dalam pidatonya di Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan gagasannya mengenai Pancasila sebagai dasar negara. redaksional Pancasila kemudian dirumuskan kembali oleh sebuah tim kecil berjumlah sembilan orang yang dituangkan dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945. naskah Pancasila kembali berubah setelah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dibentuk pada 12 Agustus 1945. tahun 1958, perdebatan soal dasar negara kembali terjadi di Konstituante, dewan pembuat undang-undang hasil pemilu 1955. perdebatan berakhir dengan Dekrit Presiden Soekarno yang di antaranya berisi kembali ke UUD 1945, demokrasi terpimpin, dan pembubaran Konstituante. dengan kembali ke UUD 1945, otomatis Pancasila tetap menjaid Dasar negara.
aku gak hafal lho sejarah ini :D paragraf pertama itu aku nyontek dari harian Kompas, Senin, 4 Juni 2012. tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila. Selamat Ulang Tahun Pancasila! :) aku gak begitu mengerti kenapa terjadi begitu banyak polemik seputar naskah Pancasila, pun tidak terlalu peduli dengan upaya sadar Rezim Orde Baru untuk mengkultuskan Pancasila dan merubahnya menjadi senjata politik, pun tidak terlalu mengerti kenapa kemudian Pancasila seolah-olah dianggap sebagai "warisan" Orde Baru yang juga harus diberangus pasca reformasi Mei 1998. aku cuma mo berbagi sedikit kenangan seputar Penataran Pedoman Penghayatan Pancasila (mungkin yang) terakhir yang aku ikuti pada sekitar Agustus 1997 di sebuah kampus perguruan tinggi negeri di Bandung.
Penataran P4 buatku bukan hal yang luar biasa. kalo gak salah pada masa awal sekolah menengah pertama dan atas, aku juga pernah mengikuti kegiatan yang sama. meskipun aku gak inget detailnya, rasa-rasanya materi yang diberikan tidak begitu berbeda. perbedaan yang paling signifikan adalah pada awal kuliah aku harus presentasi sebuah makalah pada hari-hari terakhir penataran. di sini ceritanya :)
curhat dikit ya... mari kita bayangkan seorang pemuda labil yang sangat pemalu dan malu-maluin merantau untuk melajutkan pendidikan ke Bandung. aku gak becanda soal labil-pemalu-malu-maluin.
pengalamanku berbicara di depan publik sangat minim. selain itu dahulu aku memiliki kecenderungan untuk panik dan gagap (alhamdulillah sekarang sudah jauh mendingan :)). tahun 1997 kayaknya udah ada sih yang punya ponsel di kelas dan waktu itu masih jamannya Pager juga (sekarang dah punah). tapi kan belum ada ponsel pintar dengan perangkat pengambil gambar :D layanan sms aja belum lahir kayaknya (atau udah ya? aku lupa. kamera yang dipakai untuk mengambil foto masih menggunakan "film" dan untuk melihat hasilnya butuh proses "pencucian" baru kemudian "dicetak." untuk kelas mahasiswa, kayaknya waktu itu yang populer adalah kamera saku.
singkatnya... belum ada piranti merekam gambar yang cukup praktis untuk dipakai di dalam kelas saat itu untuk merekam kejadian memalukan presentasiku. tapi tidak cukup beruntung :D salah satu temen sekelompokku adalah mahasiswa FSRD (aku lupa jurusannya apa). ternyata, dia "merekam" hampir semua individu yang ada di dalam kelasku dalam sebuah sketsa. singkatnya, momen presentasiku dianggapnya sebagai momen yang tepat untuk diabadikan dalam gambar. sketsa sederhana yang dia buat bener-bener bisa "meangkap" suasana presentasiku dengan sangat detail. gambar tersebut masih aku simpan sampai saat ini dan rasa-rasanya belum bisa dibagi kepada siapapun :D
ada dua hal yang membuat presentasi pertamaku dalam dunia kuliahan ini gagal total. pertama adalah hambatan internal. hambatan internal ini paling tidak ada dua, makalah yang tidak bermutu dan kemampuaku yang buruk dalam hal berbicara-publik. hambatan internal ini sebenernya bisa diminimalisir dampaknya kalo temetemen sekelasku memberikan dukungan dan suasana yang kondusif.
hambatan yang kedua adalah hambatan eksternal. kebetulan banget, hari itu aku ulang tahun. aku sempet curhat beberapa hari sebelumnya ke salah seorang teman sekelompok, aku bilang kalo aku cukup sedih karena ini pertama kalinya aku tidak bisa merayakan ulang tahun bersama keluarga. ternyata dia membocorkannya ke seluruh teman sekelompok tanpa sepengetahuanku. jadilah mereka sepakat untuk ngerjain aku. hari itu sebenernya normal-normal aja, tapi mereka sepakat untuk melakukan aksi tutup mulut saat aku melakukan presentasi.
setelah membacakan secara singkat makalahku, dosen memberikan waktu untuk melakukan sesi tanya jawab kepada seluruh kelas. dan kelaspun sunyi senyap... bayangkan! karena tidak ada yang bertanya, pak dosen memberikan pertanyaan pertama, kedua, dan seterusnya sampai sesi presentasiku berkahir. aku gak inget berapa menit durasi sesi tersebut, kayaknya gak nyampe 30 menit meskipun rasanya kayak berjam-jam. tapi aku masih inget peluh yang mengucur di sekujur tubuh dan wajah, dasi hitam yang aku pakai rasanya menjerat kuat leher dan membuatku sulit bernafas. lutut goyang ngebor ala inul. perut berkecamuk laksana badai di laut. mulut kering. semua penderitaan duniawi yang bisa kamu bayangkan :D
pada akhir sesi presentasiku, aku masih gak ngerti lho dengan apa yang terjadi. setelah aku masih ada temen yang harus presentasi, dan anehnya suasana kelas kembali normal (artinya ada yang nanya dan diskusi cukup berjalan). setelah kelas ditutup dan dosen keluar, barulah seisi kelas mengucapkan selamat ulang tahun dan temenku menjelaskan apa yang terjadi selama aku presentasi tadi :D hadiah lain buatku adalah dua lembar kertas yang berisi ucapan selamat ulang tahun dari semua teman yang hadir pada hari itu.
setelah itu kayaknya masih ada beberapa kejutan kecil yang disiapkan oleh teman-temanku, tapi terus terang aku rada lupa :D yang paling terkesan buatku adalah suasana kelas yang mendadak sunyi ketika aku berdiri di atas podium dan mempresentasikan makalahku. ironisnya, karena dua tahun kemudian aku pindah kuliah ke kampus kain, saat ini tidak ada satupun dari mereka yang aku punya nomor kontaknya. masa-masa galau nan labil tahap dua yang aku alami kemudian di kampus baru turut memperburuk kondisi ini. pada jaman Frienster, kalo gak salah ada beberapa teman yang terhubung kembali meskipun cuma di dunia maya, tapi aku bukan tipikal yang rajin merawat akun FS-ku, sampai tiba eranya FB "membunuh" FS dan aku ampe lupa kalo aku punya akun FS dan lupa kata sandinya :D ...
sedih... sedikit. mungkin karena interaksi kami yang sangat singkat, aku tidak begitu kehilangan mereka. awal-awal kuliah, di kampus kami masih sering ketemu dan bertegur-sapa. kepribadianku yang cenderung tertutup membuatku menjadi lebih dekat ke dalam lingkaran pertemanan satu jurusan satu angkatan. meskipun demikian, aku tidak akan melupakan "pesta ulang tahun kejutan" yang pertama aku alami di Bandung dan Penataran P4 yang terakhir di era Orde Baru :)
ps: kalo saat itu udah ada yang punya ponsel pintar berkamera, mungkin ceritanya akan menjadi lebih dramatis. apalagi kalo udah ada FB :D tapi ya sudahlah... kalo emang takdir, suatu saat mungkin kami semua diberi kesempatan untuk bertemu lagi.
ini akan menjadi kumpulan tanpa aturan, diambil dari banyak kertas, yang telah kukutip di sini, dengan harapan aku akan mengaturnya kemudian menurut pokok-pokok yang kubahas; dan aku yakin aku pasti mengulang pokok yang sama beberapa kali; untuk ini, oh pembaca, jangan salahkan aku... (Leonardo)
06 Juni 2012
05 Juni 2012
Seth Godin: small is the new big
ini judul buku yang baru saja aku selesaikan membacanya. small is the new big karya Seth Godin. edisi asli buku ini dirilis pada tahun 2006, sedangkan edisi bahasa Indonesia (yang aku baca) dirilis pertama kali pada tahun 2008 oleh penerbit PT Elex Media Komputindo. buku ini berisi kumpulan tulisan Godin yang dituangkannya dalam blog post-nya, kolom majalah, dan e-book-nya.
cukup singkat waktu yang aku butuhkan untuk membaca buku yang cukup tebal tapi ringan ini. ada hampir 400 halaman yang harus kita lewati, tetapi bahasa yang digunakan sangat ramah pembaca, bahkan untuk kalangan awam sepertiku.
komentar pertamaku adalah om Godin sukses menyalakan percikan-percikan api di pikiranku :) yang mudah-mudahan aja bisa segera menyalakan api :D. meskipun untuk era-WWW saat ini ide-ide dan pemikiran berkembang sangat cepat, untuk sebuah buku yang terbit tahun 2006 (yang isinya tentu saja ditulis sebelum itu) tulisan-tulisan dalam buku ini masih lumayan relevan pada tahun 2012, paling enggak buatku :D. buat kamu yang biasa baca di monitor bisa klik www.sethgodin.com/smallisthenewbig, kalo yang matanya kampungan kayak aku :D beli aja bukunya di Gramedia murah kok.
sedikit berbagi nih... Godin membagi blog menjadi tiga jenis:
Cat Blog adalah blog untuk, oleh, dan tentang orang yang menulis blog itu.
Boss Blog adalah blog yang digunakan untuk mengomunikasikan kepada sekelompok orang yang sudah ditentukan.
Viral Blog adalah blog yang bertujuan menyebarkan ide.
... dan aku tahu dimana letak Bianglala Hayat dalam klasifikasi ini, Cat Blog saja :D Godin mengatakan bahwa memiliki blog kucing, kita harus bisa menerima kenyataan dan berhenti bertanya soal lalu lintas pembaca. ok deh om! :) tapi aku gak setuju kalo Godin mengatakan bahwa buku ini bukan untuk pemilik blog kucing. aku rasa semua pemilik blog pastilah bermimpi bahwa suatu saat blognya akan bertransformasi menjadi Viral Blog, ya paling tidak sebagian pemilik blog yang aku kenal :D
salah satu pesan yang paling menarik buatku adalah "cerita yang nyata dan asli akan tersebar dan bertahan, sedangkan kebohongan akan terungkap dengan segera." klise sih sebenernya :D tapi kalo kita amati, masih ada aja orang yang memuat "kebohongan" dalam konten situs atau pesannya, hanya untuk mencari sensasi dan kepopuleran instan. orang-orang seperti ini meyepelekan kecerdasan pengguna net saat ini (meskipun masih banyak juga pengguna net bodoh yang misalnya meng-klik judul berita murahan dan yang lebih bodohnya lagi merekomendasikan tautan tersebut di akun media sosialnya).
Godin juga menyoroti anonimitas dalam dunia internet yang memiliki banyak potensi bahaya. orang-orang cenderung bertindak suka-suka, tidak bertanggung jawab, dalam dunia yang anonim. anonimitas menyebankan banyak penipuan terjadi, spam, desas-desus menyesatkan dan tentu saja mengganggu. sederhananya, orang-orang yang kita kenal cenderung bersikap lebih sopan. misalnya, kita pasti akan lebih menjaga sikap ketika kita menghadiri pertemuan atau pesta pernikahan yang dihadiri oleh banyak tamu yang kita kenal.
masih banyak lagi percikan-percikan kembang api yang dapat menyulut api ide yang menyala lebih terang dalam buku ini. tidak harus setuju sepenuhnya dengan ide om Godin lho, tapi paling tidak bisa menginspirasi satu blog post buat aku :D... sebaiknya baca sendiri aja ya! bukunya murah dan blognya gratis :D
cukup singkat waktu yang aku butuhkan untuk membaca buku yang cukup tebal tapi ringan ini. ada hampir 400 halaman yang harus kita lewati, tetapi bahasa yang digunakan sangat ramah pembaca, bahkan untuk kalangan awam sepertiku.
komentar pertamaku adalah om Godin sukses menyalakan percikan-percikan api di pikiranku :) yang mudah-mudahan aja bisa segera menyalakan api :D. meskipun untuk era-WWW saat ini ide-ide dan pemikiran berkembang sangat cepat, untuk sebuah buku yang terbit tahun 2006 (yang isinya tentu saja ditulis sebelum itu) tulisan-tulisan dalam buku ini masih lumayan relevan pada tahun 2012, paling enggak buatku :D. buat kamu yang biasa baca di monitor bisa klik www.sethgodin.com/smallisthenewbig, kalo yang matanya kampungan kayak aku :D beli aja bukunya di Gramedia murah kok.
sedikit berbagi nih... Godin membagi blog menjadi tiga jenis:
Cat Blog adalah blog untuk, oleh, dan tentang orang yang menulis blog itu.
Boss Blog adalah blog yang digunakan untuk mengomunikasikan kepada sekelompok orang yang sudah ditentukan.
Viral Blog adalah blog yang bertujuan menyebarkan ide.
... dan aku tahu dimana letak Bianglala Hayat dalam klasifikasi ini, Cat Blog saja :D Godin mengatakan bahwa memiliki blog kucing, kita harus bisa menerima kenyataan dan berhenti bertanya soal lalu lintas pembaca. ok deh om! :) tapi aku gak setuju kalo Godin mengatakan bahwa buku ini bukan untuk pemilik blog kucing. aku rasa semua pemilik blog pastilah bermimpi bahwa suatu saat blognya akan bertransformasi menjadi Viral Blog, ya paling tidak sebagian pemilik blog yang aku kenal :D
salah satu pesan yang paling menarik buatku adalah "cerita yang nyata dan asli akan tersebar dan bertahan, sedangkan kebohongan akan terungkap dengan segera." klise sih sebenernya :D tapi kalo kita amati, masih ada aja orang yang memuat "kebohongan" dalam konten situs atau pesannya, hanya untuk mencari sensasi dan kepopuleran instan. orang-orang seperti ini meyepelekan kecerdasan pengguna net saat ini (meskipun masih banyak juga pengguna net bodoh yang misalnya meng-klik judul berita murahan dan yang lebih bodohnya lagi merekomendasikan tautan tersebut di akun media sosialnya).
Godin juga menyoroti anonimitas dalam dunia internet yang memiliki banyak potensi bahaya. orang-orang cenderung bertindak suka-suka, tidak bertanggung jawab, dalam dunia yang anonim. anonimitas menyebankan banyak penipuan terjadi, spam, desas-desus menyesatkan dan tentu saja mengganggu. sederhananya, orang-orang yang kita kenal cenderung bersikap lebih sopan. misalnya, kita pasti akan lebih menjaga sikap ketika kita menghadiri pertemuan atau pesta pernikahan yang dihadiri oleh banyak tamu yang kita kenal.
masih banyak lagi percikan-percikan kembang api yang dapat menyulut api ide yang menyala lebih terang dalam buku ini. tidak harus setuju sepenuhnya dengan ide om Godin lho, tapi paling tidak bisa menginspirasi satu blog post buat aku :D... sebaiknya baca sendiri aja ya! bukunya murah dan blognya gratis :D
03 Juni 2012
kenapa? karena...
"because it's there!" begitu George Mallory menjawab pertanyaan "why climb Everest?" dari seorang wartawan. Mallory mendaki Everest bersama Sandy Irvine pada tahun 1924, ini adalah kali ketiga usahanya menuju puncak Everest. Mereka terakhir terlihat sekitar 800 kaki dari puncak dan kemudian mereka hilang. tujuh puluh lima tahun kemudian pencarian jasad Mallory dan Irvine dilakukan, dan nasib mempertemukan jasad Mallory yang masih utuh dengan Conrad Anker, sayangnya jasad Sandy Irvine masih tetap belum ditemukan. (ini kutipan bebas dari blog temanku yang me-review film dokumenter berjudul Wildest Dream, baca lengkapnya di Pensieve)
aku pernah membaca jawaban serupa (tapi tak sama) dalam sebuah kisah Zen. begini kisahnya: ada seorang bhiksu tua yang sedang menjemur sayuran di bawah terik matahari. salah seorang bhiksu yang lebih muda bertanya, "Berapa usia Guru?"
"Enam puluh delapan tahun," jawab bhiksu tua dengan singkat.
"Mengapa Guru mesti kerja keras di sini?"
"Karena saya di sini," tukas sang bhiksu tua.
"Tetapi Guru kan tak perlu bekerja di bawah terik mentari?"
"Karena matahari di sana," sahut sang bhiksu tua.
(cerita ini aku baca pertama kali dalam buku tentang Zen dalam format kartun berjudul "Zen: Membebaskan Pikiran" suntingan Tsai Chih Chung dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Koh Kok Kiang. penerbit Karaniya. aku juga pernah membaca kisah ini dalam literatur Zen yang lain, meskipun detail ceritanya sedikit berbeda)
koan (dalam bahasa Jepang) atau gong-an (dalam bahasa Cina) merupakan sebuah cerita tentang Zen yang secara tersembunyi memancarkan suatu kebenaran kosmik, biasanya mencatat pencerahan seorang guru, dan selalu dihubungkan dengan situasi yang sepertinya tidak logis. meditasi dan koan merupakan dua teknik yang umum dipakai dalam pembinaan Zen untuk mencapai pencerahan. dalam aliran Cao Dong atau Soto Zen, meditasi merupakan alat utama pembinaan sementara aliran Lin Ji atau Rinzai Zen berfokus pada koan. tapi ini tidak berarti yang satu meniadakan yang lain, hanya perbedaan prioritas penggunaan teknik. (aku kutip secara bebas dari "Jalan Pencerahan Zen" karya Alan W. Watts terbitan Jalasutra dan "The Complete Book of Zen" karya Wong Kiew Kit terbitan Elex Media Komputindo, buku-buku yang memuat koan sendiri sudah banyak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, aku paling suka dengan koan versi kartun :D)
sebagai orang awam yang tidak mendalami Zen, sebenarnya aku gak punya otoritas untuk membandingkan jawaban Mallory dengan koan. hanya saja, koan itulah yang terlintas dalam pikiranku ketika aku membaca jawaban Mallory dalam blog Pensieve temanku ini. sulit untuk dijelaskan, tetapi aku merasakan sensasi yang sama. menafsirkan koan gampang-gampang susah. gampang karena koan emang sederhana (apalagi jaman sekarang ada banyak buku yang memuat koan beserta penjelasannya). tetapi juga sulit, karena mengetahui tafsiran (apalagi nyontek dari orang lain atau buku) tidak berarti memahami. memahami juga tidak selalu berarti kita sudah mencapai pencerahan (sebagai tujuan koan). memahami koan membutuhkan upaya dan komitmen yang tinggi, tafsiran yang kita peroleh sangat tergantung dengan tingkat pemahaman kita. waduh bahasanya kok jadi kayak tautologi gini ya :D maklum...
jadi kamu tafsirkan sendiri ya koan dan jawaban Mallory tersebut di atas... kalo tafsiran kita berbeda ya gak jadi masalah. yang penting bukan jawaban akhirnya, tetapi proses yang kita tempuh dalam mempelajari dan memikirkan jawaban tersebut :)
nah kali ini aku mo cerita dikit sebelum aku klik "publish" :D
dalam perjalanan terakhirku kemarin, aku ketemu dengan beberapa teman baru. hampir semua kenalan baru ini selalu bertanya "kenapa?" yang berhubungan dengan destinasi yang aku tuju. kenapa pergi sendirian? kenapa Borobudur/Prambanan? kenapa Jogja/Malang? ...lidahku gatel pengen jawab "because it's there!" kayak jawaban Mallory atau "karena itu di sana!" :D tapi kok kayaknya gaya banget ya? :D aku juga gak yakin mereka semua bisa dan mau mengerti apa yang aku maksud. jangan-jangan aku malah dicap sombong karena memberikan jawaban yang kurang jelas. atau malah dicap gila. gawat kan, padahal bukan itu niatku. karena emang sulit buatku untuk memanifestasikan motivasi perjalananku dalam rangkaian kata-kata yang singkat dan sederhana. pertanyaan kayak gini biasanya aku jawab dengan curhat yang panjang (dan mungkin membosankan) yang kemudian menghasilkan pertanyaan berikutnya yang memiliki relevansi rendah atau malah gak relevan dengan pertanyaan sebelumnya :D (yang pasti motivasiku bukan narsis, seperti yang bisa kamu baca di artikel ini "Narsis = Motivasi Traveling" :D meskipun aku akui aku sangat suka difoto dengan bagus, dalam Bianglala Hayat bisa kamu hitung sendiri ada berapa banyak foto yang menampilkan penulis).
oke balik lagi ke koan tadi... jawaban koan yang tepat akan membawa kita semakin dekat menuju pencerahan, sementara kebingungan akan membawa kita ke arah sebaliknya :) tapi jawaban koan yang tepat tidak hanya ada satu. bahkan, mungkin buat mereka yang tidak percaya dengan agama timur akan lebih memilih untuk tidak memerdulikan koan tersebut :D
malam semakin larut (sekarang jam 2:30) padahal aku harus latihan jam 9 pagi ... menulis emang menyenangkan, sesuatu banget! :)
oyasumi...
aku pernah membaca jawaban serupa (tapi tak sama) dalam sebuah kisah Zen. begini kisahnya: ada seorang bhiksu tua yang sedang menjemur sayuran di bawah terik matahari. salah seorang bhiksu yang lebih muda bertanya, "Berapa usia Guru?"
"Enam puluh delapan tahun," jawab bhiksu tua dengan singkat.
"Mengapa Guru mesti kerja keras di sini?"
"Karena saya di sini," tukas sang bhiksu tua.
"Tetapi Guru kan tak perlu bekerja di bawah terik mentari?"
"Karena matahari di sana," sahut sang bhiksu tua.
(cerita ini aku baca pertama kali dalam buku tentang Zen dalam format kartun berjudul "Zen: Membebaskan Pikiran" suntingan Tsai Chih Chung dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Koh Kok Kiang. penerbit Karaniya. aku juga pernah membaca kisah ini dalam literatur Zen yang lain, meskipun detail ceritanya sedikit berbeda)
koan (dalam bahasa Jepang) atau gong-an (dalam bahasa Cina) merupakan sebuah cerita tentang Zen yang secara tersembunyi memancarkan suatu kebenaran kosmik, biasanya mencatat pencerahan seorang guru, dan selalu dihubungkan dengan situasi yang sepertinya tidak logis. meditasi dan koan merupakan dua teknik yang umum dipakai dalam pembinaan Zen untuk mencapai pencerahan. dalam aliran Cao Dong atau Soto Zen, meditasi merupakan alat utama pembinaan sementara aliran Lin Ji atau Rinzai Zen berfokus pada koan. tapi ini tidak berarti yang satu meniadakan yang lain, hanya perbedaan prioritas penggunaan teknik. (aku kutip secara bebas dari "Jalan Pencerahan Zen" karya Alan W. Watts terbitan Jalasutra dan "The Complete Book of Zen" karya Wong Kiew Kit terbitan Elex Media Komputindo, buku-buku yang memuat koan sendiri sudah banyak yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, aku paling suka dengan koan versi kartun :D)
sebagai orang awam yang tidak mendalami Zen, sebenarnya aku gak punya otoritas untuk membandingkan jawaban Mallory dengan koan. hanya saja, koan itulah yang terlintas dalam pikiranku ketika aku membaca jawaban Mallory dalam blog Pensieve temanku ini. sulit untuk dijelaskan, tetapi aku merasakan sensasi yang sama. menafsirkan koan gampang-gampang susah. gampang karena koan emang sederhana (apalagi jaman sekarang ada banyak buku yang memuat koan beserta penjelasannya). tetapi juga sulit, karena mengetahui tafsiran (apalagi nyontek dari orang lain atau buku) tidak berarti memahami. memahami juga tidak selalu berarti kita sudah mencapai pencerahan (sebagai tujuan koan). memahami koan membutuhkan upaya dan komitmen yang tinggi, tafsiran yang kita peroleh sangat tergantung dengan tingkat pemahaman kita. waduh bahasanya kok jadi kayak tautologi gini ya :D maklum...
jadi kamu tafsirkan sendiri ya koan dan jawaban Mallory tersebut di atas... kalo tafsiran kita berbeda ya gak jadi masalah. yang penting bukan jawaban akhirnya, tetapi proses yang kita tempuh dalam mempelajari dan memikirkan jawaban tersebut :)
nah kali ini aku mo cerita dikit sebelum aku klik "publish" :D
dalam perjalanan terakhirku kemarin, aku ketemu dengan beberapa teman baru. hampir semua kenalan baru ini selalu bertanya "kenapa?" yang berhubungan dengan destinasi yang aku tuju. kenapa pergi sendirian? kenapa Borobudur/Prambanan? kenapa Jogja/Malang? ...lidahku gatel pengen jawab "because it's there!" kayak jawaban Mallory atau "karena itu di sana!" :D tapi kok kayaknya gaya banget ya? :D aku juga gak yakin mereka semua bisa dan mau mengerti apa yang aku maksud. jangan-jangan aku malah dicap sombong karena memberikan jawaban yang kurang jelas. atau malah dicap gila. gawat kan, padahal bukan itu niatku. karena emang sulit buatku untuk memanifestasikan motivasi perjalananku dalam rangkaian kata-kata yang singkat dan sederhana. pertanyaan kayak gini biasanya aku jawab dengan curhat yang panjang (dan mungkin membosankan) yang kemudian menghasilkan pertanyaan berikutnya yang memiliki relevansi rendah atau malah gak relevan dengan pertanyaan sebelumnya :D (yang pasti motivasiku bukan narsis, seperti yang bisa kamu baca di artikel ini "Narsis = Motivasi Traveling" :D meskipun aku akui aku sangat suka difoto dengan bagus, dalam Bianglala Hayat bisa kamu hitung sendiri ada berapa banyak foto yang menampilkan penulis).
oke balik lagi ke koan tadi... jawaban koan yang tepat akan membawa kita semakin dekat menuju pencerahan, sementara kebingungan akan membawa kita ke arah sebaliknya :) tapi jawaban koan yang tepat tidak hanya ada satu. bahkan, mungkin buat mereka yang tidak percaya dengan agama timur akan lebih memilih untuk tidak memerdulikan koan tersebut :D
malam semakin larut (sekarang jam 2:30) padahal aku harus latihan jam 9 pagi ... menulis emang menyenangkan, sesuatu banget! :)
oyasumi...
02 Juni 2012
wisata kuliner (khas?) Malang
Malang tuh menurutku mirip banget dengan Bandung, tapi minus macet :D pasti ada juga macet di Malang, tapi kayaknya gak separah Bandung. Malang juga dahulu merupakan tempat peristirahatan bagi para pejabat Belanda dengan berbagai fasilitas hiburan seperti restoran, pacuan kuda, hotel, rumah-rumah bertipe vila seperti yang terlihat di sekitar Jalan Raya Ijen.
soal kuliner, menurutku ada miripnya juga dikit... sama-sama banyak pilihan. tapi, orang Bandung menurutku tetap yang paling kreatif :) di Bandung ada lebih banyak kuliner yang bisa kita bilang sebagai "khas Bandung." orang Bandung juga kreatif banget dalam merevitalisasi kuliner tradisional menjadi modern bahkan berani melakukan "fusi-kuliner" (istilahku :D) sampai ke tingkat yang ekstrim.
nah kalo kuliner di Malang menurutku agak lucu :) tapi aku gak bermaksud merendahkan lho! malah ini merupakan usaha yang bagus untuk lebih menggalakkan usaha kuliner kecil dan menengah, yang ujung-ujungnya memberikan insentif positif terhadap perekonomian lokal.
sebelumnya aku mo bilang kalo aku bukan ahli kuliner, aku juga kurang memahami sejarah kuliner Indonesia secara umum, apalagi sejarah kuliner Malang. jadi maafkan kalo ada fakta yang aku salah tafsir. tulisan ini cuma berdasarkan nalar-perut-lidah-ku saja :D aku cuma laki-laki penggemar berat makan yang sederhana :)
yang menarik dari kuliner Malang adalah aku cukup banyak melihat jajanan yang khas kota/daerah lain kemudian ditambahin embel-embel baru "khas Malang" :) sebenarnya ini gak cuma terjadi di Malang, Lampung juga punya kecenderungan yang sama. kalo di Lampung alasannya adalah akulturasi dan sinkretisme budaya yang dimanifestasikan dalam bentuk makanan, mungkin di Malang sedikit banyak ada alasan yang sama. mungkin juga cuma alasan ekonomi :) apapun itu, sekali lagi, menurutku ini sah-sah aja. ini masih jauh lebih baik daripada klaim negara jiran yang ngaku-ngaku punya Batik, Wayang, bahkan juga Reog.
ok... ini beberapa kuliner khas Malang yang menurutku menarik :)
salah satu rekomendasi kuliner "khas" Malang adalah Siomay Bandung, ada satu yang menarik Siomay Bandung Bu Tumi di Jalan Basuki Rachmad, yang menjual Siomay, Batagor, dan ... Pempek Palembang. :D sebagai warga negara Indonesia yang lama tinggal di Prabumulih (dekat dengan budaya Palembang) dan Bandung, tempat makan ini sangat menggelitik menurutku :)
berikutnya adalah Empek-Empek Palembang khas Malang Jalan Trunojoyo (deket stasiun nih) ...gak usah pake komentar lagi ya :D
Serabi Imut Bandung - Pak Hariyanto, Jalan H.O.S Cokroaminoto depan Pasar Klojen (juga cukup dekat dari stasiun). sama kayak di Bandung, ini juga keliatannya jadi tempat nongkrong gawul di sekitar situ :) konon, pak Hariyanto ini pernah bekerja dan tinggal di Bandung, jadi pas pulang ke Malang dia tertarik untuk mengembangkan jenis usaha makanan serupa.
terakhir nih kuliner impor :D Bakpao Chik Yen... uniknya kuliner ini adalah waralaba-gerobak, aku sih gak tau "asli"-nya di Surabaya dijual kayak gimana :D tapi kalo di Malang (sama kayak di Bandung) yang jualan bakpao merek ini kemasannya sangat merakyat, gerobak dorong di pinggir jalan. harganya juga gak mahal dengan rasa yang enak :). kalo di Malang ada tuh gerobak Bakpao Chik Yen yang mangkal di dekat Stadion Gajayan.
sebagai salah satu kota favorit untuk beristirahat bagi orang Belanda jaman dulu, tentu saja kuliner asing bukan sesuatu yang terlalu asing bagi Malang. yang paling terkenal adalah Toko "Oen" yang sangat lekat dengan sejarah Kota Malang (sejak tahun 1930). konon dahulu ada lima Toko "Oen" yang tersebar di lima kota, sesuai urutan lahir: Yogyakarta, Batavia (Jakarta), Malang, Semarang, dan Den Haag (betul Den Haag yang di Belanda :)). keren banget ya! meskipun yang masih bertahan hidup sampai saat ini cuma yang di Semarang dan Malang.
Toko "Oen" terletak di Jalan Basuki Rachmad, tepat di seberang Gereja Kayu Tangan (salah satu gereja tertua di Malang). tampak depan toko ini sangat sederhana apalagi kalo dibandingkan dengan kemegahan gereja di depannya, dengan model rumah kuno gaya kolonial (standar bangunan toko jaman dulu deh). kita akan menemukan spanduk yang bertuliskan "Welkom in Malang, Toko Oen die sinds 1930 aan de gasten gezelligheid geeft" yang menurut almarhumah nenekku (yang jago Bahasa Belanda dan Jepang :D) artinya adalah "Selamat datang di Malang, Toko Oen berdiri sejak tahun 1930 melayani para tamu."
meskipun judulnya "toko" tempat ini gak cuma menjual produk makanan tapi juga melayani makan di tempat seperti "restoran." nah jenis makanan yang dijual sangat beragam. beragam makanan khas Eropa (khususnya Belanda), makanan oriental (dari nama tokonya jelas kan :)), dan tidak ketinggalan makanan Indonesia. tapi toko ini sangat terkenal dengan es krimnya (sesuai dengan tulisan kecil-kecil di bawah nama Toko "Oen" adalah "restaurant ice cream palace patissier"). soal harga... tebakan kamu gak salah :D harga di sini menurutku cukup premium, gak mahal-mahal banget, tapi cukup mahal untuk membuat pelancong kere kayak aku cuma bisa memandang dengan perasaan iri-dengki (karena gak mampu beli) dari seberang jalan sembari gigit jari dan meneteskan (lebih tepatnya mengalirkan) air liur :D lebay!!! :D
oke... sebelum posting ini terjerumus lebih jauh menjadi curahan hati... makanan yang bener-bener khas dan unik dari Malang, menurutku lho, meskipun gak bisa juga dibilang tradisional, tapi semi-modern, adalah keripik buah. awalnya keripik yang populer adalah keripik tempe, wajar aja kan mengingat kepopuleran tempe yang melegenda di negara kita :) (di Bandung juga banyak yang jual keripik tempe). keripik buah juga jamak terdapat di kota-kota lain, biasanya nangka atau pisang. nah ini daftar buah (dan sayuran dan makanan lain) yang bisa disulap menjadi keripik yang aku temui di Malang (mungkin daftarnya lebih panjang karena aku belum keliling jauh). daftar ini tidak disusun berdasarkan urutan lahir, harga atau kepopuleran, cuma daftar aja :D mungkin tepatnya daftar keripik yang dijual.
tempe (tentu saja) ... talas... tahu... singkong... ketela ungu... sukun... pisang... nangka... kentang... bayam... gadung... terong... ikan... kulit ikan... paru sapi... usus ayam... (siap-siap, siap-siap, siap-siap! :D) apel... strawberry... buah naga... jeruk mandarin... melon... mangga... semangka... durian (paling mahal!)... nenas... rambutan... salak... kelengkeng... blewah... pepaya... wortel...kelapa.
gimana tuh ajaib gak? :D buat aku sih ini cukup ajaib :D soal rasa aku gak bisa komentar banyak... karena alasan kesehatan, aku mengurangi makan-makanan yang digoreng dan alasan kesahatan finansial (yang ini utamanya :D)... maka aku cuma sempat membeli keripik apel, melon, dan semangka. menurutku semuanya enak! (apa sih makanan yang gak enak buat aku :D) jadi meskipun sudah berubah wujud menjadi lebih tipis dan kering (padahal awalnya mereka adalah buah-buahan banyak air), rasa buah yang asli berhasil diperangkap dengan baik. mudah-mudahan juga khasiat dan manfaat buah-buahan tersebut tidak banyak hilang :) yang pasti adalah jenis makanan ini lebih tahan lama untuk disimpan dan lebih ringan untuk dibawa sebagai oleh-oleh.
kalo mo beli keripik buah... banyak dijual di pusat oleh-oleh, karena aku jalan gak jauh-jauh dari Stasiun, sekitar situ ada juga satu toko kecil yang jual pelbagai oleh-oleh khas Malang termasuk keripik buah. tapi kalo dari hasil penyelidikan daring menunjukkan ada banyak pusat oleh-oleh tersebar di Kota Malang, termasuk di daerah Batu. soal harga kayaknya semua tempat sama deh, beda-beda dikit dan gak bakal ketipu :D
sebenernya ada jauh lebih banyak varian kuliner yang disediakan di Kota Malang :) siapin aja dompet yang penuh dan perut yang kosong kalo mo nyobain semuanya :D dan waktu yang luang tentunya :)
sekian dulu deh ocehan galau jelang makan siang hari ini... mudah-mudahan bisa jadi inspirasi buat kamu yang berencana untuk berkunjung ke Malang.
selamat mencoba!
selamat makan siang! :)
soal kuliner, menurutku ada miripnya juga dikit... sama-sama banyak pilihan. tapi, orang Bandung menurutku tetap yang paling kreatif :) di Bandung ada lebih banyak kuliner yang bisa kita bilang sebagai "khas Bandung." orang Bandung juga kreatif banget dalam merevitalisasi kuliner tradisional menjadi modern bahkan berani melakukan "fusi-kuliner" (istilahku :D) sampai ke tingkat yang ekstrim.
nah kalo kuliner di Malang menurutku agak lucu :) tapi aku gak bermaksud merendahkan lho! malah ini merupakan usaha yang bagus untuk lebih menggalakkan usaha kuliner kecil dan menengah, yang ujung-ujungnya memberikan insentif positif terhadap perekonomian lokal.
sebelumnya aku mo bilang kalo aku bukan ahli kuliner, aku juga kurang memahami sejarah kuliner Indonesia secara umum, apalagi sejarah kuliner Malang. jadi maafkan kalo ada fakta yang aku salah tafsir. tulisan ini cuma berdasarkan nalar-perut-lidah-ku saja :D aku cuma laki-laki penggemar berat makan yang sederhana :)
yang menarik dari kuliner Malang adalah aku cukup banyak melihat jajanan yang khas kota/daerah lain kemudian ditambahin embel-embel baru "khas Malang" :) sebenarnya ini gak cuma terjadi di Malang, Lampung juga punya kecenderungan yang sama. kalo di Lampung alasannya adalah akulturasi dan sinkretisme budaya yang dimanifestasikan dalam bentuk makanan, mungkin di Malang sedikit banyak ada alasan yang sama. mungkin juga cuma alasan ekonomi :) apapun itu, sekali lagi, menurutku ini sah-sah aja. ini masih jauh lebih baik daripada klaim negara jiran yang ngaku-ngaku punya Batik, Wayang, bahkan juga Reog.
ok... ini beberapa kuliner khas Malang yang menurutku menarik :)
salah satu rekomendasi kuliner "khas" Malang adalah Siomay Bandung, ada satu yang menarik Siomay Bandung Bu Tumi di Jalan Basuki Rachmad, yang menjual Siomay, Batagor, dan ... Pempek Palembang. :D sebagai warga negara Indonesia yang lama tinggal di Prabumulih (dekat dengan budaya Palembang) dan Bandung, tempat makan ini sangat menggelitik menurutku :)
berikutnya adalah Empek-Empek Palembang khas Malang Jalan Trunojoyo (deket stasiun nih) ...gak usah pake komentar lagi ya :D
Serabi Imut Bandung - Pak Hariyanto, Jalan H.O.S Cokroaminoto depan Pasar Klojen (juga cukup dekat dari stasiun). sama kayak di Bandung, ini juga keliatannya jadi tempat nongkrong gawul di sekitar situ :) konon, pak Hariyanto ini pernah bekerja dan tinggal di Bandung, jadi pas pulang ke Malang dia tertarik untuk mengembangkan jenis usaha makanan serupa.
terakhir nih kuliner impor :D Bakpao Chik Yen... uniknya kuliner ini adalah waralaba-gerobak, aku sih gak tau "asli"-nya di Surabaya dijual kayak gimana :D tapi kalo di Malang (sama kayak di Bandung) yang jualan bakpao merek ini kemasannya sangat merakyat, gerobak dorong di pinggir jalan. harganya juga gak mahal dengan rasa yang enak :). kalo di Malang ada tuh gerobak Bakpao Chik Yen yang mangkal di dekat Stadion Gajayan.
sebagai salah satu kota favorit untuk beristirahat bagi orang Belanda jaman dulu, tentu saja kuliner asing bukan sesuatu yang terlalu asing bagi Malang. yang paling terkenal adalah Toko "Oen" yang sangat lekat dengan sejarah Kota Malang (sejak tahun 1930). konon dahulu ada lima Toko "Oen" yang tersebar di lima kota, sesuai urutan lahir: Yogyakarta, Batavia (Jakarta), Malang, Semarang, dan Den Haag (betul Den Haag yang di Belanda :)). keren banget ya! meskipun yang masih bertahan hidup sampai saat ini cuma yang di Semarang dan Malang.
Toko "Oen" terletak di Jalan Basuki Rachmad, tepat di seberang Gereja Kayu Tangan (salah satu gereja tertua di Malang). tampak depan toko ini sangat sederhana apalagi kalo dibandingkan dengan kemegahan gereja di depannya, dengan model rumah kuno gaya kolonial (standar bangunan toko jaman dulu deh). kita akan menemukan spanduk yang bertuliskan "Welkom in Malang, Toko Oen die sinds 1930 aan de gasten gezelligheid geeft" yang menurut almarhumah nenekku (yang jago Bahasa Belanda dan Jepang :D) artinya adalah "Selamat datang di Malang, Toko Oen berdiri sejak tahun 1930 melayani para tamu."
meskipun judulnya "toko" tempat ini gak cuma menjual produk makanan tapi juga melayani makan di tempat seperti "restoran." nah jenis makanan yang dijual sangat beragam. beragam makanan khas Eropa (khususnya Belanda), makanan oriental (dari nama tokonya jelas kan :)), dan tidak ketinggalan makanan Indonesia. tapi toko ini sangat terkenal dengan es krimnya (sesuai dengan tulisan kecil-kecil di bawah nama Toko "Oen" adalah "restaurant ice cream palace patissier"). soal harga... tebakan kamu gak salah :D harga di sini menurutku cukup premium, gak mahal-mahal banget, tapi cukup mahal untuk membuat pelancong kere kayak aku cuma bisa memandang dengan perasaan iri-dengki (karena gak mampu beli) dari seberang jalan sembari gigit jari dan meneteskan (lebih tepatnya mengalirkan) air liur :D lebay!!! :D
tapi aku berjanji
dalam hati
suatu hari...
aku akan menikmati
panggang roti
dan minum kopi
di sini
bersama kekasih hati...
Toko "Oen" ...aku pasti
akan kembali!
(syair galau pelancong yang sakit hati... Mei 2012) :Doke... sebelum posting ini terjerumus lebih jauh menjadi curahan hati... makanan yang bener-bener khas dan unik dari Malang, menurutku lho, meskipun gak bisa juga dibilang tradisional, tapi semi-modern, adalah keripik buah. awalnya keripik yang populer adalah keripik tempe, wajar aja kan mengingat kepopuleran tempe yang melegenda di negara kita :) (di Bandung juga banyak yang jual keripik tempe). keripik buah juga jamak terdapat di kota-kota lain, biasanya nangka atau pisang. nah ini daftar buah (dan sayuran dan makanan lain) yang bisa disulap menjadi keripik yang aku temui di Malang (mungkin daftarnya lebih panjang karena aku belum keliling jauh). daftar ini tidak disusun berdasarkan urutan lahir, harga atau kepopuleran, cuma daftar aja :D mungkin tepatnya daftar keripik yang dijual.
tempe (tentu saja) ... talas... tahu... singkong... ketela ungu... sukun... pisang... nangka... kentang... bayam... gadung... terong... ikan... kulit ikan... paru sapi... usus ayam... (siap-siap, siap-siap, siap-siap! :D) apel... strawberry... buah naga... jeruk mandarin... melon... mangga... semangka... durian (paling mahal!)... nenas... rambutan... salak... kelengkeng... blewah... pepaya... wortel...kelapa.
gimana tuh ajaib gak? :D buat aku sih ini cukup ajaib :D soal rasa aku gak bisa komentar banyak... karena alasan kesehatan, aku mengurangi makan-makanan yang digoreng dan alasan kesahatan finansial (yang ini utamanya :D)... maka aku cuma sempat membeli keripik apel, melon, dan semangka. menurutku semuanya enak! (apa sih makanan yang gak enak buat aku :D) jadi meskipun sudah berubah wujud menjadi lebih tipis dan kering (padahal awalnya mereka adalah buah-buahan banyak air), rasa buah yang asli berhasil diperangkap dengan baik. mudah-mudahan juga khasiat dan manfaat buah-buahan tersebut tidak banyak hilang :) yang pasti adalah jenis makanan ini lebih tahan lama untuk disimpan dan lebih ringan untuk dibawa sebagai oleh-oleh.
kalo mo beli keripik buah... banyak dijual di pusat oleh-oleh, karena aku jalan gak jauh-jauh dari Stasiun, sekitar situ ada juga satu toko kecil yang jual pelbagai oleh-oleh khas Malang termasuk keripik buah. tapi kalo dari hasil penyelidikan daring menunjukkan ada banyak pusat oleh-oleh tersebar di Kota Malang, termasuk di daerah Batu. soal harga kayaknya semua tempat sama deh, beda-beda dikit dan gak bakal ketipu :D
sebenernya ada jauh lebih banyak varian kuliner yang disediakan di Kota Malang :) siapin aja dompet yang penuh dan perut yang kosong kalo mo nyobain semuanya :D dan waktu yang luang tentunya :)
sekian dulu deh ocehan galau jelang makan siang hari ini... mudah-mudahan bisa jadi inspirasi buat kamu yang berencana untuk berkunjung ke Malang.
selamat mencoba!
selamat makan siang! :)
tulisan jalan-jalan jajan
kalo ke toko buku, aku jarang punya target yang spesifik. maksudku, aku biasa membeli buku secara sporadis aja... kalo nemu yang bagus dan harganya cocok (baca: murah :D) ya langsung aku beli. aku juga tidak terlalu fanatik pada satu jenis buku tertentu, aku suka membaca, fiksi atau non-fiksi bukan masalah, kadang-kadang juga beli majalah.
mengawali bulan juni ini aku membeli lima buah buku... ringan-ringan dan tipis-tipis dan murah-meriah tentunya :D tapi jangan menilai buku dari tebal dan harganya! tiga dari lima buku yang aku beli tadi sore sebagian besar isinya adalah foto-foto... makanan! tiga buku ini aku lahap dalam sekejab. sebenernya ini bukan buku tentang makanan pertama yang aku beli, aku bahkan punya buku resep :D meskipun gak bisa masak aku kan suka banget makan.
yang paling mengejutkanku adalah... hamparan lebih dari 300 halaman penuh warna dari sajian-sajian khas nusantara ternyata sungguh menggetarkan jiwa! :D kelenjar air liurku bocor... tidak ada kalimat yang disajikan dalam tiga buku ini yang layak jadi "kutipan hari ini" :D tapi foto-foto yang disajikan bener-bener merangsang berahi laparku. mudah-mudahan malam ini aku bisa mimpi basah! basah mulut, maksudku :D
jadi ... buat kamu yang suka baca. kalo bosan atau capek dengan buku filosofis yang berat atau novel yang melelahkan, cobain deh membaca buku dengan tema kuliner lengkap dengan foto-foto panasnya! :D dijamin jam makan malam akan terlanggar!... waspadalah!
selamat membaca....
ps: buat para wanita yang masih jomblo, bukan rahasia lagi kalo "perut" adalah salah satu kelemahan kami kaum pria... jadi siapa nih yang tertarik mo bawain aku makanan minggu ini? :D
mengawali bulan juni ini aku membeli lima buah buku... ringan-ringan dan tipis-tipis dan murah-meriah tentunya :D tapi jangan menilai buku dari tebal dan harganya! tiga dari lima buku yang aku beli tadi sore sebagian besar isinya adalah foto-foto... makanan! tiga buku ini aku lahap dalam sekejab. sebenernya ini bukan buku tentang makanan pertama yang aku beli, aku bahkan punya buku resep :D meskipun gak bisa masak aku kan suka banget makan.
yang paling mengejutkanku adalah... hamparan lebih dari 300 halaman penuh warna dari sajian-sajian khas nusantara ternyata sungguh menggetarkan jiwa! :D kelenjar air liurku bocor... tidak ada kalimat yang disajikan dalam tiga buku ini yang layak jadi "kutipan hari ini" :D tapi foto-foto yang disajikan bener-bener merangsang berahi laparku. mudah-mudahan malam ini aku bisa mimpi basah! basah mulut, maksudku :D
jadi ... buat kamu yang suka baca. kalo bosan atau capek dengan buku filosofis yang berat atau novel yang melelahkan, cobain deh membaca buku dengan tema kuliner lengkap dengan foto-foto panasnya! :D dijamin jam makan malam akan terlanggar!... waspadalah!
selamat membaca....
ps: buat para wanita yang masih jomblo, bukan rahasia lagi kalo "perut" adalah salah satu kelemahan kami kaum pria... jadi siapa nih yang tertarik mo bawain aku makanan minggu ini? :D
Langganan:
Postingan (Atom)