30 Juli 2012

solo opo duo?

dulu... aku pernah bermimpi bisa jalan-jalan keliling dunia (atau paling tidak keliling nusantara :D) dengan pasangan :). tapi itu dulu. sekarang, paling tidak untuk saat ini dan dalam waktu dekat sepertinya aku lebih memilih untuk solo-traveling :D ...entah nanti!

dari pelbagai pengalaman (yang sebenernya tidak begitu banyak pula :D), jalan-jalan bersama keluarga, rombongan teman kuliah, temen satu geng, pacar, temen dekat, dan (akhir-akhir ini) seorang diri... sepertinya secara umum perjalanan seorang diri adalah yang paling pas buatku. jalan-jalan sendiri emang tidak berarti nihil masalah, tapi paling tidak nilai suka-nya jauh lebih tinggi dari nilai duka-nya :D

salah seorang backpacker idolaku pernah membahas untung-rugi jalan-jalan bersama pasangan dalam blognya (bisa dibaca di sini). intinya beliau ini tidak memberikan jawaban yang absolut, karena emang liburan adalah sebuah pilihan pribadi yang subyektif. jalan-jalan bersama pasangan bisa jadi momen yang tak terlupakan... indah atau buruknya :D tergantung dari mereka yang akan menjalani. beliau sendiri memberikan beberapa tips bagi anda yang sedang merencanakan sebuah liburan bersama pasangan. (sekali lagi bisa dibaca di sini)

tetapi... sekali lagi ini cuma pandangan pribadi yang sifatnya subyektif dan sangat labil :D... tetapi, untuk saat ini, berdasarkan pengalaman pribadi aku tidak menganjurkan anda berjalan-jalan bersama pasangan anda :) kecuali anda sudah sangat yakin dengan takdir bersamanya selamanya (lebay :D). tanpa bermaksud seksis, menurutku laki-laki atau perempuan (bila sudah merasa cukup percaya diri) lebih baik memilih jalur karir solo-traveling. dan opini aku ini ternyat diperkuat olah salah satu survey yang menunjukkan pasangan kerap bertengkar dalam perjalanan wisata (TravelKompas). alhamdulillah banyak yang mendukung aku :D

tetapi (lagi)... jauh di dasar hatiku (ceileee :D) aku masih berharap bisa nemu pasangan yang sehati-seotak dalam menikmati perjalanan. :) tidak mudah tampaknya, karena aku sadar diri juga :D tapi tidak-mudah kan tidak-berarti tidak-mungkin! :)

ehm, kalo masih galau antara karir solo atau duo, mungkin sebaiknya ikut band-traveling aja. kualitas suara bukan masalah, yang penting jago nari dan tampang oke! semoga berhasil! :D

selamat sahur ya!...

ramah dan bahagia (dan toleran)

Menurut Lonely Planet, Indonesia termasuk dalam daftar "Negara-negara Teramah di Dunia" (TravelKompas). Negara-negara tersebut termasuk Fiji, Samoa, Amerika Serikat (?), Malawi, Turki, Skotlandia, Irlandia, Thailand, dan Vietnam. Sementara menurut studi bertajuk Happy Planet Index, Kosta Rika merupakan negara paling membahagiakan di dunia (MediaTravelista). Daftar lengkap 10 negara negara paling membahagiakan di bumi: 1. Kosta Rika; 2. Vietnam; 3. Kolumbia; 4. Belize; 5. El Salvador; 6. Jamaika; 7. Panama; 8. Nikaragua; 9. Venezuela; dan 10. Guatemala. ada yang unik... ini daftar 10 negara paling tidak ramah kepada wisatawan dari polling online Skyscanner: 1. Prancis; 2. Rusia; 3. Inggris; 4. Jerman; 5. Lainnya; 6. China; 7. Amerika Serikat (?); 8. Spanyol; 9. Italia; 10. Polandia. (MediaTravelista)

kita semua dapat berdebat panjang lebar soal metode survey dan tingkat kesahihannya, tetapi paling tidak sebuah survey memberikan sedikit gambaran mengenai suatu fakta. nah, menarik ya menemukan satu negara digolongkan ke dalam dua golongan yang bertolak belakang (meskipun data diperoleh dari dua sumber yang berbeda), yaitu Amerika Serikat. :) mungkinkah ada definisi "ramah" yang berbeda? mungkin juga disebabkan oleh sebaran responden yang berbeda? tetap saja buatku ini menarik, karena sebagian besar penduduk dunia sepertinya belum sepakat apakah Amerika Serikat termasuk negara yang ramah atau sebaliknya :D ...aku pribadi belum pernah ke Amerika Serikat :D tapi kalo ada yang tanya... menurutku penduduk Amerika Serikat (mungkin) adalah penduduk yang ramah, tetapi sialnya mereka hidup di bawah pemerintahan yang tidak ramah. :)

satu lagi temuan yang menarik adalah irisan populasi 10 negara ramah dan bahagia adalah Vietnam. :) alhamdulillah bang Rambo (orang Amerika Serikat nih!) sudah tobat, orang-orang Vietnam saat ini sudah lebih bahagia dan ternyata ramah-ramah lho! :) tidak sia-sia deh usaha keras industri perfilman Hollywood dan pemerintahan Amerika Serikat pada suatu masa untuk menyebar fitnah seputar kekejaman dan kebodohan rakyat dan negara Vietnam :D

menarik juga menemukan negara tercinta kita ini masuk dalam 10 besar negara ramah. aku sih percaya banget kalo orang-orang kita tuh paling ramah ama orang asing, khususnya bule! maaf, tapi aku merasa masih banyak orang kita yang ramah dengan bule hanya karena pertama, mengharapkan cipratan rupiah (atau mata uang asing) dan kedua, mental orang jajahan yang mendewakan wujud asing (banyak orang kita yang xenophillia :D). menarik juga karena penelitian lembaga studi Center of Strategic and International Studies yang dilansir Juni 2012 menunjukkan toleransi beragama orang Indonesia tergolong rendah. (Tempo) alangkah indahnya negara kita ini bila sifat ramah dan toleran berjodoh di hati semua warga negara kita :) Insya Allah semua akan bahagia!

tulisan ini emang cuma gutak-gatuk iseng :D jangan terlalu masukin hati ya... tapi dipikirin pake otak! :D

29 Juli 2012

lagu santai Jack Johnson

(dari wikipedia)

lazy song tuh bukan lagu pemalas, siapa tuh yang nyanyi? anak muda yang itu tuh! :D mau dengerin lagu santai yang sejati... bukan cuma satu lagu lho, tapi seluruh lagu! dengerin lagu-lagunya Jack Johnson deh! bahkan lirik-lirik yang penuh kritik sosial pun bisa dibawakan dengan santai dan terdengar malas oleh beliau ini :D. mo ngungkapin cinta lewat lagu? lagu sederhana penuh pesan buat anak-anak? lagu pengantar tidur? lengkap deh... nonton klip gratisnya di YouTube!

idealnya album-album dari bang Jack ini didengerin sambil tidur-tiduran atau nongkrong santai di tepi pantai... beuh, surgawi banget deh! :D dan begitu pulalah dahulu aku "menemukan" lagu-lagunya... sekarang aku lagi dengerin lagu ini:

"Broken"

With everything ahead of us
We left everything behind
But nothing that we needed
At least not at this time
And now the feeling that I'm feeling
Well it's feeling like my life is finally mine
With nothing to go back to we just continue to drive
Without you I was broken
But I'd rather be broke down with you by my side
I didn't know what I was looking for
So I didn't know what I'd find
I didn't know what I was missing
I guess you've been just a little too kind
And if I find just what I need
I'll put a little peace in my mind
Maybe you've been looking too
Or maybe you don't even need to try
Without you I was broken
But I'd rather be broke down with you by my side
With everything in the past
Fading faster and faster until it was gone
Found out I was losing so much more than I knew all along
Because everything I've been working for
Was only worth nickels and dimes
But if I had a minute for every hour that I've wasted
I'd be rich in time, I'd be doing fine
Without you I was broken
But I'd rather be broke down with you by my side

dari album Sing A Long and Lullabies.

selamat puasa di hari yang santai ini! :)

Medulla Sinculasis: Suatu Hari di Bulan Desember

ini adalah judul novel, anak pertama yang dilahirkan oleh Paox Iben Mudhaffar, diterbitkan oleh Institut Rumah Arus (IRuS) pada Januari 2011. aku lupa apa judul novel lokal terakhir yang aku baca :D bukannya sombong, emang kebetulan aja tiap kali aku belanja buku yang sesuai minat (dan sesuai pagu anggaran) biasanya novel terjemahan :)

mari merunut dari halaman pertama. sialnya novel ini diberi kata pengantar oleh George Junus Aditjondro (masih inget kan dengan bapak yang satu ini dengan buku-bukunya yang sensasional)... maaf, aku tidak bermaksud merendahkan kapasitas intelektual bapak dosen yang bergelar Doktor ini :D. sial yang aku maksudkan adalah sang pengantar ini terlalu jahat "membocorkan" banyak elemen cerita yang penting dalam novel ini! meskipun, di sisi lain ada banyak juga konteks budaya yang (mungkin) sebaiknya kita (paling tidak) ketahui sebelum membaca teksnya. tapi, saranku... lebih baik melewatkan saja bagian pengantar novel ini dan membacanya kelak setelah menamatkan ceritanya :)

novel ini menurutku adalah curahan hati sang penulis yang difiksikan :) tapi bukankah semua novel adalah begitu? :D melalui karakter utama, Nuruda, sang penulis menuturkan pandangan kritisnya tentang konsep pembangunan di Indonesia secara umum dan di Pulau Lombok khususnya. tanpa basa-basi, Paox Iben bahkan tidak selalu berusaha menyamarkan nama daerah, lembaga atau tokoh asli yang dikritiknya. novel semacam ini sebelum 1998 bisa dipastikan berbuah penjara bagi penulisnya :D. menariknya adalah penerbitan novel ini mendapat dukungan (dalam bentuk yang tidak disebutkan oleh penulis) dari Pemerintah Daerah NTB, meskipun sebagian besar pesan dan kritik sosial dalam novel ini ditujukan kepada mereka :)

dalam menuturkan kisahnya, Paox Iben banyak memakai kacamata-sinis dalam memandang persoalan pembangunan di Indonesia. mengungkapkan aib bangsa pastinya bukanlah suatu hal yang membanggakan, tetapi kenyataan terkadang harus disuarakan dengan lebih lantang, karena banyak pemimpin kita yang rada rabun jauh dan atau terganggu pendengarannya. sulit atau enggan melihat kepada dan menulikan diri dari rintihan penderitaan rakyat. melalui novel ini penulis sepertinya ingin menawarkan "dunia seni" sebagai salah satu alternatif jalan keluar permasalahan bangsa. meskipun, penulis juga tidak menafikan fakta bahwa ada pula seniman yang sudah "menggadaikan" dirinya kepada penguasa dan pengusaha.

unsur cinta mendapat porsi yang lumayan besar dan berpengaruh dalam novel ini. meskipun, sekali lagi tidak luput dari kelindannya dengan kritik-kritik sosial yang ingin disampaikan oleh sang penulis. beberapa bagian cerita yang memuat cerita cinta (dan berahi) Nuruda, menurutku justru memanusiakan dan membumikannya sebagai seorang lelaki muda.

suara penulis yang lebih lugas dan konteks yang melatari penulisan novel ini dapat dibaca pada bab Prohibitus dan Ucapan Terimakasih pada bagian akhir buku ini.

secara umum... novel ini cukup menarik, menurutku. isi dan pesannya mungkin tidak terlalu berani dan unik lagi untuk jaman sekarang (pasca runtuhnya orde baru) di Indonesia. bagaimanapun, memanfaatkan karya fiksi untuk menyampaikan kritik sosial adalah cara yang menarik dan kreatif. tetapi aku suka cara tutur novel ini dan bahasa yang digunakan cukup berisi dan padat (meskipun ada juga sedikit bagian yang rada gaol dan tentu saja ada salah edit :D). tidak rugi untuk dibeli dan dimiliki :) tapi, bukan juga rekomendasi utama untuk dibaca :D

selamat pagi! :)

28 Juli 2012

Kebudayaan dan Masyarakat

tulisan ini adalah prasyarat-pribadiku untuk rencana beberapa tulisan setelah ini. demi... sekali lagi demi sebuah tulisan, aku merelakan kebebasan bernafasku kepada debu-debu sejarah yang sudah terakumulasi dari tahun 1999 pada lembaran-lembaran buku Sosiologi: Suatu Pengantar karya Soerjono Soekanto. tulisan ini dikerat secara kasar dan semena-mena dari Bab IV buku tersebut. Sosiologi adalah salah satu kuliah pengantar pada awal semester di FISIP yang sangat menarik dan berkesan, buatku. meskipun secara teoretis dan untuk kepentingan analitis, masyarakat dan kebudayaan dapat dibedakan dan dipelajari secara terpisah, sosiologi dan antropologi... tapi, tak perlu kiranya menambah penderitaanku dengan kewajiban mengutip pula buku Pengantar Antropologi karya Koentjaraningrat yang tumpukan debunya tidak kalah tebal. jadi, selamat mengendus lendir-manfaat dari penderitaan-sinusku! :D

Masyarakat dan Kebudayaan adalah dwitunggal. Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Jadi, masyarakat kudu memiliki kebudayaan dan kebudayaan memerlukan masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya. (hal. 187)

Kata "kebudayaan" berasal dari (bahasa sansekerta) buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata "buddhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai "hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal." Adapun istilah culture yang disamaartikan dengan kebudayaan, berasal dari kata Latin colere. Artinya mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau bertani. Dari asal arti tersebut yaitu colere kemudian culture, diartikan sebagai segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam. (hal 188)

Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya meliputi kebudayaan jasmaniah, teknologi dan kebendaan yang digunakan oleh manusia. Rasa meliputi jiwa manusia, mewujud dalam kaidah-kidah dan nilai-nilai sosial. Dan cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat. Rasa dan cipta dinamakan pula kebudayaan rohaniah. (hal 189)

Super-culture berlaku bagi seluruh masyarakat. Culture(s) merupakan penjabaran dari super-culture yang mungkin didasarkan pada kekhususan daerah, golongan etnik, profesi, dan seterusnya. Sub-culture adalah kebudayan-kebudayaan khusus yang berkembang di dalam culture dan tidak bertentangan dengan kebudayaan "induk." Apabila kebudayaan khusus tadi sifatnya bertentangan, maka gejala tersebut disebut counter-culture. Counter-culture tidak selalu berarti negatif, karena mungkin kebudayaan induk dianggap kurang dapat menyerasikan diri dengan perkembangan kebutuhan. (hal 190-191)

Antropolog C. Kluckhohn menyimpulkan adanya tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai cultural universals: 1. peralatan dan perelngkapan hidup manusia; 2. mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi; 3. sistem kemasyarakatan; 4. bahasa lisan; 5. kesenian; 6. sistem pengetahuan; dan 7. religi (kei: menarik nih mengamati konsep sistem kepercayaan sebagai produk manusia :D) (hal 192-193)

Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Teknologi atau kebudayaan kebendaan melindungi diri manusia terhadap lingkungan alam, memanfaatkan bahkan menguasai. Kaidah-kaidah kebudayaan mengatur hubungan antar manusia dalam masyarakat, atau designs for living (garis-garis atau petunjuk dalam hidup) menurut istilah Ralph Linton. Setelah dapat hidup dalam suasana damai, kebudayaan mewujud sebagai wadah ekspresi perasaan manusia, misalnya dalam kesenian. (hal 194-199)

Setiap kebudayaan memiliki sifat hakikat yang berlaku umum bagi semua kebudayaan manapun juga:
1. Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia.
2. Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3. Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah-lakunya.
4. Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan. (hal 199-200)

Faktor kebudayaan merupakan salah satu pengaruh besar dalam pembentukan kepribadian. Beberapa tipe kebudayaan khusus yang nyata mempengaruhi bentuk kepribadian:
1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan.
2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda (urban dan rural ways of life).
3. Kebudayaan khusus kelas sosial.
Kebudayaan khusus atas dasar agama.
5. Kebudayaan berdasarkan profesi. (hal 206-208)

Kebudayaan bersifat dinamis. Gerak kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup di dalam masyarakat, gerak yang disebabkan oleh hubungan antar kelompok manusia di dalam masyarakat. Akulturasi terjadi bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing yang berbeda sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu dengan lambat-laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. (hal 210)

demikianlah kiranya ringkasan Bab IV dari buku Sosiologi: Suatu Pengantar karya Soerjono Soekanto dari Penerbit PT RajaGrafindo Persada, cetakan ke-28, 1999. sekilas terkenang kuliah pengantar sosiologi, bapak dosen yang super sabar dan ramah melawan kelas yang riuh... dan minat-ganjilku untuk duduk di barisan kursi depan :D terima kasih Pak Nukman untuk ilmu yang sangat bermanfaat dan nilai A-nya! :)