada pada tingkat Arupadhatu ini. setelah mengelilingi ketiga lingkaran yang ada, aku segera turun melalui sisi utara (sisi yang dianjurkan). nyampe di pelataran utara, aku istirahat sebentar sambil menghabiskan sisa air minum, pas liat jam... gak kerasa aku sudah berjalan lebih dari dua jam untuk mengelilingi Borobudur dari pelataran ampe stupa induk. padahal rasa-rasanya aku udah melewatkan banyak panel relief dan detail candi lho! kira-kira butuh berapa lama ya untuk "membaca" semua relief Borobudur dan menikmati detail-detail candi yang lain seperti misalnya posisi duduk arca Buddha yang berbeda-beda (sekilas tampak sama :D). apalagi kalo sambil meditasi... lain kali! :)
karena sudah sangat lelah dan lapar :D aku membatalkan niat untuk mengunjungi beberapa fasilitas pendukung yang terletak di sekitar areal candi. suatu hari aku pasti akan kembali! harus!:) satu jam kemudian (duduk-duduk di pelataran utara + duduk-duduk lagi di bawah pohon dekat pintu keluar + jalan kaki sekitar 10 menit menuju terminal dari gerbang komplek candi) aku sudah duduk manis menunggu bus menuju Jogja di terminal Borobudur (waktu menunjukkan pukul 10:30 wib). jarak terminal ini dari gerbang candi tidak begitu jauh lho, jadi kalo mo ngirit mending jalan kaki aja. biasanya akan ada banyak andong yang nawarin jasa angkutan dari dan ke candi, seru juga sih kalo mo nyobain rame-rame :D
setelah ini aku pengen berbagi tips menikmati Borobudur dengan maksimal :)
foto-foto perjalananku ke Borobudur bisa dilihat di:
- tutur Borobudur
- tutur Borobudur II
- tututr Borobudur III
-tututr Borobudur IV
berlibur ke Borobudur :)
baru nyadar kalo aku belum posting kisahku ke borobudur :D
akhirnya 16 Mei 2012, aku bisa mewujudkan mimpiku untuk melihat Borobudur :) dan mudah-mudahan ini bukan kunjungan yang terakhir... masih ada misi yang belum tuntas di Borobudur.
15 Mei 2012, akhirnya aku memilih untuk menggunakan moda angkutan bus Pahala Kencana jurusan Bandung - Jogjakarta (melalui Magelang) dengan biaya 100ribu. pertimbanganku adalah biaya yang lebih murah dari kereta kelas bisnis, tapi lebih nyaman, selain itu kalo aku turun di Magelang artinya aku bisa lebih hemat waktu dan biaya. dari obrolan singkat dengan penumbang bus yang lain... ternyata aku bisa turun di Terminal Salaman (sebelum Magelang) yang katanya lebih dekat lagi ke candi.
perjalanan dari Bandung dimulai pada pukul 6 sore lebih sedikit... enaknya naik bus eksekutif, kita bisa tidur dengan cukup nyaman (AC + reclining seat) dan dapet jatah makan malam gratis di Tasikmalaya. singkatnya... sesaat sebelum azan subuh bergema, aku turun di Terminal Salaman. senangnya pikirku, Borobudur aku datang!... tapi tunggu dulu.
Terminal Salaman ini bukan terminal besar meskipun terletak di jalan raya antar kota yang cukup padat menuju Magelang dan Jogjakarta. untungnya aku bukan satu-satunya penumpang yang turun di terminal ini... jadilah kami berdua sama-sama menunggu matahari terbit di emperan sebuah warung yang belum buka. dia menawarkan tebengan menuju area candi, tetapi harus menunggu rada siang karena jam segitu (sekitar setengah 5 pagi) dia masih sungkan membangunkan salah satu anggota keluarganya untuk minta jemputan.dari penuturannya aku juga baru ngeh kalo angkutan dari terminal ini menuju terminal Borobudur mungkin baru tersedia agak siang... wah sia-sia deh nyampe subuh tapi gak bisa nikmati pagi di candi.
sekitar jam 6an, setelah ngobrol ngalor-ngidul lebih dari sejam di warung remang-remang :D akhirnya sebuah sepeda motor datang menghampiri. tawaran nebeng yang sulit ditolak :D kamipun melaju bonceng tiga! jalan yang kami lintasi adalah jalan kampung, meskipun tidak begitu lebar tetapi cukup mulus dan penuh pemandangan alam yang indah. ternyata cukup jauh juga dari terminal tadi menuju Borobudur, tapi perkiraannku kalo jalan kaki tadi gak nyampe 2 jam bisa nyampe :D
aku diturunkan di tapal batas Desa Gendingan... menurut teman baruku ini, aku tinggal berjalan sedikit lagi menyusuri pagar besi di sebelah kanan jalanku (pagar komplek candi), jadi aku menuju Borobudur dari "belakang." waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. di sepanjang jalan menuju pintu gerbang aku melihat ada beberapa papan petunjuk tempat penginapan, temenku tadi bilang kalo sewanya murah-murah, mungkin gak nyampe 100ribu per malam, tapi tempatnya sederhana. beberapa orang penduduk sudah memulai aktivitas paginya, beberapa kendaraan bermotor juga sudah melintas.
menjelang gerbang, bau-bau keramaian semakin semerbak... mulai terlihat beberapa bus pariwisata yang parkir di tepi jalan. aku kira jam setengah tujuh tuh masih cukup pagi dan sepi... aku salah besar. masuk pintu gerbang, ternyata tempat parkir udah penuh dengan bus pariwisata dari berbagai daerah (menilik dari pelat nomornya). sebagian besar adalah rombongan anak sekolah dan suasana makin ramai udah kayak di pasar aja. yang lebih ajaibnya lagi adalah tidak lama kemudian aku mendengar celotehan-celotehan bahasa sunda kasar... ya ampun, jauh-jauh ke Borobudur ketemunya orang bandung juga :D
sebenarnya aku sedikit lapar karena belum sarapan, tapi pikiran udah gak tahan lagi pengen cepet-cepet masuk ke areal candi yang sudah semakin dekat. aku tau kalo di dalam areal candi tidak ada penjual makanan dan minuman, tapi aku pikir aku masih bisalah bertahan hidup sedikit lagi dengan sisa-sisa kalori dari makan malam di Tasikmalaya dan persediaan air minum botol 600 ml. ternyata aku salah...
aku terlalu meremehkan Borobudur... ternyata jalan-jalan kakiku masih sangat panjang. setelah ini bisa dibilang kalo aku masih akan jalan kaki beberapa jam lagi (tanpa sarapan) dan baru makan siang pada hampir jam 2 siang di Jogja!
bersambung...
akhirnya 16 Mei 2012, aku bisa mewujudkan mimpiku untuk melihat Borobudur :) dan mudah-mudahan ini bukan kunjungan yang terakhir... masih ada misi yang belum tuntas di Borobudur.
15 Mei 2012, akhirnya aku memilih untuk menggunakan moda angkutan bus Pahala Kencana jurusan Bandung - Jogjakarta (melalui Magelang) dengan biaya 100ribu. pertimbanganku adalah biaya yang lebih murah dari kereta kelas bisnis, tapi lebih nyaman, selain itu kalo aku turun di Magelang artinya aku bisa lebih hemat waktu dan biaya. dari obrolan singkat dengan penumbang bus yang lain... ternyata aku bisa turun di Terminal Salaman (sebelum Magelang) yang katanya lebih dekat lagi ke candi.
perjalanan dari Bandung dimulai pada pukul 6 sore lebih sedikit... enaknya naik bus eksekutif, kita bisa tidur dengan cukup nyaman (AC + reclining seat) dan dapet jatah makan malam gratis di Tasikmalaya. singkatnya... sesaat sebelum azan subuh bergema, aku turun di Terminal Salaman. senangnya pikirku, Borobudur aku datang!... tapi tunggu dulu.
Terminal Salaman ini bukan terminal besar meskipun terletak di jalan raya antar kota yang cukup padat menuju Magelang dan Jogjakarta. untungnya aku bukan satu-satunya penumpang yang turun di terminal ini... jadilah kami berdua sama-sama menunggu matahari terbit di emperan sebuah warung yang belum buka. dia menawarkan tebengan menuju area candi, tetapi harus menunggu rada siang karena jam segitu (sekitar setengah 5 pagi) dia masih sungkan membangunkan salah satu anggota keluarganya untuk minta jemputan.dari penuturannya aku juga baru ngeh kalo angkutan dari terminal ini menuju terminal Borobudur mungkin baru tersedia agak siang... wah sia-sia deh nyampe subuh tapi gak bisa nikmati pagi di candi.
sekitar jam 6an, setelah ngobrol ngalor-ngidul lebih dari sejam di warung remang-remang :D akhirnya sebuah sepeda motor datang menghampiri. tawaran nebeng yang sulit ditolak :D kamipun melaju bonceng tiga! jalan yang kami lintasi adalah jalan kampung, meskipun tidak begitu lebar tetapi cukup mulus dan penuh pemandangan alam yang indah. ternyata cukup jauh juga dari terminal tadi menuju Borobudur, tapi perkiraannku kalo jalan kaki tadi gak nyampe 2 jam bisa nyampe :D
aku diturunkan di tapal batas Desa Gendingan... menurut teman baruku ini, aku tinggal berjalan sedikit lagi menyusuri pagar besi di sebelah kanan jalanku (pagar komplek candi), jadi aku menuju Borobudur dari "belakang." waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. di sepanjang jalan menuju pintu gerbang aku melihat ada beberapa papan petunjuk tempat penginapan, temenku tadi bilang kalo sewanya murah-murah, mungkin gak nyampe 100ribu per malam, tapi tempatnya sederhana. beberapa orang penduduk sudah memulai aktivitas paginya, beberapa kendaraan bermotor juga sudah melintas.
menjelang gerbang, bau-bau keramaian semakin semerbak... mulai terlihat beberapa bus pariwisata yang parkir di tepi jalan. aku kira jam setengah tujuh tuh masih cukup pagi dan sepi... aku salah besar. masuk pintu gerbang, ternyata tempat parkir udah penuh dengan bus pariwisata dari berbagai daerah (menilik dari pelat nomornya). sebagian besar adalah rombongan anak sekolah dan suasana makin ramai udah kayak di pasar aja. yang lebih ajaibnya lagi adalah tidak lama kemudian aku mendengar celotehan-celotehan bahasa sunda kasar... ya ampun, jauh-jauh ke Borobudur ketemunya orang bandung juga :D
sebenarnya aku sedikit lapar karena belum sarapan, tapi pikiran udah gak tahan lagi pengen cepet-cepet masuk ke areal candi yang sudah semakin dekat. aku tau kalo di dalam areal candi tidak ada penjual makanan dan minuman, tapi aku pikir aku masih bisalah bertahan hidup sedikit lagi dengan sisa-sisa kalori dari makan malam di Tasikmalaya dan persediaan air minum botol 600 ml. ternyata aku salah...
aku terlalu meremehkan Borobudur... ternyata jalan-jalan kakiku masih sangat panjang. setelah ini bisa dibilang kalo aku masih akan jalan kaki beberapa jam lagi (tanpa sarapan) dan baru makan siang pada hampir jam 2 siang di Jogja!
bersambung...
09 Juni 2012
tutur Borobudur IV
| Borobudur dilihat dari pelataran sudut barat laut |
| tingkat Arupadhatu (tidak berupa atau tidak berwujud) dengan banyak stupa berterawang dan satu stupa induk (stupa terbesar, latar belakang) |
| arca Buddha dalam stupa berongga pada tingkat Arupadhatu |
| ukiran kepala raksasa sebagai pancuran drainase |
| konstruksi penutup relief Karmawibhangga yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi |
08 Juni 2012
tutur Borobudur III
sebagian yang rusak ... sebagian yang hilang ... mudah-mudahan sisanya tetap terjaga!
Kepala arca Buddha adalah bagian yang paling banyak dicuri. Pemerintah Hindia Belanda juga pernah merestui penjarahan ini, beberapa artefak utuh dikirim ke Thailand sebagai hadiah bagi Raja Chulalongkorn. artefak-artefak itu kini dapat disaksikan di Museum Nasional di Bangkok. pada 21 Januari 1985, sembilan stupa rusak parah akibat sembilan bom. (wikipedia)
tutur Borobudur
| Monumen Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO |
| Borobudur dilihat dari sudut tenggara |
| sudut tenggara pada bagian Kamadathu (dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah") yang "dibuka" untuk menampakkan relief Karmawibhangga (naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma) |
| arca singa penjaga gerbang |
| arca Buddha dalam relung pada tingkat Rupadhatu (dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk) |
ceceran
tidak dimuat secara kronologis :D
| cuci mulut terakhir di Malang sebelum pulang ke bandung :D |
| JANGAN pernah meniru pose konyol dua pria yang bodoh dan kampungan ini!!! |
(pose narsis dengan resiko merusak arca)
| kuburan batu di Candi Sewu |
| jaman dahulu, mungkin para prajurit musik ini pulang ke barak naik kereta kuda atau jalan kaki :) |
| lokasi favorit foto bersama sebelum naik ke Candi Borobudur |
| instalasi seni di kawasan Kilometer Nol Jogja |
| Dwarapala, arca penjaga dengan latar belakang Candi Utama di komplek Candi Sewu |
| bunga teratai di kolam Tugu Malang |
30 Mei 2012
secuplik rekaman perjalanan IV
malang di Malang
atas banyak pertimbangan, aku memilih Stasiun Kota Baru Malang sebagai titik awal untuk nyari tempat menginap dan jalan-jalan kaki liat kota. pertimbangan utama adalah uang yang terbatas :D berdasarkan informasi yang berhasil aku himpun sebelum berangkat, ada beberapa penginapan yang cukup murah di sekitar stasiun dan ada beberapa tempat yang menarik juga dalam jangkauan jalan kaki dari stasiun.
tetapi kenyataan hidup emang seringkali menyakitkan..curcol dikit :D ... beberapa tempat yang aku hubungi ternyata penuh, terus pas nanya-nanya tarif kamar, ternyata semuanya sudah naik, tidak sesuai dengan data yang aku punya. kalo soal tarif sebenernya aku sudah rada nyiapin hati untuk sakit :D secara teoretis inflasi adalah keniscayaan. tapi soal "penuh" ternyata aku salah perhitungan. aku terlalu menyepelekan Malang. hikmahnya adalah backpacking ga anti-booking! :D (kalo bisa, gak ada salahnya memastikan ketersediaan kamar dan tarif terbaru). gara-gara malu bertanya, aku jadi jalan-jalan pagi menjelang siang di Malang :D
ini rencana awalku: pagi nyampe di Malang, terus nyari penginapan murah di sekitar Stasiun, istirahat dulu bentar sambil isi perut. siangnya aku mo ke Museum Brawijaya, sambil nungguin (katanya) ada latihan aikido sore jam 4 di aula museum. nah abis latihan, aku baru mo jalan-jalan kaki di kawasan sekitar Stasiun, Tugu, Kayutangan, dan Alun-alun. kalo wisata kuliner aku gak terlalu mikirin, rencanaku aku mo makan aja apa yang nemu di jalan, syukur-syukur kalo ketemu makanan yang unik. soal makanan yang aku niat nyari adalah keripik buah, khususnya keripik buah-buah yang banyak airnya, penasaran! :D
sebenernya meskipun dengan urutan yang berbeda, cuma satu yang keluar rencana, yaitu Museum Brawijaya. tapi kegagalan mendapat penginapan dalam waktu yang cepat, membuat jadwal keluyuran dimajukan sehingga kelelahan terakumulasi dan membuat istirahat pagi-siang berubah menjadi tidur siang ampe maghrib! :D faktor kelelahan fisik ini membuat aktvitas keluyuran jadi sedikit berkurang nikmatnya.
oh ya... ada satu lagi kenyataan hidup yang perih aku alami di pagi yang cerah ini (18 Mei 2012). rencanaku, dari Malang aku pengen nyobain naik kereta ekonomi, Matarmaja jurusan Malang - Pasar Senen. pastinya hemat banget dan banyak pengalaman baru buatku :D. tapi sekali lagi aku harus bersabar dan tawakal... ternyata semua tiket sudah habis terjual sampai tanggal 25 Mei, sementara tiket kereta lain yang ada eksekutif dan bisnisnya harus menunggu sampe setelah tanggal 22 Mei. masalahnya adalah kantongku sudah menipis dan aku ada PR yang harus aku kerjakan sebelum Senin (21 Mei). dalam keadaan galau, aku meninggalkan stasiun.
tapi dalam galau, aku tetap berkilau (kepalaku hampir plontos dan langit cukup cerah :D). dari Stasiun, aku menyusuri Jalan Trunojoyo (ke arah utara), tujuanku adalah Hotel Camelia di Jalan dr. Cipto. berjalan lurus ampe nemu simpang yang membagi dua Jalan dr. Cipto, tanpa ragu aku belok kiri (ke arah barat), sesuai dengan info yang aku peroleh dari sebuah buku. sekali lagi aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku salah belok. lagi-lagi aku dikibulin oleh pengarang yang sama yang juga ngibulin aku di Solo (di Solo aku diberi nomor telfon penginapan yang salah). entah salah cetak, entah si pengarang yang iseng... ternyata hotel yang aku tuju ada di belahan timur dari simpang jalan. seperti sisifus aku balik arah dan tubuh renta ini masih belum bisa bernafas lega.
sekitar 50 meter dari simpang jalan, menyeberangi rel, terbaca Hotel Kamelia. tunggu dulu penderitaan belum berakhir. para dewa belum berniat memberi grasi kepada sisifus. resepsionis hotel membawa kabar buruk... hotel penuh. tetapi ada secercah harapan, setelah jam 12 siang, kemungkinan besar akan ada tamu yang keluar. dengan ramah, dia memberikan selembar kartu nama hotel dan menyarankan untuk menghubungi lagi sekitar tengah hari. waktu menunjukkan sedikit menit lewat dari jam 9 pagi.
dengan hati galau dan langkah gontai aku keluar dari hotel... sebuah warung kecil di pinggir rel kereta menarik hati (emang dah laper banget!). boleh juga nih... jadilah aku pesan nasi pecel dan segelas teh manis hangat. ternyata peruntunganku tampaknya sudah mulai berbalik. sesuatu banget. meskipun sederhana, nasi pecel yang aku santap terasa sangat nikmat, teh yang manis dan harum juga kembali menyegarkan jiwa dan raga. semuanya aku nikmati dengan perlahan, bukan apa-apa, aku dah capek banget dan agak ngantuk jadi sekalian istirahat maksudnya. meskipun warungnya sempit tapi jendelanya lebar (bonus debu karena di pinggir jalan dan rel :D) membawa angin sepoi. dan harganya itu lho... hanya senilai tiga lembar uang dua ribuan! sesuatu banget! :D
begitulah awal petualangan yang sedikit malang di Malang. pelajaran kali ini adalah... jangan ragu untuk memesan kamar dan tiket kereta! :D tapi meskipun sedikit malang, seperti sisifus aku tetap bahagia :D aku setuju dengan temenku, tidak ada yang sia-sia dari sebuah pengalaman, bahkan yang buruk sekalipun :) paling tidak aku jadi punya satu bahan bualan di blog ini :D
malang melintang di Malang akan datang!
tetapi kenyataan hidup emang seringkali menyakitkan..curcol dikit :D ... beberapa tempat yang aku hubungi ternyata penuh, terus pas nanya-nanya tarif kamar, ternyata semuanya sudah naik, tidak sesuai dengan data yang aku punya. kalo soal tarif sebenernya aku sudah rada nyiapin hati untuk sakit :D secara teoretis inflasi adalah keniscayaan. tapi soal "penuh" ternyata aku salah perhitungan. aku terlalu menyepelekan Malang. hikmahnya adalah backpacking ga anti-booking! :D (kalo bisa, gak ada salahnya memastikan ketersediaan kamar dan tarif terbaru). gara-gara malu bertanya, aku jadi jalan-jalan pagi menjelang siang di Malang :D
ini rencana awalku: pagi nyampe di Malang, terus nyari penginapan murah di sekitar Stasiun, istirahat dulu bentar sambil isi perut. siangnya aku mo ke Museum Brawijaya, sambil nungguin (katanya) ada latihan aikido sore jam 4 di aula museum. nah abis latihan, aku baru mo jalan-jalan kaki di kawasan sekitar Stasiun, Tugu, Kayutangan, dan Alun-alun. kalo wisata kuliner aku gak terlalu mikirin, rencanaku aku mo makan aja apa yang nemu di jalan, syukur-syukur kalo ketemu makanan yang unik. soal makanan yang aku niat nyari adalah keripik buah, khususnya keripik buah-buah yang banyak airnya, penasaran! :D
sebenernya meskipun dengan urutan yang berbeda, cuma satu yang keluar rencana, yaitu Museum Brawijaya. tapi kegagalan mendapat penginapan dalam waktu yang cepat, membuat jadwal keluyuran dimajukan sehingga kelelahan terakumulasi dan membuat istirahat pagi-siang berubah menjadi tidur siang ampe maghrib! :D faktor kelelahan fisik ini membuat aktvitas keluyuran jadi sedikit berkurang nikmatnya.
oh ya... ada satu lagi kenyataan hidup yang perih aku alami di pagi yang cerah ini (18 Mei 2012). rencanaku, dari Malang aku pengen nyobain naik kereta ekonomi, Matarmaja jurusan Malang - Pasar Senen. pastinya hemat banget dan banyak pengalaman baru buatku :D. tapi sekali lagi aku harus bersabar dan tawakal... ternyata semua tiket sudah habis terjual sampai tanggal 25 Mei, sementara tiket kereta lain yang ada eksekutif dan bisnisnya harus menunggu sampe setelah tanggal 22 Mei. masalahnya adalah kantongku sudah menipis dan aku ada PR yang harus aku kerjakan sebelum Senin (21 Mei). dalam keadaan galau, aku meninggalkan stasiun.
tapi dalam galau, aku tetap berkilau (kepalaku hampir plontos dan langit cukup cerah :D). dari Stasiun, aku menyusuri Jalan Trunojoyo (ke arah utara), tujuanku adalah Hotel Camelia di Jalan dr. Cipto. berjalan lurus ampe nemu simpang yang membagi dua Jalan dr. Cipto, tanpa ragu aku belok kiri (ke arah barat), sesuai dengan info yang aku peroleh dari sebuah buku. sekali lagi aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku salah belok. lagi-lagi aku dikibulin oleh pengarang yang sama yang juga ngibulin aku di Solo (di Solo aku diberi nomor telfon penginapan yang salah). entah salah cetak, entah si pengarang yang iseng... ternyata hotel yang aku tuju ada di belahan timur dari simpang jalan. seperti sisifus aku balik arah dan tubuh renta ini masih belum bisa bernafas lega.
sekitar 50 meter dari simpang jalan, menyeberangi rel, terbaca Hotel Kamelia. tunggu dulu penderitaan belum berakhir. para dewa belum berniat memberi grasi kepada sisifus. resepsionis hotel membawa kabar buruk... hotel penuh. tetapi ada secercah harapan, setelah jam 12 siang, kemungkinan besar akan ada tamu yang keluar. dengan ramah, dia memberikan selembar kartu nama hotel dan menyarankan untuk menghubungi lagi sekitar tengah hari. waktu menunjukkan sedikit menit lewat dari jam 9 pagi.
dengan hati galau dan langkah gontai aku keluar dari hotel... sebuah warung kecil di pinggir rel kereta menarik hati (emang dah laper banget!). boleh juga nih... jadilah aku pesan nasi pecel dan segelas teh manis hangat. ternyata peruntunganku tampaknya sudah mulai berbalik. sesuatu banget. meskipun sederhana, nasi pecel yang aku santap terasa sangat nikmat, teh yang manis dan harum juga kembali menyegarkan jiwa dan raga. semuanya aku nikmati dengan perlahan, bukan apa-apa, aku dah capek banget dan agak ngantuk jadi sekalian istirahat maksudnya. meskipun warungnya sempit tapi jendelanya lebar (bonus debu karena di pinggir jalan dan rel :D) membawa angin sepoi. dan harganya itu lho... hanya senilai tiga lembar uang dua ribuan! sesuatu banget! :D
begitulah awal petualangan yang sedikit malang di Malang. pelajaran kali ini adalah... jangan ragu untuk memesan kamar dan tiket kereta! :D tapi meskipun sedikit malang, seperti sisifus aku tetap bahagia :D aku setuju dengan temenku, tidak ada yang sia-sia dari sebuah pengalaman, bahkan yang buruk sekalipun :) paling tidak aku jadi punya satu bahan bualan di blog ini :D
malang melintang di Malang akan datang!
29 Mei 2012
ngangkot di Malang
ini penggalan cerita dan kesan pertamaku waktu masuk Kota Malang, 18 Mei 2012.
karena aku datang dari arah Jombang dan daerah Batu, maka aku masuk ke Kota Malang melalui Terminal Landung Sari. terminal ini terletak di bagian barat laut kota. kalo malam sebelumnya aku meneruskan perjalanan dari Jogja ampe Surabaya, maka aku akan masuk kota Malang melalui Terminal Arjosari (bagian utara kota). sementara Terminal Gadang berada di bagian selatan kota, kalo mo ke Pulau Sempu harus lewat sini (kalo naik angkutan umum dari tengah kota).
satu-satunya angkutan umum di Kota Malang adalah angkot. tipe mobilnya sama kayak angkot di Bandung, tapi uniknya adalah semua berwarna biru tua dengan tarif jauh-dekat rp. 2.500,00 saja. rute angkot dibedakan melakui huruf tertentu (dalam kapital), misalnya ADL yang berarti angkot jurusan Arjosari - Dinoyo - Landung Sari. konon, ada 2176 angkot yang melayani 25 rute di Malang (berdasarkan data yang aku baca di koran lokal) dan angkot-angkot ini melayani paling lama ampe jam 9 malam, kadang cuma ampe jam 6 sore untuk rute sepi. jadi siap-siap diri aja buat kamu yang mo keluyuran ampe malem.
sopir angkot di mana aja punya hobi yang sama, ngetem! karena baru pertama kali ke Malang, aku langsung aja masuk ke dalam angkot yang ada di dalam terminal. waktu menunjukkan beberapa menit sebelum jam 7 pagi. terminal masih sepi banget! seharusnya aku nongkrong di dekat pintu keluar terminal, kayaknya penumpang yang berpengalaman lebih milih nunggu angkot di sini (meskipun resminya gak boleh). jadilah aku menunggu dan menunggu sendirian (berdua dengan pak kusir)... beberapa menit kemudian, angkot belum juga berniat meluncur, karena penumpangnya masih jomblo alias tunggal :D
ngobrol berdua dengan pak kusir lama-lama jadi bosan juga. belum lagi perut menahan lapar dan masih tersisa sedikit kantuk setelah digoyang-getar dalam angkutan dari Jombang yang melalui Batu. sudahlah... aku menyerah! tawar menawar dengan pak sopir, sepakat pada harga rp. 15.000,00 untuk carter angkot dari terminal ke stasiun. mungkin kalo lebih berani bisa nawar lebih rendah, tapi menurutku segitu gak mahal banget lagian aku juga dah bosan banget nunggu lama gak bisa ngapa-ngapain di dalam terminal.
sesuai data yang aku berhasil aku himpun sebelum memulai jalan-jalan ini, tempat yang paling pas untuk menginap dan titik awal adalah sekitar Stasiun Kota Baru Malang, Jalan Trunojoyo. beberapa penginapan murah berada pada jangkauan jalan kaki dari stasiun, pun daerah wisata kota. jadi aku bisa menghemat biaya dan waktu.
ok.. jadi aku tekankan lagi beberapa info penting seputar angkutan umum di Kota Malang. kalo mo ke daerah Batu kamu harus mulai dari Terminal Landung Sari. transit bus antar-kota, misalnya mo ke Surabaya, kamu bisa ke Terminal Arjosari. sementara yang mo ke Pulau Sempu atau pantai-pantai selatan atau keluar kota seperti Blitar, kamu bisa mulai dari Terminal Gadang. kalo bingung rute angkot, nanya aja! :D rasanya cukup aman, buatku. di dalam terminal juga terdapat papan informasi seputar rute angkot yang cukup jelas. ongkos angkot adalah rp. 2.500,00 jauh-dekat, tetapi siapkan hati bila ngetemnya lama :D kalo kepepet banget, di Malang ada taksi juga kok :D jangan khawatir (meskipun aku belum nyobain, tapi aku liat ada beberapa taksi yang berseliweran di jalan-jalan kota).
itu baru soal angkutan umum di Malang... sekarang aku harus nyari tempat istirahat dan bermalam. setelah ini ya... :D
karena aku datang dari arah Jombang dan daerah Batu, maka aku masuk ke Kota Malang melalui Terminal Landung Sari. terminal ini terletak di bagian barat laut kota. kalo malam sebelumnya aku meneruskan perjalanan dari Jogja ampe Surabaya, maka aku akan masuk kota Malang melalui Terminal Arjosari (bagian utara kota). sementara Terminal Gadang berada di bagian selatan kota, kalo mo ke Pulau Sempu harus lewat sini (kalo naik angkutan umum dari tengah kota).
satu-satunya angkutan umum di Kota Malang adalah angkot. tipe mobilnya sama kayak angkot di Bandung, tapi uniknya adalah semua berwarna biru tua dengan tarif jauh-dekat rp. 2.500,00 saja. rute angkot dibedakan melakui huruf tertentu (dalam kapital), misalnya ADL yang berarti angkot jurusan Arjosari - Dinoyo - Landung Sari. konon, ada 2176 angkot yang melayani 25 rute di Malang (berdasarkan data yang aku baca di koran lokal) dan angkot-angkot ini melayani paling lama ampe jam 9 malam, kadang cuma ampe jam 6 sore untuk rute sepi. jadi siap-siap diri aja buat kamu yang mo keluyuran ampe malem.
sopir angkot di mana aja punya hobi yang sama, ngetem! karena baru pertama kali ke Malang, aku langsung aja masuk ke dalam angkot yang ada di dalam terminal. waktu menunjukkan beberapa menit sebelum jam 7 pagi. terminal masih sepi banget! seharusnya aku nongkrong di dekat pintu keluar terminal, kayaknya penumpang yang berpengalaman lebih milih nunggu angkot di sini (meskipun resminya gak boleh). jadilah aku menunggu dan menunggu sendirian (berdua dengan pak kusir)... beberapa menit kemudian, angkot belum juga berniat meluncur, karena penumpangnya masih jomblo alias tunggal :D
ngobrol berdua dengan pak kusir lama-lama jadi bosan juga. belum lagi perut menahan lapar dan masih tersisa sedikit kantuk setelah digoyang-getar dalam angkutan dari Jombang yang melalui Batu. sudahlah... aku menyerah! tawar menawar dengan pak sopir, sepakat pada harga rp. 15.000,00 untuk carter angkot dari terminal ke stasiun. mungkin kalo lebih berani bisa nawar lebih rendah, tapi menurutku segitu gak mahal banget lagian aku juga dah bosan banget nunggu lama gak bisa ngapa-ngapain di dalam terminal.
sesuai data yang aku berhasil aku himpun sebelum memulai jalan-jalan ini, tempat yang paling pas untuk menginap dan titik awal adalah sekitar Stasiun Kota Baru Malang, Jalan Trunojoyo. beberapa penginapan murah berada pada jangkauan jalan kaki dari stasiun, pun daerah wisata kota. jadi aku bisa menghemat biaya dan waktu.
ok.. jadi aku tekankan lagi beberapa info penting seputar angkutan umum di Kota Malang. kalo mo ke daerah Batu kamu harus mulai dari Terminal Landung Sari. transit bus antar-kota, misalnya mo ke Surabaya, kamu bisa ke Terminal Arjosari. sementara yang mo ke Pulau Sempu atau pantai-pantai selatan atau keluar kota seperti Blitar, kamu bisa mulai dari Terminal Gadang. kalo bingung rute angkot, nanya aja! :D rasanya cukup aman, buatku. di dalam terminal juga terdapat papan informasi seputar rute angkot yang cukup jelas. ongkos angkot adalah rp. 2.500,00 jauh-dekat, tetapi siapkan hati bila ngetemnya lama :D kalo kepepet banget, di Malang ada taksi juga kok :D jangan khawatir (meskipun aku belum nyobain, tapi aku liat ada beberapa taksi yang berseliweran di jalan-jalan kota).
itu baru soal angkutan umum di Malang... sekarang aku harus nyari tempat istirahat dan bermalam. setelah ini ya... :D
24 Mei 2012
secuplik rekaman perjalanan III
| Tugu dan Kantor Pemkot Malang |
| Tugu dan Kantor Pemkot Malang |
| Gereja Hati Kudus Yesus (Gereja Kayutangan) |
| Gereja Hati Kudus Yesus (Gereja Kayutangan) |
| GPIB Immanuel, latar kiri adalah menara Masjid Agung Jami' |
| GPIB Immanuel, latar kiri adalah menara Masjid Agung Jami' |
| Masjid Agung Jami' dengan latar depan Alun-alun Kota Malang |
menembus-waktu bagian 1
aku sudah merencanakan perjalanan kali ini beberapa bulan sebelumnya. meskipun demikian, aku tidak membuat rencana perjalanan yang kaku, inilah enaknya pelesiran-solo :) karena sendirian, aku bebas menentukan destinasi, durasi, dan moda angkutan, selama persediaan uang dan badan masih segar :D tema perjalanan secara umum adalah perjalanan-waktu, karena target utama perjalanan kali ini adalah Borobudur dan Prambanan, sisanya aku berencana melihat bangunan-bangunan tua atau museum.
oke... ini adalah cerita bagian pertama perjalananku.
15 Mei 2012
kira-kira sebulan sebelum rencana keberangkatan, aku sudah memesan tiket kereta api menuju Yogyakarta. ternyata sehari sebelum berangkat aku memutuskan untuk mengganti moda angkutan :D alasannya adalah Bus Pahala Kencana yang akan aku tumpangi ini akan melewati Magelang sebelum sampai di Yogyakarta, jadi hemat biaya dan waktu karena tujuan pertamaku adalah Borobudur. tarif Bus Pahala Kencana jurusan Bandung-Magelang-Yogyakarta adalah rp. 100.000,00. lebih mahal dibandingkan dengan tarif kereta api ekonomi, tetapi lebih murah dibandingkan dengan kereta api eksekutif. pertimbangan utamaku saat itu adalah kenyamanan, karena dalam bus ini aku bisa tidur dengan enak.
sore itu rintangan pertama menghadang... Bandung hujan deras! agak sulit untuk naik angkot dari rumahku di Tamansari menuju jalan Riau tanpa berbasah-basah air hujan repot aja kalo mo jalan jauh pake bus AC pula dengan pakaian lembab. setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku putuskan untuk memesan taksi saja. baru mo jalan udah mahal aja :D alhamdulillah aku bisa sampai di jalan Riau 146 dengan tepat waktu dan kering, beberapa menit sebelum jam 6 sore. dan 25 ribu rupiahku melayang ke kantong sopir taksi Blue Bird :D
ternyata bus berangkat sedikit telat, karena ada satu calon penumpang yang katanya masih di Cipaganti gile bener, jauh aja! dengan kondisi hujan dan kemacetan rutin di sore hari kota Bandung, bisa-bisa bus berangkat jam 7 malam nih. sambil mengisi waktu luang, aku mengajak ngobrol seorang calon penumpang lain. sesuatu banget! ternyata dia akan berhenti di sekitar Magelang, dan menyarankan agar aku tidak turun di terminal Magelang karena ada terminal lain yang lebih dekat ke Borobudur, namanya terminal Salaman. dia juga berjanji akan membantu mengingatkan aku bila kami sudah mendekati Salaman.
akhirnya bus berangkat sekitar jam 18:13, telat sedikit biasa :D serunya, ternyata teman di sebelahku adalah mahasiswa S2 psikologi UGM (bukan teman ngobrol di awal tadi). kegemaran dan kebencianku akan psikologi membuat percakapan kami lumayan seru :D sayangnya dia tidak akrab dengan Paul Ekman dan mikro-ekspresi, tapi ternyata dia sangat tertarik dengan bidang pendidikan. jadi kami banyak berbincang seputar pendidikan, khususnya aspek psikologis dalam dunia pendidikan. perbincangan yang menarik buatku.
sekitar jam sepuluh malam bus berhenti sebentar di Rumah Makan Sanggar Rasa di daerah Tasikmalaya. makan malam yang telat :D ini salah satu kelebihan bus eksekutif, layanan makan gratis. lumayan untuk menghemat biaya dan menggerak-gerakkan badan supaya tidak terlalu kaku. terus terang rasa masakannya biasa saja :D tapi lumayan juga untuk yang gratisan, lagian aku dah biasa makan ala kadarnya :D saat istirahat ini juga aku manfaatkan untuk mengingatkan kondektur soal tempat pemberhentian yang aku inginkan nanti.
pasca-makan malam kantuk tak terelakkan :D tapi aku bisa tidur dengan tenang tanpa khawatir melewatkan terminal Salaman karena aku sudah mengingatkan kondektur dan ada penumpang lain juga yang berjanji akan mengingatkan bila bus sudah mendekati Salaman. buat kamu yang bepergian sendirian ke tempat yang masih asing, menurutku penting sekali untuk paling tidak banyak bertanya kepada kondektur dan meminta untuk diingatkan atau dibangunkan bila sudah mendekati tujuan. lebih beruntung lagi bila ternyata ada penumpang lain yang juga turun di tempat yang sama.
16 Mei 2012
jam menunjukkan pukul 04:30 ketika aku turun di terminal Salaman. aku membayangkan terminal dan pasar yang ramai menjelang pagi atau paling tidak ada warung-warung yang menawarkan kopi dan makanan... ternyata tidak. ternyata Salaman adalah tempat yang sepi, meskipun berada di tepi jalan antar kota yang cukup ramai. alhamdulillah, sesuatu banget lagi. kebetulan aku tidak turun sendirian, karena penumpang yang (ternyata) duduk di belakangku (orang yang berbeda lagi dari dua orang sebelumnya di atas) adalah penduduk lokal yang baru pulang dari tugasnya di Bandung. sekali lagi aku mengeluarkan jurus sok-akrab :D
dari penuturannya, aku mendapatkan informasi bahwa aku harus menunggu sampai matahari cukup tinggi untuk mendapatkan angkutan umum yang melayani rute ke Borobudur. jarak dari Salaman ke Borobudur menurutnya cukup jauh ketika aku mengutarakan niat untuk berjalan kaki. percaya dengan ucapannya, aku urungkan niat untuk berjalan kaki dan menunggu sampai pagi tiba sambil mengobrol di depan warung yang belum buka. dia juga harus menunggu jemputan, karena masih terlalu pagi dia sungkan membangunkan salah satu anggota keluarganya dan memutuskan untuk menelfon ketika matahari sudah terbit.
obrolan ringan kami ternyata cukup berat :D karena dia bekerja di bidang listrik dan pembangkitan, kami jadi banyak berbincang seputar perlistrikan. banyak cerita menarik seputar benturan-benturan di lapangan dengan penduduk lokal dan hambatan-hambatan birokrasi yang dia alami. aku juga baru menyadari bahwa industri listrik ini banyak melibatkan komponen impor yang harganya sangat mahal. target penyelesaian juga sering terhambat karena keterlambatan masuknya komponen impor ini ke Indonesia. negara menerapkan penalti yang sangat tinggi bagi kontraktor yang gagal memenuhi target penyelesaian proyek.
tidak terasa jam di ponselku menunjukkan angka lewat beberapa menit dari angka enam. dia menawarkan tumpangan menuju Borobudur karena belum ada tanda-tanda akan adanya angkutan umum yang menuju kesana. sebuah tawaran yang mustahil aku tolak :D jadilah kami bertiga (ditambah adik laki-lakinya yang menjemput) berdesakan di atas sebuah sepeda motor menembus jalan kampung menuju Borobudur. meskipun kecil, jalan ini dilapisi aspal yang cukup bagus. pemandangan yang ditawarkan juga tidak mengecewakan, aktivitas pagi penduduk desa yang memulai hari dan hijaunya lanskap alam.
pukul 06:30 aku diturunkan di gerbang dusun Gendingan, aku berada di "belakang" komplek candi, Borobudur sudah dekat! aku masih harus berjalan kaki sedikit lagi, karena sepeda motor yang aku tumpangi harus berbelok ke arah yang berbeda. kira-kira 10 menit berjalan santai kemudian, aku sampai di depan gerbang komplek candi yang ternyata sudah cukup ramai lho! :D
aku gagal menikmati matahari terbit dari atas candi... tetapi aku tetap bersyukur karena mimpiku untuk ke Borobudur akhirnya terwujud :) dan jalanku ke sini banyak diberi kemudahan serta pengalaman yang menarik. kisah perjalananku belum selesai lho! :D lanjut di posting berikutnya...
ps: kayaknya kalo ke sini lagi dengan rute yang sama... turun dari bus aku mo jalan kaki aja langsung ke Borobudur. jauh sih, tapi kayaknya mending jalan daripada ngelamun gak jelas di emperan warung :D
oke... ini adalah cerita bagian pertama perjalananku.
15 Mei 2012
kira-kira sebulan sebelum rencana keberangkatan, aku sudah memesan tiket kereta api menuju Yogyakarta. ternyata sehari sebelum berangkat aku memutuskan untuk mengganti moda angkutan :D alasannya adalah Bus Pahala Kencana yang akan aku tumpangi ini akan melewati Magelang sebelum sampai di Yogyakarta, jadi hemat biaya dan waktu karena tujuan pertamaku adalah Borobudur. tarif Bus Pahala Kencana jurusan Bandung-Magelang-Yogyakarta adalah rp. 100.000,00. lebih mahal dibandingkan dengan tarif kereta api ekonomi, tetapi lebih murah dibandingkan dengan kereta api eksekutif. pertimbangan utamaku saat itu adalah kenyamanan, karena dalam bus ini aku bisa tidur dengan enak.
sore itu rintangan pertama menghadang... Bandung hujan deras! agak sulit untuk naik angkot dari rumahku di Tamansari menuju jalan Riau tanpa berbasah-basah air hujan repot aja kalo mo jalan jauh pake bus AC pula dengan pakaian lembab. setelah menunggu beberapa saat, akhirnya aku putuskan untuk memesan taksi saja. baru mo jalan udah mahal aja :D alhamdulillah aku bisa sampai di jalan Riau 146 dengan tepat waktu dan kering, beberapa menit sebelum jam 6 sore. dan 25 ribu rupiahku melayang ke kantong sopir taksi Blue Bird :D
ternyata bus berangkat sedikit telat, karena ada satu calon penumpang yang katanya masih di Cipaganti gile bener, jauh aja! dengan kondisi hujan dan kemacetan rutin di sore hari kota Bandung, bisa-bisa bus berangkat jam 7 malam nih. sambil mengisi waktu luang, aku mengajak ngobrol seorang calon penumpang lain. sesuatu banget! ternyata dia akan berhenti di sekitar Magelang, dan menyarankan agar aku tidak turun di terminal Magelang karena ada terminal lain yang lebih dekat ke Borobudur, namanya terminal Salaman. dia juga berjanji akan membantu mengingatkan aku bila kami sudah mendekati Salaman.
akhirnya bus berangkat sekitar jam 18:13, telat sedikit biasa :D serunya, ternyata teman di sebelahku adalah mahasiswa S2 psikologi UGM (bukan teman ngobrol di awal tadi). kegemaran dan kebencianku akan psikologi membuat percakapan kami lumayan seru :D sayangnya dia tidak akrab dengan Paul Ekman dan mikro-ekspresi, tapi ternyata dia sangat tertarik dengan bidang pendidikan. jadi kami banyak berbincang seputar pendidikan, khususnya aspek psikologis dalam dunia pendidikan. perbincangan yang menarik buatku.
sekitar jam sepuluh malam bus berhenti sebentar di Rumah Makan Sanggar Rasa di daerah Tasikmalaya. makan malam yang telat :D ini salah satu kelebihan bus eksekutif, layanan makan gratis. lumayan untuk menghemat biaya dan menggerak-gerakkan badan supaya tidak terlalu kaku. terus terang rasa masakannya biasa saja :D tapi lumayan juga untuk yang gratisan, lagian aku dah biasa makan ala kadarnya :D saat istirahat ini juga aku manfaatkan untuk mengingatkan kondektur soal tempat pemberhentian yang aku inginkan nanti.
pasca-makan malam kantuk tak terelakkan :D tapi aku bisa tidur dengan tenang tanpa khawatir melewatkan terminal Salaman karena aku sudah mengingatkan kondektur dan ada penumpang lain juga yang berjanji akan mengingatkan bila bus sudah mendekati Salaman. buat kamu yang bepergian sendirian ke tempat yang masih asing, menurutku penting sekali untuk paling tidak banyak bertanya kepada kondektur dan meminta untuk diingatkan atau dibangunkan bila sudah mendekati tujuan. lebih beruntung lagi bila ternyata ada penumpang lain yang juga turun di tempat yang sama.
16 Mei 2012
jam menunjukkan pukul 04:30 ketika aku turun di terminal Salaman. aku membayangkan terminal dan pasar yang ramai menjelang pagi atau paling tidak ada warung-warung yang menawarkan kopi dan makanan... ternyata tidak. ternyata Salaman adalah tempat yang sepi, meskipun berada di tepi jalan antar kota yang cukup ramai. alhamdulillah, sesuatu banget lagi. kebetulan aku tidak turun sendirian, karena penumpang yang (ternyata) duduk di belakangku (orang yang berbeda lagi dari dua orang sebelumnya di atas) adalah penduduk lokal yang baru pulang dari tugasnya di Bandung. sekali lagi aku mengeluarkan jurus sok-akrab :D
dari penuturannya, aku mendapatkan informasi bahwa aku harus menunggu sampai matahari cukup tinggi untuk mendapatkan angkutan umum yang melayani rute ke Borobudur. jarak dari Salaman ke Borobudur menurutnya cukup jauh ketika aku mengutarakan niat untuk berjalan kaki. percaya dengan ucapannya, aku urungkan niat untuk berjalan kaki dan menunggu sampai pagi tiba sambil mengobrol di depan warung yang belum buka. dia juga harus menunggu jemputan, karena masih terlalu pagi dia sungkan membangunkan salah satu anggota keluarganya dan memutuskan untuk menelfon ketika matahari sudah terbit.
obrolan ringan kami ternyata cukup berat :D karena dia bekerja di bidang listrik dan pembangkitan, kami jadi banyak berbincang seputar perlistrikan. banyak cerita menarik seputar benturan-benturan di lapangan dengan penduduk lokal dan hambatan-hambatan birokrasi yang dia alami. aku juga baru menyadari bahwa industri listrik ini banyak melibatkan komponen impor yang harganya sangat mahal. target penyelesaian juga sering terhambat karena keterlambatan masuknya komponen impor ini ke Indonesia. negara menerapkan penalti yang sangat tinggi bagi kontraktor yang gagal memenuhi target penyelesaian proyek.
tidak terasa jam di ponselku menunjukkan angka lewat beberapa menit dari angka enam. dia menawarkan tumpangan menuju Borobudur karena belum ada tanda-tanda akan adanya angkutan umum yang menuju kesana. sebuah tawaran yang mustahil aku tolak :D jadilah kami bertiga (ditambah adik laki-lakinya yang menjemput) berdesakan di atas sebuah sepeda motor menembus jalan kampung menuju Borobudur. meskipun kecil, jalan ini dilapisi aspal yang cukup bagus. pemandangan yang ditawarkan juga tidak mengecewakan, aktivitas pagi penduduk desa yang memulai hari dan hijaunya lanskap alam.
pukul 06:30 aku diturunkan di gerbang dusun Gendingan, aku berada di "belakang" komplek candi, Borobudur sudah dekat! aku masih harus berjalan kaki sedikit lagi, karena sepeda motor yang aku tumpangi harus berbelok ke arah yang berbeda. kira-kira 10 menit berjalan santai kemudian, aku sampai di depan gerbang komplek candi yang ternyata sudah cukup ramai lho! :D
aku gagal menikmati matahari terbit dari atas candi... tetapi aku tetap bersyukur karena mimpiku untuk ke Borobudur akhirnya terwujud :) dan jalanku ke sini banyak diberi kemudahan serta pengalaman yang menarik. kisah perjalananku belum selesai lho! :D lanjut di posting berikutnya...
ps: kayaknya kalo ke sini lagi dengan rute yang sama... turun dari bus aku mo jalan kaki aja langsung ke Borobudur. jauh sih, tapi kayaknya mending jalan daripada ngelamun gak jelas di emperan warung :D
Langganan:
Postingan (Atom)



